Prolog

6.5K 270 22
                                    

Aku Ozora, panggil saja Zora. Aku menyukai seorang pria tanpa ingin rasa memiliki, karena aku tahu pria ini sangat susah untuk didekati. Dan aku sadar diri, anak pecicilan sepertiku bersanding dengan dinding es. Rasanya mustahil. Tapi karena hukuman dari orangtua ku akhirnya aku harus berurusan dengan pria yang tak ingin kumiliki itu.

Pria itu jauh lebih tampan dari dulunya, jauh lebih pemarah, dan seram dari sebelumnya. Tapi aku tidak akan lagi takut karena aku juga bisa bersikap semenyebalkan dia.

Adu mulut, belajar, bermain bahkan melakukan semuanya mengharuskanku bersama dengan pria itu. Si Devilish, Diano Adrich Wibowo.

~ Callia Ozora Meschach

Sisi menarik koper besar keluar dari rumah diikuti oleh Digo. Sedangkan Zora merengek menarik narik baju mamanya itu agar tidak pergi meninggalkan dirinya.

"Pa, bujuk mama donk!" rengek Zora masih menahan koper Sisi.

Digo menggeleng mengangkat tangannya. Ia tak akan bisa membujuk Sisi sudah sedari semalam dan tidak mempan sama sekali.

Zora berdecak sebal. "Oke berapa lama?"

"3 bulan," jawab Digo membuat Zora menganga.

"3 bulan?" beo Zora tak percaya.

Adiknya yang berbeda 10 tahun dengannya berjalan keluar sambil memainkan ponselnya dengan santai. "Azel, kok diam aja sih," seru Zora kesal membuat adiknya mengunci ponsel menatap kakaknya dingin.

"Kan ini gara-gara kakak, aku sih ga apa-apa ditinggal udah biasa ini," ucap Azel santai mendapat senyuman dari Sisi.

Zora menatap adiknya kesal. Memang mereka sudah biasa ditinggal tapi ini tidak biasa karena semua kartu kredit dan debitnya ditarik oleh Sisi, jangan lupa bahkan uang cashnya ditangan hanya ada dua setengah juta. Dan itu untuk 3 bulan bisa gila dia mendengar semuanya.

"Ini hukuman untuk kamu Zora, kamu sudah ga bisa dikendalikan dan tidak mau mendengar omongan papa atau mama," ucap Sisi tegas membuat Zora memelas.

"Kamu sadar ga, kartu kredit yang limitnya 200juta untuk sebulan kamu habiskan hanya dalam 1 hari dengan belanjaan seabrek yang baru saja kamu bawa pulang," Zora menunduk mendengar omelan mamanya.

"Si, aku masih mampu kok ga apa-apa," cicit Digo membuat Sisi menoleh garang.

"Ini nih, lihat, kamu terlalu manjain dia, apa aja kamu bolehin, ga baik Go,  lihat dia sama sekali ga sayang uang sama sekali, dia harus belajar mandiri dan mengatur keuangannya, gimana dia bisa belajar jadi pemimpin perusahan kalau dia saja seperti ini," omel Sisi membuat Digo menutup matanya sejenak kemudian menatap anaknya seakan memberikan telepati bahwa ia tak bisa membantu kali ini.

"Setelah kamu membeli barang-barang itu, ada gunanya atau tidak, kamu sudah 20 tahun Zora sudah seharusnya kamu bisa berfikir dewasa, kamu lihat anak tante Claudia, Diano, dia sudah jadi pengacara muda diumur 24 tahunnya," ucap Sisi panjang membuat Zora menipiskan bibirnya apalagi setelah mendengar nama yang cukup lama tak ia dengar.

"Tapi Akio masih kuliah tuh," balas Zora mencari cela membahas anak Claudia yang lain. 

"Akio itu seumur sama kamu, dia kuliah full beasiswa sedangkan kamu full dibayar papamu," ucap Sisi tak mau kalah.

"Tapi nilai Zora baik-baik aja ma, ga turun sama... sekali.. walau ga ada beasiswa...," cicit Zora makin kecil menatap Sisi yang seakan mau memakannya.

"Sesuai hukuman kamu, kamu harus bisa hidup dengan uang dua juta setengah selama tiga bulan, kamu bisa hemat budget kamu dengan makan dirumah, bawa makan ke kampus dengan memasak sendiri karena semua pembantu dirumah, mama liburkan selama ga ada mama dan papa, satu lagi kalau memang kamu ga mau melakukan itu semua, mama berbaik hati memberikan ijin kamu tinggal dirumah tante Claudia dan kamu bisa membantu di sana," ucap Sisi panjang membuat Zora menatap mamanya tak percaya.

"Tapi ma..."

