Abang, bukan Mas.

27.7K 1.4K 48
                                        

Ari mematung di teras, matanya menatap nanar ke pekarangan rumah sambil terisak.

Rani yang sedari tadi duduk di sofa akhirnya berdiri lalu menghampirinya. "Nangisnya udahan yuk, Bang," ucapnya sambil duduk di lantai, di samping Ari. "Kalau nangis terus ntar papa kerjanya jadi gak tenang. Kepikiran Abang terus, kasian."

"Gak mau." Ari mengedikan bahu. "Mau nangis aja."

"Lho, kok gitu? Papa 'kan perginya gak lama. Bentar juga balik lagi," bujuk Rani, menatap anaknya prihatin.

Ari tidak menggubris. Dia hanya ingin seperti ini sampai nanti papanya kembali dari bengkel. Berdiri di teras sambil melihat ke arah gerbang. "Mau ikut Papa." Ari bergumam di sela tangisnya.

Mendengar itu, Rani hanya bisa mengembuskan napas. "Papa kerjanya gak lama kok, Bang. Papa cuma mau ngobrol sebentar terus balik lagi ke rumah."

"Sama siapa? Papa ngoborl sama siapa?" tanya Ari.

Rani berpikir sejenak, mencari kata yang dapat dimengerti oleh anaknya. "Sama temennya. Sama om-om."

Ari menoleh, mata sembabnya menatap Rani. "Temennya nakal gak?"

Rani menggeleng. "Nggak. Temennnya papa baik gak nakal."

Bibir Ari mencebik menahan tangis tangannya sibuk memelintir uang yang diberikan oleh Dhika untuk jajan sebelum pergi tadi. "Kalo nakalin papa nanti Abang pukul ya, Ma?"

Rani mengangguk mantap kemudian mengusap rambut Ari. "Yang mau nakalin papa pasti takut sama Abang."

"Nanti Abang tabak pake Gogo aja tlus pukul-pukulin." Ari mengempalkan tangan, membayangkan seolah-olah sedang menghajar orang yang akan menakali papanya.

Rani mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia jadi membayangkan bagaimana ekspresi Dhika jika dia sekarang ada di sini. "Papa pasti seneng kalau tau Abang sayang banget sama dia," gumam Rani dengan mata berkaca-kaca.

Ari lalu menatap Rani. "Apa, Ma?" tanyanya.

"Abang sayang gak sama papa?" Rani malah balik bertanya sambil membawa Ari ke pelukannya.

Ari mengangguk semangat. Tangisnya perlahan mereda. "Heeh. Nanti pulangnya mau peluk-peluk papa, mau jajan, mau main mobil sama main tanah juga."

Senyum Rani merekah. "Kalau sama Mama, sayang gak?"

"Heeh." Ari tersipu malu. "Sama juga."

Walaupun kami bukan orangtua kandung kamu? Rani cepat-cepat mengenyahkan pemikiran itu lalu membawa Ari ke pangkuannya. Menghujani anak itu dengan kecupan hangat.

"Sama Abang sayang gak?" tanya Ari, meniru ucapan Rani.

Rani tidak menjawab. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Mama sayang gak?" tanya Ari lagi.

Rani menarik napas lalu berbisik ke telinga Ari. "Sayaaaaang banget."

Ari terkikik geli.

"Mama sayang banget sama Abang. Pokoknya Abang segalanya buat Mama sama papa." Rani menatap lembut wajah Ari sambil menciumi tangannya. "Abang sekarang udah besar, udah bukan lagi bayi Mama yang bisanya cuma nangis. Sekarang Abang udah pinter, udah bisa bilang sayang sama Mama sama papa," ucapnya. Tanpa sadar air matanya ikut meleleh.

"Kenapa, Ma?" tanya Ari, kaget melihat Rani tiba-tiba saja berlinang air mata seperti itu. "Mama pengen ikut papa kelja?"

Rani tersenyum lantas cepat-cepat mengusap air matanya. "Mama jadi pengin nangis liat Abang nangis," bohongnya. Rani tidak mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan karena percuma, Ari belum mengerti.

"Hah?" Mata Ari terbelalak. "Mama jangan nangis. Abang gak nangis tuh," ucapnya sambil menunjuk mata sembabnya.

"Tapi tadi Abang nangis," kata Rani sambil merengut.

"Gak." Ari mengelak.

"Itu matanya merah."

"Gak. Ini gak nangis." Ari terus mengelak.

"Kalau bukan nangis terus apa?"

"Hm." Ari mengemut telunjuknya. "Matanya mau pipis," ucapnya pelan.

Rani tercengang mendengar jawaban ajaib itu, kemudian dia tertawa. "Abang-Abang, mana ada mata bisa pipis."

Ari tersenyum. "Mama?"

"Apa?"

"Matanya ini jadi nangis pengen ikut papa," kata Ari, "gak bisa tahan."

Rani hanya bisa tersenyum mendengar celotehan itu. Dia juga tidak berniat untuk beranjak dari teras walau Ari sudah tidak menangis.

"Bu Rani, tumben gerbangnya dibuka lebar. Lagi ada tamu, ya?" tanya salah seorang tetangga yang kebetulan lewat.

"Bu Katot." Ari tersenyum lebar sambil meneriakan nama tetangganya tersebut.

Bu Gatot balas tersenyum.

"Ini lagi nemenin Ari nungguin papanya," balas Rani, ramah.

"Oh, tak kirain ada tamu. Ternyata Mas Ari lagi nunggu papanya."

Ari kemudian berdiri. Melihat ke arah Bu Gatot. "Ibu ih ... ini bukan Mas, ini Abang," teriaknya.

Rani meringis mendengar itu. Melihat betapa beraninya Ari memprotes Bu Gatot hanya karena menyebutnya, Mas.

"Oalah maaf ya, Ibu lupa." Bu Gatot lantas tertawa, begitu juga Rani. Sementara Ari hanya menatap heran pada kedua orang dewasa tersebut.

Memangnya ada yang lucu?

-18.03.24-

Baby boyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang