Jauh Tak Terdekap

91 3 0
                                    

Kali ini akan kutulis seuntai kisah perjalan ketika kau di renggut secara paksa oleh semesta dan ia meniadakan segala macam perisa pada masa-masa kemesraan kita lalu ia ambil kejernihan dari kedua bola matamu hingga gelap kini menyelimutiku.

Masih terasa hangat pelukan yang kau eratkan dengan kasih sayang, kekasih. Pada suatu malam yang tenang dan sepi, deru-deru angin mengibaskan beberapa helai rambut panjang hitammu. Sembari menikamti lembutnya rembulan yang terpampang tanpa pembatas dengan cinta kasih.

Kita berjalan menelusuri jalan-jalan yang belum pernah kita kenal. Lalu kita memcoba menghapal sebab suatu waktu kita akan memberi makan anak-anak kucing yang kelaparan di sana. Katamu kita tak boleh membiarkan ciptaan tuhan kesepian. Maka sejak saat itu ku ikrarkan dalam diriku bahwa kau takkan lagi pernah merasakan sepi. Akan kubunuh ia dan kau akan tenang selamanya.

Tapi apa yang hendak di kata. Tentu kita tak akan pernah bisa dan mampu membunuh sesuatu yang benar-benar mati. Kita takkan mampu memaksa suatu keadaan berubah, kita takkan mampu.

Terbukti, ketika kupersembahkan segala sesuatu yang akan membuatmu tertawa aku malah gagal dan kau lekas tenggelam di makan entah. Ketika hendak ku berikan sebuah cincin yang akan menemani jari manismu sampai tutup usia, ternyata usia telah dulu mengaitkan cinta pada jemarimu.

Berdosa daku yang telah berjanji namun tak sempat terwujuti. Berdosa daku yang membuatmu sendirian. Berdosa daku yang tak pernah mampu memeluk tubuhmu selama-lamanya. Berdosa daku.

Kau kini telah jauh dan aku juga telah menjauh dari jalan-jalan yang kian men sunyikan diri. Ternyata aku tak mampu berbuat apa-apa saat kau juga tak mampu berbuat apa-apa. Jauh sekali kekasih, jauh hingga aku tak dapat menatap rona wajahmu dan tipis-tipis senyum malu yang tercipta dari bibirmu yang ranum.

Ada yang terlanjur cinta padamu di banding diriku. Dan kini ia telah duluan mengikatmu hingga kita terpisah tanpa aba-aba, tanpa apa-apa. Lekas sekarang akulah yang di makan sunyi. Akulah sepi itu sendiri.

Tenang? Entahlah puanku.
.
.
.
.
.
(Coba kalian baca sambil mendengarkan lagu: NAIF- CINTA UNTUKNYA)

Mencintaimu Adalah PerangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang