(11)-Pelukan pertama

9.2K 387 4
                                    

Angkasa melangkahkan kakinya menuju kantin, dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana, kedua telinga yang terpasang earphone, sebelah kanan dan kirinya kini sudah ada dua anak gila, siapa lagi kalo bukan Arnold dan Alvi.

Kedua sahabatnya sedari tadi mengoceh tidak jelas, seperti membicarakan makanan dikantin, ibu guru baru yang menurut mereka sangat cantik dan seksi, dasar mesum, membicarakan mie ayam dikantin harganya yang tiba-tiba naik. Tanpa memperdulikan ocehan kedua sahabatnya yang menurut Angkasa sangat tidak penting, Angkasa memutuskan untuk berjalan lebih dulu daripada kedua telinganya panas mendadak.

Namun,langkah Angkasa terhenti ketika jalannya terhalang oleh seorang gadis gila dan aneh yang sedang ia hindari beberapa hari ini.

Dengan cengiran dibibirnya, Bintang mendongak menatap Angkasa membuat Angkasa kesal bukan main. Disaat sedang lapar seperti ini, Bintang masih saja mengganggunya.

Angkasa melepaskan satu earphonenya, menatap Bintang dengan datar.

"minggir" ucap Angkasa.

"mau kemana?" Tanya Bintang masih dengan senyum cantiknya.

"kantin"

"mau ikuut" rengek Bintang seperti anak kecil.

Angkasa memutar bola matanya malas. "terserah" setelah mengatakan itu Angkasa melangkahkan kakinya. Disamping kanannya kini ada Bintang. Kedua temannya entah kemana, tadi mereka yang memaksa Angkasa agar pergi kekantin, dan saat Angkasa mengiyakan ajakan mereka, keduanya malah menghilang.

Dan sekarang yang mengoceh tidak jelas bukan Alvi maupun Arnold, tapi Bintang.

"kalo aja tiap hari kita bisa kekantin bareng kaya gini, bahagia benget aku Sa"

"kamu tau gak? Aku punya mimpi buat bisa jadi alasan kamu bahagia, tapi kayaknya susah. Tapi sekarang aku lagi nyoba, dan gak akan pernah nyerah. Meskipun aku gak tau kapan aku bisa bikin kamu bahagia" ucap Bintang dengan wajah yang berubah menjadi sendu, berbeda dari yang tadi.

Angkasa hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dar bibir Bintang. Sebenarnya, Angkasa merasa kasihan karena tidak pernah menganggap Bintang. jika saja dulu ia tidak mengikuti permainan TOD yang membuatnya jadi serba salah seperti ini, dan sekarang ditambah lagi kedua orang tuanya menyukai Bintang. Angkasa semakin bingung deangan apa yang haru dilakukannya.

"mungkin suatu hari nanti bisa" jawaban Angkasa benar-benar membuat Bintang bahagia bukan main. Bintang membulatkan kedua matanya lebar, Angkasa telah memberinya harapan.

"tadi yang jawab beneran kamu kan Sa?" Tanya Bintang tidak percaya.

Angkasa tak menjawab, ia hanya melanjutkan langkahnya.

****

Angkasa dan Bintang berjalan memasuki kantin, Bintang terus saja tersenyum pada semua orang yang menatapnya. Seolah Bintang sedang memberi tahu orang lain jika dirinya sedang bahagia. Sedangkan Angkasa ia tetap datar seraya berjalan menuju tempat duduk yang kosong, diikuti oleh Bintang dibelakangnya.

Bintang duduk dihadapan Angkasa. "mau pesen apa Sa? Biar aku yang pesanin, kamu duduk aja, tinggal nunggu"

Angkasa mendongak menatap Bintang hanya 2 detik, setelah itu ia kembali pokus pada ponselnya.

Tak mendapat jawaban dari Angkasa membuat Bintang kembali bertanya. "Sa kamu mau pesen apa?"

"duluan aja, gue nunggu Arnold sama Alvi" jawab Angkasa.

Bintang mengangguk 2 kali, setelah itu ia pergi meniggalkan Angkasa.

"hahahahaha... guru nya seksi banget, siapa coba yang gak akan suka" suara yang familiar membuat Angkasa mendongak. Menatap kedua sahabatnya dengan tajam, seakan-akan mereka adalah musuh bubuyutannya.

ANGKASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang