Bukan sekali ataupun dua kali.
Tapi aku telah berpikir puluhan kali. Tentang siapa aku ini sebenarnya bagi dirimu? Sepenting apakah diriku sebenarnya bagi dirimu?.
Apakah aku hanya sebatas pelipur laramu dikala kamu merasa bosan?. Apakah aku hanya seorang pengagum yang terkesan rendah di matamu?. Atau, apakah aku hanya sebatas kekasihmu dalam tulisan? Dalam mimpi? Bukan pada kenyataannya.
Aku tidak memintamu untuk mengenalkanku pada teman-temanmu. Juga tidak memintamu untuk memberikanku hadiah-hadiah yang mewah. Bagiku, cukuplah kamu mencintaiku dalam hati saja. Dalam hati yang benar-benar tulus mencintaiku, menerimaku dan menutupi segala kelemahan yang ada pada diriku.
Hadiah mewah?. Aku tidak butuh semua itu. Cukup kamu sebutkan sebait kecil namaku dalam doa-doamu, maka akan aku sebutkan ribuan kali namamu dalam doa-doaku, hingga bibirku keluh dan aku tersenyum. Meminta agar kita selalu diberi ketabahan dan kebahagiaan. Karena itu adalah semewah-mewah hadiah yang ada.
Memang aku pernah merasa lelah. Aku tidak bisa membohongi itu. Aku tidak lagi tahu siapa diriku. Dan untuk apa aku hadir dalam kehidupanmu.
Sepi-sepi merasuk dalam pedih dan bersemayam dalam dukaku. Menyeret aku pada keputus asaan. Hampir menyerah. Hampir meminta berpisah.Tapi, yang aku percayai sewaktu itu hanya; Mungkin aku belum mampu memberikanmu cinta yang tulus. Mungkin ucapan sayangku hanya berbatas ragu bagimu. Maka dengan semua itu aku mencoba berjalan, mencari keikhlasan dan berdialog dengannya.
Kini aku harus mencoba memberikan kasih yang betul-betul kamu butuhkan. Memberi lelucon yang betul-betul kamu butuhkan dan kemanjaan yang betul-betul kamu butuhkan.
Aku disini tidak berharap banyak. Mari sama-sama memberikan apa yang kita bisa. Menghargai pasangan sebagaimana mestinya. Hingga perih-perih yang dahulu terlupakan. Tanpa berpisah, mari kita tata kenyamanan ulang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintaimu Adalah Perang
Poesía"Akan ada saatnya dimana kita bisa memilih dan sedia menerima pilihan. Sebab cita-cita cinta hanya bisa di usahakan, tanpa bisa di paksakan. Akan ada saatnya dimana aku kembali lagi bersama diriku sendiri. Sebab setelah jauh mengikuti langkahmu, aku...