12. Aruna, Agatya, dan Spesies Langka

1.1K 167 15
                                        

Selama beberapa lama, aku hanya bisa mematung.

"Lo ... tau soal itu?" tanyaku memastikan. "Soal agatya ... dan tragedi yang pertama kali terjadi."

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Ratna. Daripada bersuara, ia lebih memilih mendongak, menatap langit biru yang dengan kejam tak peduli pada keadaan kami di bawah sini. Aku mengikuti arah pandangnya, melihat awan berarak indah di langit cerah.

"Kamu tahu, Eka? Aku hampir tidak bisa merasakan lelah." Cara bicara Ratna berubah formal. "Satu-satunya tanda yang bisa aku tahu saat tubuhku lelah hanyalah pandangan yang mulai berkunang-kunang. Kadangkala, aku terlambat sadar dan malah pingsan, merepotkan semuanya." Kedua tangan Ratna sekali lagi saling bertautan erat. "Aku selalu merepotkan mereka dalam banyak hal: lelah, sakit, terluka, bahkan lapar dan haus. Satu-satunya yang membuatku lega adalah aku bukan orang pertama yang mengalami ini dan ... aku tidak merepotkan mereka seperti aku merepotkan guruku."

"Guru?"

Ratna tersenyum sedih saat mengangguk. "Dia guru yang baik. Darinya aku belajar banyak hal, termasuk asal-usul bagaimana aku bisa lahir seperti ini."

Tanpa sadar, aku berhenti bersandar pada tembok, tertuju sepenuhnya pada Ratna dan cerita yang akan ia bawakan.

"Guruku bilang, pernah ada kaum abadi yang tinggal di daerah-daerah yang sulit dijangkau manusia biasa. Mereka hidup damai dalam keteraturan. Mereka juga ramah kepada semua makhluk termasuk manusia. Selama hidup, mereka mengenal dua aturan: jangan menumpahkan darah, dan jangan beritahukan nama sejatimu kepada siapapun."

"Nama sejati...." gumamku. "Kayak yang dimiliki para Aruna?"

Ratna mengangguk. "Tidak ada yang tahu apa itu nama sejati atau apa itu kekuatan sebuah nama. Mereka hanya tahu peraturan yang menyertai sebuah nama sejato, sebuah aturan yang melekat pada Kaum Abadi entah sejak kapan. Mereka akan merespon saat nama sejati mereka dipanggil sekalipun berada di belahan dunia lain. Tidak akan ada nama sejati yang sama. Tidak akan ada yang terulang."

Mata Ratna menerawang ke angkasa. "Tidak ada yang tahu dari mana Kaum Abadi berasal. Namun menurut kepercayaan saat itu, mereka adalah keturunan langit yang dibuang ke bumi, karena itulah masih memiliki nama sejati. Ada juga yang bilang mereka juga manusia tapi dalam sub-ras yang berbeda. Entah mana yang benar."

"Lalu ... apa hubungannya manusia abadi ini dengan Aruna?'

"Merekalah asal muasal kaum Aruna." Selagi aku terkejut, wajah Ratna menggelap. "Mereka dilarang menumpahkan darah bukan tanpa alasan. Mereka dilarang berperang dan menumpahkan darah karena darah mereka beracun bagi dunia ini. Tapi mau legenda bilang keturunan dewa sekalipun, mereka tetap saja manusia. Tetap saja berperang pada akhirnya. Dan mereka terbukti ... tidak terlalu abadi."

Ratna meminum seteguk air di gelasnya. Ditatapnya air di dalam gelas itu.

"Darah kaum abadi yang jatuh ke tanah, mencemari semuanya. Air, tanah, tumbuhan, hewan, bahkan manusia. Itu era yang gelap. Banyak manusia yang mati, kaum abadi yang saling berperang sampai musnah, monster yang bermunculan, dan tumbuhan yang beracun ... hingga akhir dari era itu, kaum abadi berada di ambang kepunahan.

Sedikit dari kaum abadi yang bertahan mencoba menghentikan kekacauan yang dibuat pendahulu mereka. Dengan tangan sendiri mereka membunuh para monster yang berkeliaran, kecuali satu monster."

Sesuatu mencubit lambungku. "Jangan bilang kalau monster yang dimaksud di sini...."

"Aruna." Ratna membuktikan ketakutanku. "Salah satu binatang yang terkena imbas dari darah kaum abadi." Ia menatap tanah. "Guruku bilang, Aruna tidak lebih dari cacing tanah biasa sebelum darah para kaum abadi mencemari bumi."

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang