5. Maraditya: Tirai yang Tersingkap

1.3K 174 36
                                        

[PRAKATA]

Di Blood and Faith bab 19. Musuh dalam Selimut terdapat cacat logika. Saya ingin memperbaikinya, tapi mungkin baru bisa nanti siang atau sore. Harap dimaklumi ya. 


Taraksa, Lapisan Bawah Tanah Ke-1, 1998

"Sudah lama sekali ya, Yuda. Kapan terahir kali kita bertemu? Satu, lima, atau sepuluh tahun yang lalu?"

Pemuda itu diam, tak berniat menjawab sapaan kurang ajarku barusan.

"Ngomong-ngomong, ada apa? Jarang sekali sang prodigius datang ke sarangku yang hina ini. Apa kamu menemuiku secara eksklusif di sini menggantikan adikmu?"

Tadinya kukira, akan ada anak gadis kecil yang muncul di dalam satu sel yang sama denganku lagi. Tapi alih-alih sosok gadis kecil yang terlihat lemah, sosok seorang pemudalah yang muncul di hadapanku.

Benar juga, mana mungkin gadis kecil itu akan datang lagi? Dia sudah mencapai batasnya di pertemuan terakhir kami. Setelah lima kali gagal membunuhku tidak mungkin mereka akan memberikan kesempatan lagi kan?

Caiden yang kudengar bukanlah orang-orang yang akan bermurah hati hanya karena satu anak kecil.

"Ya, benar." Sosok tenang Ariyuda di hari itu sama sekali belum lekang di dalam ingatanku, pun dengan keheranan yang aku rasakan ketika melihatnya masuk ke dalam selku seorang diri tanpa terlihat waspada, berbeda dengan dirinya saat kami bertemu pertama kali.

Dengan tenang, dia menunjukkan banyak sekali celah pada pertahannya yang biasanya sulit ditembus. Dia dengan tenang menunjukkan tidak ada senjata apapun pada pakaiannya. Keberadaan perak pun tidak kurasakan dari dirinya. Memang untuk hematit lain soal dan seorang dari K3 sudah pasti tidak akan masuk ke tempat aruna tanpa membawa senjata.

Ada yang aneh.

"Ada apa? Tertawa saja!" Aku memaki entah kepada siapa. "Kamu mau menertawakan tindakan konyolku pada adikmu di pertemuan terakhir kami?"

Yuda diam.

"Ayolah! Jangan pura-pura dungu! Gosip menyebar seperti kebakaran hutan di kalangan manusia! Kamu pasti sudah mendengarnya juga kan?"

"Ya, aku sudah dengar." Sekali lagi Yuda menjawab tanpa menunjukkan ekspresi berarti.

"Lalu?" pancingku. "Kamu tidak punya hinaan yang cukup rendah untukku?"

"Aku tidak merasa harus menghinamu, Maraditya."

Sesuatu seperti menikam jantungku pelan-pelan ketika nama sejati itu disebut. Otot-ototku mengetat seperti dikekang pada pakaian yang terlalu ketat dan leherku tercekik. Kuberikan tatapan membunuh yang tidak main-main pada Ariyuda.

Eka keparat! Bocah itu pasti sudah memberitahukan nama sejatiku kepada si berengsek ini! Sialan! Seharusnya aku memang tidak memercayai manusia.

"Lalu apa?" Suaraku tidak ubahnya seperti orang tercekik. Efek dari penyebutan nama sejati itu memang menjengkelkan, tapi ini lebih baik daripada mendengarnya menyuruh-nyuruhku seenak jidatnya yang ngomong-ngomong tidak terlalu lebar itu. Ah pembicaraanku jadi melenceng! "Cepatlah bicara! Aku mau tidur lagi!"

"Tidak perlu terburu-buru. Aku berdiri membelakangi kamera jadi mereka tidak akan bisa membaca gerakan mulutku. Dan sistem perekam suara di ruangan ini sedang dalam masa perbaikan, jadi tidak akan ada yang bisa menguping pembicaraan kita."

Sebelah alisku terangkat tinggi-tinggi. Ini benar-benar aneh. Tidak biasanya Yuda bicara sepanjang ini. Selain itu ... apa maksudnya dengan kamera pengaman? Apa pedulinya dia soal keberadaan kamera-kamera itu?

Blood and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang