(7)-permintaan

8.9K 370 1
                                    

Angkasa berjalan dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celana, kedua telinganya terpasang earphone, rambut dan pakaiannya yang memang selalu rapi, pasti akan membuat siapa pun terpesona. Hanya saja sikap dinginnya yang berlebihan membuat cewek-cewek menjauh dan hanya bisa memendam perasaanya tanpa mengungkapkan pada Angkasa.

Melihat Bintang didepan kelasnya, membuat Angkasa berhenti melangkah, ia mematung ditempat. Tiba-tiba perkataan Mama dan Papanya kembali terngiang dipikirannya.

"jangan pernah putusin Bintang, kecuali Bintang yang pengen putus"

"jangan pernah buat Bintang kecewa"

"bahagiakan dia"

Angkasa menggeleng cepat, setelah kesadarannya kembali, Angkasa membalikan badan, berjalan kearah lain. Tujuannya sekarang bukanlah kekelas, tapi ke ruangan Fotografer. Angkasa sedang tak ingin diganggu, apalagi oleh Bintang.

****

Bintang sudah menunggu hanpir 30 menit, tapi Angkasa masih belum datang. Bintang sudah mengecek kedalam kelas, kekanan, kekiri, lalu kedalam kelas lagi, namun Angkasa masih belum ada.

Bintang menggit bibir bawahnya, lalu mengecek jam ditangan kanannya. Sudah jam 06.46 dan Angkasa masih belum datang. Tidak biasanya Angkasa datang siang seperti ini.

Bibir Bintang membentuk senyuman, matanya menangkap sosok cowok tinggi yang sedang tertawa dengan temannya. Bintang berlari kecil menghampiri 2 cowok itu dan berhenti dihadapannya.

Arnold dan Alvi menghentikan langkahnya begitu pun tawanya ketika melihat Bintang sedang berdiri dihadapannya dengan cengiran yang bisa dibilang cukup lebar.

"kenapa lo? " tanya Alvi dengan sedikit ketus.

Bintang maju satu langkah membuat Arnold dan Alvi mundur satu langkah. Bintang derdecak kesal ketika melihat Alvi malah menjauhinya.

Senyumannya hilang, digantikan dengan bibir mengerucut khasnya, ia menatap Arnold dan Alvi bergantian dengan tatapan tajamnya. Matanya menyipit seolah ada sesuatu pada bagian wajah kedua cowok tampan itu.

"lo kenapa sih Bin? Kesurupan lagi? " celetuk Alvi lagi.

Bintang mendengus kesal, ia paling kesal ketika mendengar ucapan-ucapan Alvi yang memang sangat-sangat tidak nyambung.

"Angkasa mana? " ketus Bintang dengan nada tinggi.

Alvi bergidik ngeri, seolah Bintang itu adalah jin yang sedang mengganggu dirinya.

"ya, mana gue tau" jawab Alvi tak kalah ketus.

"kita gak tau Bin, mungkin lagi ke toilet" ucap Arnold.

Bintang berdecak kesal, lagi-lagi kedua cowok ini tidak menjawabnya dengan benar.

Bintang membalikan badan, dan berjalan meninggalkan kedua cowok tersebut. Ia tak menghiraukan teriakan Arnold dan Alvi, ia sedang kesal pada kedua cowok itu.

*****

Kring! Kring! Kring!

Bel baru saja berbunyi, seluruh murid yang ada didalam kelas IPS 3 membubarkan dirinya masing-masing. Ada yang kekantin, toilet, perpustakaan, lapangan untuk melihat anak laki-laki yang sedang bermain basket. Kecuali Bintang, ia keluar kelas dengan gerakan cepat, sampai-sampai kedua temannya tak mengetahui kemana Bintang pergi. Tujuan Bintang sekarang hanyalah ke kelas Angkasa, dipikirannya hanyalah bertemu dengan Angkasa.

Bodoamat orang lain mau bilang apa, yang penting Bintang bertemu dengan Angkasa.

Bintang berhenti diambang pintu, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum cantik ketika melihat seorang yang ingin ditemuinya ada didalam kelas sedang mengobrol dengan kedua temannya.

ANGKASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang