(9)-menunggu

7.8K 362 0
                                    

"meskipun aku gak tau itu kapan"

Bintang tersenyum miris, ia merasa bahwa didunia ini hanya dirinyalah yang paling tersakiti. Bintang menggeleng dua kali, lalu menoleh pada Angkasa, masih tidak ada pergerakkan apapun dari Angkasa, Bintang pun mulai bertanya.

"malem kamu ada acara gak? "

Angkasa masih diam, setelah 2 detik akhirnya Angkasa menoleh pada Bintang.

"nggak" jawab Angkasa lalu kembali lurus menatap pemandangan.

Bintang tersenyum senang. Dalam hati, Bintang terus saja bersyukur, dengan sedikit ragu, ia pun kembali berbicara.

"kamu mau gak entar malem ke cafe deket sekolah? "

Angkasa mengernyit bingung, kenapa Bintang mengajaknya ke Cafe? Padahal Bintang kan sudah tau jika Angkasa sangat tidak suka makan ditempat ramai seperti itu. Apalagi hanya sekedar berbicara yang tidak penting.

"gak tau" jawab Angkasa akhirnya tanpa menoleh sedikit pun.

Senyum Bintang hilang. Bintang memang sangat bodoh, untuk apa ia mengajak Angkasa yang jelas-jelas tidak pernah suka jika bersama dirinya.

"oh, yaudah" akhirnya Bintang pun pasrah, daripada mendapatkan kata-kata kasar lagi, lebih baik ia mengalah.

"Mungkin belum waktunya" pikir Bintang.

Angkasa merasa sedikit tidak enak karena menolak ajakan Bintang. Tapi harus bagaimana lagi? Jujur saja, ia sangat-sangat benci tempat ramai, berbeda dengan Bintang.

"ok, gue dateng" ucap Angkasa seraya menoleh pada Bintang. Wajah Bintang yang tadinya kusut sekarang berubah menjadi cerah kembali. Hanya 2 kata, tapi mampu membuat Bintang bahagia bukan main, apalagi ini adalah permintaannya.

Bintang nyengir lebar, kemudian berdiri, lalu meloncat-loncat bak anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya, sambil terus beryes Ria.

Angkasa memutar bola matanya malas, gadis dihadapannya ini benar-benar aneh, dan juga bego. Hanya karena Angkasa mengiyakan ajakkan mampu membuatnya jadi gila seperti ini. Angkasa hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

"yes! Yes! Yes! Makasih Angkasa. Aku seneng banget tau gak? Aku kira kamu beneran gak mau tadi, eh...ternyata berubah pikiran" ucap Bintang senang sambil terus tersenyum.

Angkasa hanya berdeham, melayani Bintang bisa-bisa membuatnya gila mendadak.

***

"Rora, cepetan dong kesini. Gue bingung mau pake baju mana" teriak Bintang pada ponselnya. Ya, sekarang Bintang sedang menghubungi Rora, memintanya agar kerumahnya sekarang juga. Entah untuk memilihkannya baju atau mendandaninya, intinya Bintang sedang butuh Rora sekarang.

"bentar Bin, Deeva lagi mandi. Ini gue lagi jemput Deeva dulu"

"ck, yaelah... Yaudah pokoknya dalam 10 menit lo udah nyampe dirumah gue, titik gak pake koma" setelah mengatakan itu, Bintang menutup sambungan telpon seraya kembali memilih baju yang ada dilemari.

"pake baju yang mana ya" gumamnya.

Bintang kembali melempar baju yang menurutnya tidak cocok. Setelah merasa cape, akhirnya Bintang merebahkan dirinya diatas kasur, ia jadi teringat dimana Angkasa mengiyakan ajakkannya.

Bintang jadi senyum-senyum sendiri saking senangnya. Akhirnya Bintang pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Angkasa, meskipun ia tahu bahwa pesannya tidak akan pernah dibalas.

Bintang : jam 8 harus udah nyampe di cafe ya.

Setelah merasa terkirim, Bintang pun menyimpan ponselnya diatas nakas seraya kembali berdiri.

ANGKASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang