48. Ratna: Against The King

815 125 12
                                        

Jogjakarta, Tiga Jam Sebelumnya

Kukira Jogjakarta sebagai ibukota keadaannya akan sedikit lebih baik dari kota lain yang telah tak dihuni.

Tapi kenyataan yang kudapat justru pos checkpoint yang kosong.

Ikut bersembunyi bersama pasukan tuan Ananta yang lain, aku mengamati tembok checkpoint jalur darat Jogjakarta yang kosong melompong. Angin yang berembus seiring dengan awan mendung yang datang membawa aroma darah kental yang langsung mengendap di ujung-ujung lidahku.

Sesuatu sudah terjadi.

Dari jarak satu kilometer di luar checkpoint, tidak banyak yang bisa dilihat selain pepohonan yang sedikit menghiasi satu jalan utama menuju Jogjakarta.

Di hari-hari biasa, aku akan memuji keasrian tempat itu dan bagaimana semua pohon itu dapat terpelihara setelah berabad-abad dan tiga perang penuh darah. Tapi hari ini, aku harap semua pohon itu ditebang saja. Memang mataku masih bisa melihat ke celah-celah dedaunan dan ranting mereka yang padat, tapi celah sekecil itu tidak menghadirkan cukup visi untuk mengetahui kondisi di dalam kota. Yang bisa kulihat hanya sebuah petak kosong tanpa ada tanda-tanda manusia apa pun.

Aku mulai mendaftar hinaan yang kuhapal, tanpa sadar menggigit bibir dalam prosesnya.

"Bau kematian ya?" Ghalih muncul di sampingku, ikut mengamati. Keningnya tidak berkerut, tapi ekspresinya mencerminkan kecemasan: salah satu ekspresi yang tidak memakan banyak waktu bagiku untuk mempelajarinya.

"Sesuatu terjadi di sana." Tanganku mulai mencakari satu sama lain selagi bertautan. "Entah Albert dan yang lain yang menyebabkannya atau...."

Kekhawatiran menggumpal dalam dadaku. Adit ikut ke dalam rombongan itu, tidak ada kabar darinya hingga kini, dan kami disuruh menunggu di sini sampai situasi aman untuk menjalankan strategi, sebuah strategi yang jelas tidak mengikut sertakan aku ke dalamnya.

Dentum keras berbunyi di kepalaku, mengguncang semua ketenanganku sampai ke akar-akarnya. Dengan situasi sekarang dan kemungkinan buruk yang mungkin telah terjadi, dentam tak sabar di kepalaku semakin tak bisa dibendung, memakan semua ketenangan dan akal sehat yang berusaha tetap ada dalam kepalaku.

Apa kiranya yang menyebabkan perangkat komunikasi Albert dan yang lain lenyap begitu saja?

Satu tangan menyentuh bahuku, menepuk-nepuknya. Aku membalas genggaman tangan itu tanpa menoleh, tahu siapa yang menyentuhku tanpa perlu menoleh.

"Adit baik-baik saja," Ghalih menepuk bahuku. "Daripada mencemaskan dia terus menerus, Kakak harusnya memeriksa luka di kepala Kakak itu."

Kuberikan satu senyum yang—kuharap—cukup menenangkannya. "Ratna nggak apa-apa." Perban ini cukup kuat bagiku untuk merasa baik-baik saja.

Pulih atau tidaknya sebuah luka sebenarnya tidak begitu berpengaruh pada orang yang tidak bisa merasakan sakit sepertiku, tapi karena hanya aku yang diperban di kelompok ini, tubuhku jadi tampak sebagai yang paling rapuh.

Padahal daripada luka ini, kesadarankulah yang lebih mengkhawatirkan. Perlu lebih dari setetes tenaga untuk menjaga kesadaran dan tetap berdiri sekarang ini. Ditambah impuls kuat untuk menolong Adit sekarang ini, aku sendiri tidak bisa menilai berapa lama kesadaran ini akan tetap diam pada tempatnya dan tidak ikut menyusul Arka.

"Jangan bohong." Ghalih memukul pelan kepalaku, memerah kesabaranku lebih banyak dari seharusnya. "Aku masih bisa cium bau darah dari kepala—

"Beneran aku nggak apa-apa, Ghalih."

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang