Hari sudah beranjak sore ketika Rani menyuruh Ari dan juga si kembar untuk beranjak dari kolam renang setelah hampir satu jam setengah mereka menghabiskan waktu untuk bermain-main air.
Sementara menunggu si kembar selesai dimandikan oleh Dhika, Rani mendandani Ari terlebih dahulu berhubung anak itu sudah dimandikan Dhika paling pertama karena paling lama menghabiskan waktu.
Tugas memandikan si kembar tersebut seharusnya dilakukan oleh Winda dan Alwi, namun berhubung mereka sedang pergi ke minimarket karena harus membeli popok untuk Genoa yang tertinggal di rumah, jadilah Rani dan Dhika yang mengambil alih tugas tersebut.
"Mama ... nanti besok belenang lagi ya, Ma?" Ari menangkup pipi Rani dengan kedua tangan kecilnya disaat mamanya itu sibuk membaluri tubuhnya dengan minyak telon. "Sama Mamas."
"Iya nanti, tapi bukan besok." Rani tersenyum kecil.
"Nanti besok, Ma,"sahut Ari dengan kedua alis bertaut. "Nanti besok pulang sekolah Mamasnya mau sini lagi."
"Kata siapa?" tanya Rani seraya mengambil popok berbentuk celana tak jauh darinya.
"Kata Mamasnya bilangnya mau sini lagi nanti besok pulang sekolah."
"Sama siapa?" Rani bertanya lagi, tak lain dengan tujuan supaya Ari tidak menyadari kalau dirinya akan memakaikan popok.
"Sama Jino --- gak mau pake papes." Ari mundur beberapa langkah sambil mengibaskan tangan hingga punggungnya menempel pada tembok. Wajahnya merengut menatap benda berwarna putih di tangan mamanya.
"Kan bentar lagi malam," ucap Rani lembut. "Jadi kalau Abang ngantuk langsung minum susu terus bobo deh, gak dibangunin lagi sama Mama buat pake ini."
Ari menggeleng mantap. Kenapa sih mamanya ini tidak mengerti juga kalau dirinya paling tidak suka memakai benda tersebut?
"Mau ya? Sayang, ganteng, soleh, raja, jagoan, pinter," ucap Rani, tersenyum. "Please ...."
Gelengan lagi, Ari tetap tak goyah meski dirayu sekuat apapun. Pokoknya tidak ada yang namanya kompromi jika berurusan dengan yang namanya popok.
Dan di saat bersamaan si kembar keluar dari kamar mandi dituntun oleh Dhika. Mereka langsung terkikik kala melihat Ari yang telanjang bulat menyenderkan tubuhnya pada tembok.
"Ih Ari, burungnya keliatan," celetuk Ata disambut tawa riang kembarannya, Zio.
"Lho, kok belum pake baju sih, Bang?" tegur Dhika, menatap heran pada anak laki-lakinya itu. "Ntar masuk angin coba."
Rani mengangkat popok yang dipegangnya ke hadapan Dhika sambil menggeleng.
Dhika mengangguk paham. "Kalau gak mau ya udah gak usah dipakein. Nanti aja kalau lagi tidur."
"Mending kalau aku inget, kalau nggak? Ntar ngompol lagi dia, cucian bedcover yang kemaren aja belom kering." Rani mendengus. "Masa mau nambah lagi sih? Kamu juga kayak mau aja bantuin aku nyuci."
Senyum tipis terulas di bibir Dhika. "Kan udah aku bilang cucian kayak gitu tuh kirim aja ke laundry. Atau kalau nggak beli aja bedcover yang baru."
"Ih enak aja. Nggak ada ya, pakaian sama perlengkapan anakku dikirim-kirim ke laundry. Walaupun hasilnya bersih tapi gak akan sebersih hasil cucian seorang ibu," jawab Rani sambil mendelik disaksikan ketiga bocah yang sama-sama belum berpakaian.
"Iya deh iya." Dhika mengaku kalah sambil tersenyum mengelus kepala istrinya sayang. Dari awal menikah hingga sekarang memiliki Ari, perempuan itu memang tidak pernah memercayakan orang lain untuk mengurus kebutuhan dia dan anaknya. Mencuci, memasak dan sebagainya pasti akan dia lakukan sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby boy
Short Story(Sebagian diprivat) Amazing and cute cover by Syabilladhani @indievidu ?? What's wrong? side story.
