38. Nara: Aruna yang Bodoh

952 134 27
                                        

Roma, 40 C.E

Aroma kental anggur dan madu memenuhi seluruh lorong persembahan, berpuluh-puluh pes jauhnya, terbungkus dengan rapih oleh aroma parfum yang menguar dari jarak yang kurang lebih sama.

Di sampingku, Mirja menyeringai.

"Aroma mereka jauh lebih sedap dibanding persembahan sebelumnya, ya, kan?"

"Sama saja untukku."

Mirja menggeleng. "Kau tidak tahu bagaimaa caranya bersenang-senang."

Sungguh, aku tidak bisa mengerti di mana bagusnya perempuan. Otak mereka didesain oleh kaum lelaki untuk hanya menjadi pengisi rumah, pelayan suami, dan perawat anak-anak. Jika mereka tidak—atau belum, pada beberapa kasus—menemui tiga akhir itu dan bernasib cukup sial ... katakanlah, mereka akan terdampar di sini.

"Lima, persis sepeti yang kita minta, di waktu yang lebih awal." Mirja bersiul. "Kuharap kualitas mereka sesuai yang dijanjikan."

Senyum tolol itu masih saja betah bertengger di bibir Mirja. Senyum yang maksudku mengesankan seakan dia mengatakan kepada seluruh dunia: "Saksikanlah aku, agungilah aku, dan pujalah kerikil di bawah kakiku!"

Demi Matahari yang terbit dari timur, satu-satunya hal yang bisa dipuja dari makhluk bodoh ini adalah kematiannya.

"Harus." Berlawanan dengan ketidak tertarikan yang saat ini kurasakan, tekad dalam diriku sekeras batu. "Atau akan kubuat kematiannya lebih cepat."

"Apa itu?" Mirja menyeringai. "Apa telingaku sudah menipuku atau kau memang tertarik, Saudara?"

Tidak peduli berapa abad babi kecil ini mengekoriku dengan maksud antah berantah, aku tidak akan terbiasa dengan panggilan menggelikan itu!

Tidak adil, jika ada keluhan manusia yang bisa kupakai, itulah satu-satunya. Sistem saudara lewat penamaan sejak lahir adalah salah satu contoh ketidak adilan. Hanya karena dinamai oleh pria tua yang sama, kami jadi saudara.

"Tidak." Kurasa ini kali keseratus dua puluh kalinya aku mengulang jawaban. "Tapi seorang Kaisar dari kerajaan sebesar Roma sudah sepatutnya berterima kasih kepada orang yang membawakan seluruh Mauretannia kepadanya, kan?"

Seringai Mirja bertambah lebar. "Benar, aku berharap apresiasi yang pantas untuk rasa lelah kita."

Kita?

Dia, orang yang duduk dengan santainya di kejauhan—bahkan tidak berada di garis belakang—menikmati semua kerja kerasku dari tempat aman dan nyaman di sisi Kaisar, berani-beraninya mengakui perburuan besar-besaranku sebagai miliknya juga?

Ajaib sekali aku tidak lagi menyambar dan membunuhnya sekarang.

"Kau tahu di mana bocah itu tidur bersama simpanannya setiap malam, kenapa bertanya seolah dirimu khawatir?"

Konyol juga bertanya kepadanya. Mirja tidak punya kapasitas berpikir yang cukup di sela-sela otaknya yang hanya dipenuhi cara bersenang-senang dan menikmati waktu.

"Wanita mungkin cangkang kosong, tapi mereka mainan yang cukup menyenangkan."

Mengejutkan menyadari aku hampir kasihan pada wanita-wanita—manusia maupun bukan—yang pernah dicicipi Mirja.

"Kau tidak mau ambil bagian, kalau begitu?"

Bukankah itu sudah jelas? "Aku sudah berburu."

"Ah ya, pertikaian membosankan dengan besi yang mereka sebut pedang dan perisai itu," Mirja mendengus geli seraya melangkah maju. "Jika aku ada di sana, kau mungkin tidak akan kebagian jatah. Kau seharusnya menghargai kebaikanku. Perburuanmu tidak akan menyenangkan jika aku merebut semuanya kan?"

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang