Basis Aruna, kota Jakarta, Empat Puluh Menit sebelumnya
Rasa sakit itu mencambukiku keras-keras, langsung di detik pertama kedua mataku terbuka.
Sambil meringis kesakitan, aku kembali memejamkan mata kuat-kuat. Kedua tanganku ditekan ke wajah, menghalangi sisa-sisa cahaya menyakitkan sekecil apa pun masuk. Sementara tubuhku berguling dengan cepat ke samping selayaknya orang yang kesakitan.
Tubuh yang tersengat suhu panas nan aneh, kenangan akan rasa sakit, serangan memori yang bertubi-tubi, visi yang mendadak berubah penuh warna aneh, suara gemerisik di kepala yang terdengar sekeras suara ledakan, aroma asing, dan otot yang terasa nyeri, berbagai impuls membombardir seluruh inderaku tanpa ampun. Mereka menyerang di saat yang nyaris bersamaan, bahkan sebelum pikiranku mampu mengumpulkan kepingan kesadaran yang tercerai berai entah ke mana. Napasku tersengal saat menerima mereka semua. Kewalahan.
Ratusan bahkan rasanya jutaan dengung statis terdengar bersahutan dalam kepalaku. Suara-suara itu sangat keras dan dekat, seakan diteriakkan langsung dari dalam kepala. Pikiranku mencoba untuk fokus, mencoba menyingkirkan satu saja dengung itu, tapi percuma. Jangankan pergi, berkurang pun tidak. Mereka tetap ada di sana. Tetap terdengar. Tetap tak dapat diam.
Sialan. Entah umpatan itu keluar dari mulut atau hanya dalam pikiran, aku tidak tahu pasti. Isi kepalaku terlalu berisik dan aku tidak memiliki banyak informasi untuk diolah selain baru saja sadar dan dalam keadaan yang luar biasa kacau.
Aku mencoba menarik napas. Mencoba menenangkan diri, tapi aroma aneh itu memenuhi hidungku, mengisi seluruh penciumanku dengan bau yang ... familiar. Bau dari sesuatu yang benar-benar kubutuhkan saat ini.
Mangsa.
Makan semuanya.
Suara itu bergema dalam bunyi yang anehnya terdengar sangat jelas di telingaku. Entah bagaimana, di antara banyak dengung statis, suara itu sanggup menyusup dan terdengar jelas. Dan meski tidak bisa kukenali suara lelaki atau perempuan, suara itu terdengar begitu sayang untuk ditolak. Terlalu lembut untuk diabaikan. Dalam sekejap, ia memiliki kendali mutlak atasku.
Aroma yang lebih beragam masuk, memutar otakku untuk segera mengenalinya. Ada aroma lain yang berbaur di udara, menyatu dengan aroma mangsa.
Aroma dari para pengganggu.
Bunuh mereka semua.
Benar, bunuh para pengganggu. Telan seluruh mangsa.
Cakarku teracung. Niatan untuk mencabik-cabik siapapun yang sudah berani memberiku rasa sakit sudah terukir jelas dalam kepalaku sebelum kemudian, kenangan itu menguap secepat asap.
Jangan sisakan satu pun.
Ya, tentu saja. Aku tidak akan menyisakan satu pun.
Tepat saat aku akan bergerak, rasa sakit aneh mendadak menyengat leherku.
***
Kedua mataku membuka dengan kaget. Mengerjap kaget mendapati tidak ada rasa sakit yang menghampiri seperti tadi saat aku pertama kali membuka mata. Sedetik kemudian barulah aku sadar, telah berada dalam kegelapan.
Tanganku membeku di udara. Lima jariku membuka, mencoba menggapai udara kosong.
"Nyaris saja kukira kamu mengigau."
Visi yang tadinya buram, kini dipenuhi berbagai warna. Aku mencoba mengenali warna-warna itu, mendapati spektrum warna merah sampai dengan hijaulah yang tampak paling jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampiros[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
