Dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang putus asa, dia tidak dapat menyelamatkan Andin. Dokter sangat meminta maaf atas usahanya yang tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Amel langsung masuk menerobos dokter yang menghalangi pintu ruang ICU.
Bobby dan Januar hanya bisa melihat sikap Amel yang memang sangat sedih pastinya seperti perasaan mereka juga.
Seluruh tubuh wanita itu dari atas sampai bawah sudah di tutupi dengan selimut putih. Amel membuka sedikit selimut yang menutupi wajah Andin agar Amel bisa melihat wajah Andin untuk terakhir kali.
"Ibu bangun bu!"
"Amel yakin ibu gak mau kan ninggalin kita?! ibu pasti ingin kan normal lagi!"
"Buka mata ibu! Tunjukin ke orang-orang kalo ibu sadar lagi"
"Ibu tolong, Amel mohon bu sadar bu!"
"Amel gak mau di tinggalin ibu!"
"Ibuuu... AMEL SAYANG IBU!!!!"
Amel menangis, berteriak dengan sangat emosi mengeluarkan segala kesedihannya.
Rasanya sangat ingin Amel berteriak pada dunia, marah pada dunia.
Mengapa sosok ibu yang Amel banggakan harus pergi meninggalkannya?
Mengapa sosok ibu yang selama ini tinggal berdua dengannya harus pergi?
Mengapa sosok ibu yang wajahnya mirip dengan Amel harus pergi?
Mengapa tuhan mengambil nyawa sosok ibu yang sangat Amel banggakan?
Mengapa tuhan mengambil nyawa seorang ibu yang sangat menyayangi Amel?
Mengapa sosok ibunya harus pergi sebelum melihat Amel sukses?
Mengapa tuhan memberikan kesedihan yang sangat mendalam seperti ini?
---
Semua harapan Januar pupus lah sudah, dia tidak bisa dapat kembali lagi kepada mantan istrinya. Semua keinginan untuk bersama-sama menjalin kasih sayang dan merawat kedua anaknya pun hilang.
Januar tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap takdir yang sudah menentukan kapan orang akan pergi meninggalkan semua orang yang di sayangi dan yang menyayanginya.
Semua orang pasti akan pergi meninggalkan dunia ini tanpa mengetahui waktu kapan dia akan pergi.
Kesedihan tetaplah kesedihan, kepedihan tetaplah kepedihan. Seseorang yang memiliki harapan dan harapan itu hilang begitu saja pasti akan sangat terasa sakit.
Semuanya sudah terlambat. Januar hanya bisa menangis dan berdoa atas kepergian mantan istrinya itu.
Sakit rasanya mengingat kesalahan Januar yang telah sangat menyakiti Andin. Permintaan maafnya belum terdengar langsung oleh Andin.
Mungkin air mata yang di keluarkan Andin untuk Januar tadi adalah sebagai tanda air mata terakhir dan air mata perpisahan untuk Januar mantan suami yang masih dia sayangi.
Andin, perasaan ku kepada mu tetap lah sama seperti dulu pertama aku melihat kamu.
Mungkin memang ini karna kehadiran ku yang membuat keadaan mu makin memburuk.
Aku bukanlah lelaki yang patut di contoh.
Aku meninggalkan kamu begitu saja tanpa mempedulikan perasaan mu.
Terlambat sudah semua, terlambat aku menyadari semuanya.
Aku berjanji akan menjaga anak-anak kita dan memperbaiki kesalahan ku kepada anak-anak kita.
---
Pemakaman sedang di laksanakan, terlihat semua orang yang di kenal Amel datang melayat dan mendoakan Andin.
Sahabat Amel menenangkan Amel yang masih sangat di guyuri oleh kesedihan. Posisi Amel berjarak dengan Bobby dan ayahnya, karna dia masih sangat kesal, sangat membenci keduanya.
Rasanya hidup Amel akan sangat hampa, dia akan hidup sendiri dan tidak mungkin hidup bersama dengan Bobby dan ayahnya.
Pemakaman selesai pun Amel masih terduduk di samping makam Andin. Sahabat-sahabat Amel membujuk Amel agar ikut pulang tapi Amel tidak merespon.
Bobby menghampiri Amel, dan sahabat-sahabat Amel meninggalkan mereka. tidak tega dengan kesedihan yang di alami adiknya itu Bobby berusaha membujuk.
"Mel, ayo pulang."
Amel tidak menjawab ajakan Bobby, Amel masih terus menangisi Andin tidak peduli akan orang di dekatnya. Bobby pun menyentuh bahu Amel.
"Mel..."
Amel melepaskan sentuhan tangan Bobby di bahunya.
"Mel, pulang. Ibu udah tenang di sini ayo pulang."
Amel langsung berdiri berhadapan dengan Bobby dengan tatapannya yang dingin.
"Harus pulang ke mana gue? Gue gak bakal pulang ke rumah dan hidup sama orang penghianat kaya lo! Liat! Ibu pergi gara-gara lo sama ayah! Gue benci lo! Gue benci ayah!" Amel sangat emosi. Dia seperti tidak memiliki siapa-siapa lagi, sangat terpuruk.
"Ayo pulang ke rumah biar gue jelasin semuanya." suara Bobby pun mulai meninggi.
Cuaca yang tadinya hanya mendung akhirnya mulai menurunkan air hujan. Cuacanya sangat mengerti akan hatinya Amel hari ini yang bersedih.
"Gak usah ajak-ajak gue balik ke rumah! Gue bukan adik lo lagi!" Amel berlari meninggalkan Bobby yang malah terdiam memperhatikan Amel. Bobby sebagai kakaknya bingung harus berbuat apa.
Bobby menjatuhkan tubuhnya ke tanah di samping makam Andin. Akhirnya tangis Bobby yang tadi hanya mengeluarkan sedikit air mata pun di keluarkan semua.
Dia menangis sambil memeluk nisan Andin, hujan deras sudah membasahi seluruh tubuhnya. Terus menangis dan sesekali berbicara sendiri di posisi itu.
"Ibu, Bobby gak tau harus apa lagi bu. Bobby bingung."
"Amel udah benci aku sama ayah bu"
"Kenapa ibu pergi ninggalin kita bu?"
"Bu, ayah gak salah apa-apa kan bu? Ayah sayang sama ibu. Tolong jelasin ke Amel tentang semuanya."
Bobby terus menangis di samping makam Andin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Always You? [Completed]
Fiksi RemajaDalam berhubungan pasti sangat ingin untuk dihargai oleh pasangannya. Cepat bosan adalah hal yang tidak diinginkan oleh pasangan. Seiring berjalannya waktu karma pun pasti datang kepada orang yang telah menyia-nyiakan seseorang. Lalu, bagaimana upa...
![Why Always You? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/94018015-64-k386734.jpg)