Telukawur, Jawa Tengah, 1865
"Sial!" Tinjuku menghajar pohon terdekat, mengugurkan ratusan daun dan belasan buahnya yang seukuran kacang polong. "Bajingan berengsek! Kaki tangan manusia! Makhluk rendah tidak punya otak!"
Frustrasi, aku menendang pohon itu sekuat tenaga. Menumbangkannya. Binatang-binatang menjerit. Burung-burung beterbangan. Para predator melarikan diri, terkaing-kaing, berlari ketakutan dari bahaya.
Sama sepertiku malam ini.
Kekalahan memalukan yang baru berlalu itu kembali diputar dalam kepalaku. Seolah-olah pertarungan itu terjadi lagi di depan mataku. Detik-detik saat wanita itu hampir saja menjadi milikku, detik-detik saat Klaus mendadak ikut campur, dan detik demi detik yang berlalu tanpa keberuntungan pernah berpihak kepadaku.
Ini bukan kekalahan pertamaku pada Klaus. Pria berotak udang itu tidak mendapat namaku begitu saja. Tapi untuk Zen, untuk kalah pada kelas rendah seperti dirinya, sama sekali tidak bisa diterima!
Tanganku mencengkam pohon terdekat, mencabutnya dari tanah, dan melemparkannya ke satu arah di dalam kegelapan.
"Keluar kau!" jeritku pada satu sudut itu, tepat ke arah telingaku mendengar detak jantung lain.
Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang menjawab seruanku. Meski demikian, suara detak jantung itu masih tetap ada.
"Selamat malam."
Aku berputar dengan cepat, hendak menerkam siapapun yang lancang menyapaku dari belakang secara mendadak, tapi kemudian gerakanku terhenti. Tepat di depan sosok yang baru saja berani menegur itu.
Gadis itu tidak lebih tua dari gadis yang gagal kuincar. Malahan, mungkin lebih muda.
"Maaf." Gadis itu membungkuk sopan. "Aku mendekat karena mendengar suara ribut. Aku sama sekali tidak bermaksud mengejutkan. Maaf muncul tiba-tiba."
Selagi gadis itu berceloteh tak berguna, mataku menyisir penampilannya. Wajah gadis itu tertutup bayangan jubah, tapi aku bisa melihat rambut hitamnya yang lurus panjang tergerai. Dari bagian depan jubah yang terbuka, aku bisa melihat satu baju terusan putih panjang yang bersih menutupi tubuhnya. Sandal jerami yang dikenakan gadis ini sudah rusak dengan tanah melumuri seluruh kaki dan tepian bajunya.
Untuk ukuran seorang gadis, ia kurus. Kulitnya memiliki rona gelap yang dimiliki para penduduk negara ini. Matanya bulat dengan warna hitam. Hidungnya kecil, tidak bengkok, tidak pula runcing.
Dilihat sekilas, ia tidak ada bedanya dengan gadis yang tidak sengaja tersesat dan sialnya berjumpa denganku di malam yang tidak begitu baik ini.
Namun instingku tidak semudah itu ditipu.
Terutama jika kenyataan mengatakan dengan jelas di depan mataku, gadis ini sama sekali tidak gentar.
Seolah-olah tidak memiliki rasa takut padaku, pada makhluk sepertiku.
"Kau ... siapa?" Kedua mataku memicing, mendelik tanpa repot beramah tamah. "Kau sama sekali tidak terkejut dengan mataku. Jadi kuasumsikan...." Kedua tanganku siap mematahkan lehernya. "Kau sudah tahu aku ini bukan manusia."
Gadis itu bergeming. Tidak melangkah pergi. Tidak berpaling. Tidak pula berkedip.
Percuma. Mau diduga sejauh apa pun, aku tidak bisa membaca ke mana situasi aneh ini akan bermuara. Ketenangan gadis itu dan angka nol besar pada pengetahuanku akan dirinya membuat situasi ini berada di luar kendali masing-masing dari kami.
Atau kemungkinan paling buruk ... hanya aku yang tidak bisa memegang situasi ini.
Gadis itu sekali lagi membungkuk. "Benar, aku sudah tahu siapa Tuan ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Destiny
Vampire[ARUNA SERIES #3] [Young Adult Fiction! Rated for Detailed Violence!] Aruna kini diburu untuk dimusnahkan. Mereka menjadi mangsa bagi predator baru yang lebih ganas dan tidak memiliki akal maupun hati nurani yang diciptakan oleh Yusriza Ganen...
