They're two they're four they're six and
eight
Shunting trucks and hauling freight
red and green and brown and blue
they're the really useful crew
All with different roles to play
Round Tidmouth sheds or far away,
Down the hills and round the bends
Thomas and his friends
Thomas he's the cheeky one
James is vain but lots of fun
Percy pulls the mail on time
Gordon thunders down the line
Emily really knows her stuff
Henry toots and huffs and puffs
Edward wants to help and share
Toby, well let's say, he's square
They're two they're four they're six and eight
Shunting trucks and hauling freight
red and green and brown and blue
they're the really useful crew
All with different roles to play
Round tidmouth shed or far away
Down the hills and round the bends
Thomas and his friends.
"Don dihil enon dibin Thomas enisplen." Kedua tangan Ari terentang mengiringi berakhirnya theme song dari animasi favoritnya itu. Bocah yang hanya mengenakan kaus tangan pendek dan celana dalam itu menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di tengah mainan-mainannya yang berserakan di lantai.
"Abang ih." Keluar dari kamarnya, Rani pura-pura menangis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendapati sudut ruang keluarganya yang tadi pagi dia rapikan, sekarang sudah kacau balau itu membuatnya sedih seketika. "Mainannya kenapa dikeluarin semua? Itu sepatu juga kenapa disimpen di rak TV?"
Mendengar keluhan mamanya itu, Ari mendekat sambil mengemut telunjuk dia tersenyum lalu memeluk kaki Rani. "Mama ih."
"Mama pusing. Udah diberesin dibongkar lagi, beresin lagi bongkar lagi." Berkacak pinggang, Rani pun pura-pura marah. "Abis beresin di sini, Mama beresin di kamar. Di kamar selesai, di sini diberantakin lagi. Mama capek, Nak."
Tapi bukannya takut melihat kemarahan sang ibu, Ari malah tertawa sambil menggerakkan kakinya, berjingkrak.
Melihatnya, Rani yang memang dasarnya tidak bisa marah jadi tersenyum. Perempuan itu duduk di lantai lalu membawa Ari ke pangkuannya. Menghujani anak itu dengan kecupan. "Belom mandiin Abang, belom belanja, belom setrika baju, tapi Abang udah bikin kerjaan lagi, gimana sih?"
"Mama 'kan, Abang 'kan dolong-dolong Moli naik sepeda, tlus tablak tlus tumpah." Dengan semangat, Ari menjelaskan.
"Terus sekalian aja Abang berantakin." Rani merengut. Dia sebetulnya tidak masalah kalaupun Ari mengeluarkan semua mainannya, toh kalaupun tidak sempat dia bereskan sekarang nanti saat pulang kerja Dhika pasti akan bantu membereskannya. Tapi berhubung sekarang sedang ada mertua dan adik iparnya di rumah, dia jadi ingin rumahnya selalu terlihat rapi. "Malu dong sama Kakek kalau berantakan gini terus."
"Nanti Kakek galak?"
"Nggak juga sih, cuma gimana ya. Nanti kalau ada yang jalan lewat sini, takutnya mainannya Abang ada yang keinjek. Apalagi yang mainan kecil-kecil itu. Abang 'kan kalau mainannya rusak satu aja suka ngamuk-ngamuk."
Ari tidak menjawab, namun mata beningnya menatap Rani seolah mengatakan kalau dia paham. "Nanti nangis?"
"Iya. Kemaren aja stang motor mainan yang sebesar batang korek api gak ada, Abang nangis-nangis. Mama sama papa sampe pusing nyarinya. Tapi giliran udah ketemu terus dipasangin sama papa malah Abang bongkar lagi terus diilangin lagi."
"Buang kolam sana, Ma." Ari menunjuk pintu halaman belakang. "Buang aja, gak bisa pake lagi."
Rani meringis, pantas saja di dasar kolamnya berserakan mainan-mainan Ari. Eh ternyata memang sengaja dibuang. "Lain kali jangan buang, simpen dulu nanti sama papa dibenerin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby boy
Historia Corta(Sebagian diprivat) Amazing and cute cover by Syabilladhani @indievidu ?? What's wrong? side story.
