Amel masuk ke dalam kamar inap Andin. Sudah hampir setahun lebih dokter tidak tahu apa penyakit yang di derita oleh Andin. Tubuh Andin hanya mengurus karna terus melawan penyakitnya itu.
Dokter masuk ke dalam kamar inap Andin untuk mengecek keadaannya.
"Permisi, di periksa dulu ya"
"Silahkan dokter" jawab Bobby.
Dokter memeriksa Andin dengan teliti.
"Infusnya sudah bisa di buka, tapi ibu harus tetap di sini sampai keadaannya lebih membaik lagi. Saya keluar ya harus memeriksa pasien yang lain. Semuanya akan di tangani oleh suster" kata dokter keluar kamar inap Andin. Suster pun langsung mengambil peralatan untuk membuka alat infus.
Bobby menyusul dokter yang sudah berada di luar ruangan.
"Dok, sebenarnya apa penyakit ibu saya?"
Dokter menggeleng-geleng kepalanya dan memegang bahu Bobby
"Sampai sekarang saya tidak menemukan penyakit ibumu, saya tidak mau ibu kamu akan ketergantungan dengan alat infus itu terus"
"Tapi dok kapan ibu saya akan sembuh kalo seperti ini terus?"
"Entahlah, takdir sudah di atur oleh yang di atas. Permisi" dokter meninggalkan Bobby.
Bobby menyenderkan tubuhnya yang lemas dia tidak ingin ke hilangan Andin, dia belum siap menerima itu.
Dia membayangkan Andin, membandingkan saat Andin masih normal tidak memiliki penyakit sama sekali badannya masih berisi masih bicara dengan lancar. Sekarang beda dengan dulu badannya sudah kurus akibat melawan penyakitnya, setiap makan tidak pernah banyak. Dia teringat saat Andin merayakan ulang tahun Bobby pas saat dia akan pergi belajar di London.
Amel datang menghampiri Bobby yang bersandar lemas di tembok depan kamar inap Andin.
"Kak lo kenapa? Kok nangis? Ibu kenapa?" Bobby segera menghapus air matanya, dia tidak mau Amel tau supaya adik tersayangnya itu juga tidak menangis.
"Gak apa-apa, gue cuma kangen ibu kok Mel"
Amel membangkitkan tubuh kakaknya.
"Kak lo tenang aja ibu pasti sembuh kok"
Amel menggandeng tangan kakaknya ke dalam kamar inap itu di hampiri Andin yang sedang berbaring.
"Ibu janji kan ibu bakal sembuh?"
Andin tersenyum dan mengangguk.
"Tuh lo denger kak ibu bakalan sembuh"
Amel dan Bobby langsung memeluk Andin yang hanya bisa terus berbaring di tempat tidur.
Amel tau perasaan mereka, dia hanya berusaha menghibur dan tetap tegar yakin atas kesembuhan Andin.
---
Sudah seminggu Andin terbaring di atas kasur rumah sakit tanpa alat infus. Keadaannya bukan malah membaik melainkan tambah memburuk. Tubuhnya tambah kurus tidak berlemak hanya tulang saja yang di lapisi dengan kulit, keadaannya terus menurun.
Hari itu Andin tidak sadarkan diri, dokter memberi tahu anak-anaknya jika Andin akan koma dan harus di pindahkan ke ruang ICU.
Amel yang tahu Andin semakin parah pun hari-harinya semakin tidak berwarna dia lebih sering murung di tempat privasi nya yang sepi, sebuah bukit yang dekat dengan rumahnya.
Bobby yang tidak tahu lagi harus berbuat apa hanya menunggu Andin di luar ruang ICU dengan sabar. Mungkin sekarang Bobby yang sebagai kakak dari Amel akan terus terlihat tegar agar Amel tidak terlalu memikirkannya.
Sesekali Januar datang untuk menjenguk sang mantan istri tanpa sepengetahuan Amel. Setiap Januar masuk ke dalam ruangan itu bisa menghabiskan waktu selama ber-jam-jam bercerita sendiri tentang semua yang ingin dia ceritakan kepada mantan istrinya walaupun mantan istrinya itu tidak dapat mendengarkan.
"Andin kamu bangun"
"Andin aku minta maaf atas segalanya, aku menyesalkan akan semuanya"
"Aku waktu itu datang ngejenguk kamu ingin mengatakan semuanya Din"
"Aku sudah bercerai dengan Intan karna aku baru tahu jika sebenarnya dia bukan perempuan baik. Aku yakin kamulah jodoh ku sebenarnya"
"Aku ingin kembali seperti awal lagi Din. Aku janji akan buat kamu bahagia lagi, kamu harus sadar sekarang"
"Tolong sayang bangun. Anak kita terus bersedih dan terus menunggu kamu untuk sadar"
"Aku minta maaf jika semua ini memang salah ku"
Januar menangis tidak bisa tertahan lagi. Dia menangis di samping tempat berbaringnya Andin sang mantan istri. Sepertinya untuk menceritakan ini semua sudah terlambat.
Andin sudah tak berdaya di hadapan Januar, tidak terduga air mata menetes dengan matanya yang masih terpejam. Dia mendengar dan merasakan namun tak bisa melakukan apapun selain terbaring dan memejamkan matanya.
---
Amel berdiam diri di atas bukit memikirkan keadaan Andin sekarang yang tidak berdaya lagi. Hanya orang tua satu-satunya yang dia punya saat ini mengingat hubungan Amel dengan Januar yang memang tidak baik.
Sena tiba-tiba hadir di samping Amel yang sedang murung. Tidak di sengaja dia lewat rumah sakit itu dan melihat Amel keluar rumah sakit di ikutilah oleh Sena sampai ke bukit yang tak pernah Sena dapati ini.
"Hey," sapa Sena dari belakang Amel.
"Lo? Kok lo bisa..." Amel belum selesai menyelesaikan pembicaraan di potong.
"Bisa ke tempat privasi lo ini? Maaf kalo gue berani-beraninya dateng ke sini ganggu lo."
"Santai aja." jawab Amel sambil memandang pemandangan dari atas bukit.
Suasana menjadi sangat canggung di tambah Sena adalah orang yang telah Amel tolak tapi perjuangan Sena bukan hanya sampai disana, dia masih terus berjuang untuk mendapatkan hati Amel. Baginya Amel adalah perempuan yang sangat dia hargai dan sangat harus di perjuangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Always You? [Completed]
Teen FictionDalam berhubungan pasti sangat ingin untuk dihargai oleh pasangannya. Cepat bosan adalah hal yang tidak diinginkan oleh pasangan. Seiring berjalannya waktu karma pun pasti datang kepada orang yang telah menyia-nyiakan seseorang. Lalu, bagaimana upa...
![Why Always You? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/94018015-64-k386734.jpg)