"Jangan lupa jagain Azel, kamu bisa kan jagain adik kamu?" tanya Sisi cukup sangsi mengingat bagaimana sikap manja dan boros anaknya.

"Nggak bisa kalau ke rumah aunty Ersya sama uncle Bryan?" tanya Zora pelan.

"Kenapa, kalau kamu ke sana sama aja, uncle Bryan akan memberikan uangnya untukmu," ucap Sisi santai tapi tidak dengan anaknya sudah ingin menangis melihat mamanya ternyata bisa sesadis ini dengannya.

"Tapi ma, Zora ga mau ke tempat tante Claudia," ucap Zora pelan.

"Kalau ga mau, gampang kan, kamu tinggal hidup di rumah ini, masak sendiri, bersih-bersih serta semuanya sendiri," ucap Sisi cepat tapi Zora terlihat lebih kalut. Bagaimana tidak kalut, ia tidak tahu caranya mengerjakan itu semua, ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memasak apalagi mencuci baju. Tolong siapapun tenggelamkan ia sekarang.

"Oke, bersih-bersih Zora terima, tapi kan kalau masak, cuci, Zora ga bisa ma," elu Zora tak percaya.

"Udah ka Zora terima aja tinggal di rumah tante Claudia, kan enak tuh, semua serba ada, terus Azel juga ogah berdua sama kakak, mau jadi apa aku tanpa mama dan papa, ntar malah busung lapar," ucap Azel menatap kakaknya geli.

Zora merutuk dalam hati sambil menatap adiknya seakan mengulitinya jika orang tuanya pergi nanti. Kepalanya pening setelah mendengar omelan mamanya. Apalagi menghadapi kenyataan pahit sedang ada didepan matanya.

"Kamu bisa belajar dengan anak-anak tante Claudia, Diano dan Akio contohnya, mereka laki-laki tapi mereka bisa mengerjakan semua kerjaan yang kamu sebutkan barusan, Zora," ucap Sisi membuat Zora mati kutu sekarang.

"Si, apa kita ga keterlaluan memberikan satu pembantu atau supir sepertinya tidak masalah," ucap Digo pelan tapi Sisi menatapnya sengit.

"Pokoknya gak, kita ga boleh terpengaruh dan kasihan, ini demi kebaikan Zora," cicit Sisi menatap suaminya yang sepertinya masih menatap anak gadisnya.

Mobil jemputan yang sudah dipesan Sisi akhirnya sudah masuk ke dalam halaman rumahnya. Zora masih memegang kuat koper mamanya dan memelas tapi seakan tak melihat mamanya melengos meninggalkannya.

"Papa," cicit Zora pelan.

"Maaf princess, kali ini siapapun tidak akan bisa menyelamatkanmu kecuali keluarga om Noah, setidaknya kamu bisa meminta Akio menjemputmu kan?" tanya Digo santai sambil mendorong pelan tangan anaknya sejak tadi menahan koper dan memberikan koper pada supir.

Digo berjongkok agar sejajar dengan anaknya. "Oke, prince, papa pergi dulu, kalau kamu melihat hal-hal aneh baik nya jangan kasi tahu kakakmu yang penakut," bisik Digo kemudian Azel hanya mengangguk malas.

"Jangan lupa oleh-oleh buat Azel harus banyak, karena papa dan mama udah korbanin Azel buat percobaan ka Zora hidup mandiri," ucap Azel membuat Digo menyengir.

"Oke, tenang!" seru Digo segera berdiri dan masuk ke dalam mobil.

Zora hanya menatap kepergiaan orang tuanya dengan tatapan kosong. Ia masih mencerna bahkan ia masih berfikir keras sekarang. "Tinggal dengan Ka Ano?"

Sepertinya ia akan mendapatkan hinaan bahkan tatapan sinis dari pria dingin itu. Bahkan ia yakin sahabatnya Akio akan menertawakannya sampai menangis membayangkannya saja sudah membuat ia malu apalagi sampai terjadi.

"Ka buru masuk, setan lewat nyantol entar, bengong mulu," goda Azel santai sambil tertawa masuk ke dalam rumah.

Zora menghela nafas pelan masuk ke dalam rumah masih terus saja berfikir sampai rasa kepalanya sudah akan panas jika terlalu berfikir keras seperti ini.

~ NEW STORY

Fresh from the oven..

Gimana gimana pembukaan ceritanya menarik?
Ceritanya santai selow kok, ga akan buat berfikir kayak hidup Sisi dan Digo sebelumnya.
Tapi aku juga masih konsep cerita ini terus, masih burem soalnya. wkwkwk

Oke sekian perkenalan cerita ini, nextnya sabar ya.
Prolog dulu lah~ biar kalian masukkin ke library dan reading list kalian

Devilish (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang