Karna suasana canggung Sena membuka pembicaraan.
"Ekhem,.. Btw suasana di sini enak juga ya."
"Iya makanya setiap gue sedih atau pun seneng pasti gue selalu kesini buat ungkapin semuanya."
Sena mengangguk tanda mengerti ucapan Amel.
"Terus kan disini lo sendiri. Gak kesepian emangnya?"
"Gak sama sekali." jawab Amel tersenyum kecil sambil memandang ke arah langit.
"Lo kesini karna apa?"
Senyum Amel pun memudar karna pertanyaan yang ke arah sana.
"Ibu gue sakit parah Sen dan sekarang lagi koma di ruang ICU."
Sena kaget dan wajahnya langsung memandang Amel tak percaya.
"Lo gak percaya ya? Iya gue keliatannya baik-baik aja gue tutupin semuanya supaya orang gak ngeliat gue sedih. Makanya gue ke tempat ini terus."
"Tapi kan lo setiap gue anter pasti ke rumah."
"Iya gue ke rumah juga ambil barang yang gue butuhin buat ngejagain ibu gue di rs. Sekarang mungkin gue bakal sering kesini soalnya gue gak tau harus diem dimana lagi, sedangkan ibu gue udah di pindahin ke ruang ICU."
Sena merasa bersalah dengan pertanyaan yang dia lontarkan kepada Amel yang membuat Amel bersedih kembali.
"Mel sorry gue gak maksud bikin lo sedih lagi."
"Santai aja Sen, justru gue seneng lo nyamperin gue lagi padahal gue udah tolak lo."
Amel tersenyum begitu pun dengan Sena yang melihat Amel mengeluarkan senyum manisnya.
Udah cinta sama lo susah buat di lupain,
Lo berarti buat gue,
Lo bikin hari gue berubah lagi,
Lo bikin hati gue berwarna lagi,
Lo bikin gue lupa sama masa lalu gue yang nyakitin,
Lo aneh Mel,
Aneh gak bisa ilang dalam ingatan gue,
Aneh lo udah bikin gue terjebak di hati ini,
Aneh gue masih tetep mau perjuangin lo,
Gue yakin suatu saat nanti gue dapetin lo,...
"Sen gue harus ke rumah sakit lagi siapa tau ibu gue udah sadar."
"Yaudah ayo gue anter."
Sena pun naik ke atas motornya dan Amel duduk di belakang Sena.
Setelah sampai di depan rumah sakit.
"Gue boleh jenguk ibu lo?"
"Ayo Sen kalo lo mau."
Amel pun masuk ke dalam rumah sakit di ikuti Sena di belakangnya.
"Kak, lo disini? Gak di dalem?" Amel yang baru saja sampai di depan ruang ICU ibunya langsung bertanya pada Bobby yang berdiam diri di sofa.
"Mel, lo cepet banget pulangnya?" Bobby mengalihkan pembicaraan bingung harus menjawab apa sedangkan ayahnya yang Amel benci masih berada di dalam ruangan itu.
"Kenalin kak ini temen kampus gue, Sena mau jenguk ibu, boleh gue masuk sama dia?"
Pengalihan pembicaraan yang Bobby lontarkan sepertinya sia-sia, mau tidak mau Bobby harus mengatakan semuanya.
"Di dalem ada ayah Mel." kata Bobby jujur dengan suaranya yang pelan.
Amel kecewa dengan apa yang telah Bobby katakan itu. Hatinya seperti hancur mendengar semua itu.
"Sen sorry lo kesini lagi besok aja, gue lemes mau istirahat."
Terpaksa Amel harus menyuruh Sena pulang dengan berbohong karna situasinya yang sedang tidak baik sekarang ini. Emosi Amel masih tertahan karna adanya keberadaan Sena.
Sena yang menyadari perubahan sikap Amel pun menurut saja atas apa yang di suruh oleh Amel. Sena pamit pada Amel dan Bobby yang berada di hadapannya.
Setelah Sena sudah terlihat benar-benar pergi pun Amel langsung meluapkan segala amarahnya. Dia segera masuk ke dalam ruang ICU itu tapi di tahan oleh Bobby.
"Mel tolong kasih waktu ayah buat ketemu ibu Mel gue mohon sama lo kali ini aja."
Amel menepis genggaman Bobby.
"Apaan sih kak?! Siapa yang nyuruh orang itu masuk?!"
Amel memaksa dirinya untuk masuk tapi tetap tertahan oleh Bobby yang tidak ingin ayahnya di ganggu oleh Amel. Amel memberontak masuk tapi saat Amel sudah di depan pintu ayahnya keluar ruangan itu dengan panik.
Terdengar suara alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi nyaring, garis di alat itu pun lurus. Januar segera berteriak dan berlari memanggil dokter bersama Bobby.
Amel hanya terpaku diam di depan pintu yang terbuka lebar itu melihat Andin dari kejauhan. Perasaannya sangat tidak dapat di tebak, air mata yang tadi membendung pun akhirnya meluber.
Amel lari menghampiri Andin yang terbaring tak berdaya itu.
"Ibu bangun bu!!!"
"Bu lawan, ibu harus sadar!!!"
Amel berteriak dan terus menangisi Andin. Dokter pun masuk ke dalam ruang ICU. Perawat menyuruh Amel agar segera menunggu di luar karna dokter akan mengambil tindakan.
Di dalam ruang ICU dokter berusaha sekuat tenaga agar pasien itu kembali normal.
"Ini semua gara-gara lo kak! Lo ngizinin orang itu masuk! Dia itu yang selalu bikin ibu tambah parah!" Amel emosi pada Bobby yang berdiri di sampingnya.
Amel mengamuk sejadi-jadinya menyalahkan Januar yang sedang duduk di sofa menundukkan kepalanya, menutupi tangisannya.
"Lo gak tau apa-apa Mel!" bentak Bobby.
Mereka meratapi kesedihannya, seorang wanita yang mereka banggakan sedang berjuang melawan takdirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Always You? [Completed]
Fiksi RemajaDalam berhubungan pasti sangat ingin untuk dihargai oleh pasangannya. Cepat bosan adalah hal yang tidak diinginkan oleh pasangan. Seiring berjalannya waktu karma pun pasti datang kepada orang yang telah menyia-nyiakan seseorang. Lalu, bagaimana upa...
![Why Always You? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/94018015-64-k386734.jpg)