REJA mendengus ketika mendengar teriakan yang membuatnya memberhentikan motor.
Dan si peneriak sampai didepannya dengan napas terengah-engah, "Tunggu dulu, woi!".
Reja mendecak sebal, "Apaan sih, Fi? Gue mau pulang!"
"Titip ini ya! Gue cari Naja ga ketemu-ketemu dari tadi." Fiona menyerahkan secarik kertas kehadapan Reja.
Reja membuang muka, mengabaikan kertas itu, dan mencoba untuk tidak ingin tau apa isinya, "Gue lagi ga ngomong sama Naja! Lo antarin aja sendiri!". Reja ingat tadi Naja buru-buru pulang karena dijemput Nasha.
Fiona melotot, "Lo apaan sih? Kemarin baru aja baikan, sekarang udah sleg lagi. Labil amat kek anak TK!".
"Bodo amat, gue sibuk!". Reja sudah siap-siap menstarter motornya untuk pergi, namun Fiona si cewek-aneh-bin-nekat-yang-baru-kemarin-deket-sama-Naja menghadangnya dan memegang stang motor Reja.
"Fio! Awas, ntar gue tabrak mati lo!". Reja menggoyang-goyangkan stang dan sebelah tangannya sibuk menyingkirkan kedua tangan Fiona-yang ternyata lumayan kuat juga.
"Tolong dong, ini tuh berita baik buat Naja. Masa lo gamau tau sih?". Fiona kini meletakkan dagunya di stang motor. Dan menatap Reja dengan pandangan puppy eyes miliknya.
Reja menepuk jidatnya, karena Fiona ternyata sama nyelenehnya dengan Naja.
"Kalo itu soal kepergian dia ke-"
"NAH ITU LO TAU!". Seru Fiona tiba-tiba sambil cengengesan.
Reja mendorong wajah Fiona menjauh, dan cepat-cepat menghidupkan motor.
"Kalo gitu gue suruh Niko aja yang anter!". Kata Fiona tiba-tiba tanpa berpikir terlebih dahulu.
Ternyata, Reja menghentikan kegiatannya. Mempan, memang.
Reja memarkirkan motornya secara sembarangan, dan nyamperin Fiona dengan muka berkerut masam.
Awalnya Fiona heran melihat gelagat aneh Reja yang tiba-tiba mau turun dari motornya begitu saja, namun melihat ekspresi masam Reja, sepertinya Reja terpancing kata-katanya saat menyebut nama Niko.
Sekelebat kemungkinan lewat dikepala Fiona,
Ah masa iya? Kok Reja kayaknya sentimen sama Niko ya?
Fiona mengedikkan kedua bahunya sendiri, dan mengangkat dagu tinggi-tinggi saat Reja sampai didepannya, dan bertanya dengan jutek, "Mana kertasnya?".
Fiona meringis geli, "Tadi gak mau, sekarang nanya. Bodo ah!". Fiona berbalik dan pergi sambil menggenggam kertas itu disamping tubuhnya.
Namun langkah Fiona tidak sampai kemana-mana karena Reja menahan sebelah tangannya dengan cepat, "Mau kemana lo?". Sergah cowok itu jutek sekali lagi.
Fiona membalikkan tubuhnya, "Mau kasi ni kertas ke Niko. Kayaknya doi lebih senang hati kalo gue suruh antar kerumah Naja." Jawabnya dengan senyum menyebalkan yang membuat Reja ingin menonjok Fiona jika saja cowok itu tidak ingat bahwa Fiona cewek.
"Gue udah mau, sini kertasnya!".
Reja mencoba merampas kertas yang ternyata digenggam Fiona lumayan kuat juga. Reja mencoba menahan dirinya untuk tidak merampas terlalu kuat, karena kertas itu tidak bakal ada artinya kalau robek.
Setelah mereka saling rebutan selama beberapa menit, akhirnya Fiona kewalahan juga menghadapi kemangkelan Reja-yang sepertinya tidak malu rebutan sama cewek di halaman parkiran kampus.
"Kenapa lo? Pas gue sebutin nama Niko langsung kebakaran bulu ketek?". Tanya Fiona akhirnya, tanpa tedeng aling-aling. Tanpa Fiona sadari tangan Reja terkepal disamping tubuh cowok jangkung itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me & Fat Burner
Chick-LitIni kisah Naja yang berdiri diantara orang sempurna. Kakaknya yang perfect dan bekerja sebagai model, adik laki-lakinya yang tampan dan cool sebagai pemain basket kawakan. Masalah Naja hanya satu, ia gendut. Kelebihan berat badan. Dan membuatnya keb...
