63. Bertaruh (Part 2)

1.3K 64 6
                                        

JANTUNG sepasang remaja itu berdebar keras. Bukan karena jatuh cinta, tapi lebih tepatnya karena memikirkan nasib kawan seperjuangan mereka yang hingga hari ini ntah dimana dan kemana.

Bombardir telepon dan SMS mereka sama sekali tak dihiraukan oleh si penerima diseberang.

"Gilak, kok gue yang berdebar gini." Niko udah persis kayak cacing kena rinso, alias gak bisa diem.

Fiona memaku pandangan pada pintu masuk peserta ke ruangan didalam sana.

"Naja kemana, coba? Masa iya gada bilang-bilang." rutuk Fiona, "Coba lu cek kedalam, Nik. Sampe nomor berapa udah?"

Niko melesat kedalam, dan tak lama keluar dengan wajah panik, "Udah mendekat ke 50an. Kok tiba tiba cepet gini."

Fiona melayangkan panggilan lagi ke Naja.

"Gimana, Fi?"

Fiona hanya menggeleng.

***

Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras.

Lho, bagaimana bisa? Sedangkan mereka didalam gedung?

"Bangun lu, kunyuk. Dah jam berapa nihhhh!??" suara bariton Yoga menyela diantara air hujan.

"AHHHH ELO MAAHH" Teriak Reja dengan berang saat membuka mata dan mendapati Yoga didepan mukanya.

Yoga langsung ngacir dan mencampakkan baskom air, yang apes dan tanpa sengajanya kena kepala Reja yang berusaha bangun.

"Astaghfirullah, habis lo nanti sama gue! YOGAAAAA!"

***

Reja berangkat kuliah dengan muka awut-awutan. Jelas saja, jadwal jam 11 dia baru nyampe dikelas jam 12. Karena ketiduran dan terlambat bangun. Benar-benar contoh mahasiswa teladan. Yang patut, maksudnya patut ditabok.

Reja mensyukuri juga tadi Yoga membangunkannya walau dengan cara yang sempat membuat Reja pengen ngegeplak Yoga pake velg motor.

Saking buru-burunya Reja tidak melihat layar hp lebih fokus lagi dan buru-buru ke kampus. Setelah sampai dikelas dia baru ingat Naja tidak ada karena harus ke Disnaker.

Dibukanya ponsel ketika dosen yang tadi sudah lelah menceramahinya, sedang fokus menjelaskan di papan tulis.

Doain gue ya.

Senyum Reja mengembang.
Naja tidak menelponnya sama sekali, tapi Naja ingat untuk mengabarinya.

Ah, inikah yang dinamakan prioritas?

Pikiran Reja melayang ke mimpi tadi, mimpi yang membuatnya tidak mau bangun.

Ah, tapi dia kan sahabat gue. Masa iya dia ada perasaan sama gue? Pikirnya.

Reja cepat-cepat menghalau pikiran ngaco dari kepalanya.

Dia dan Naja hanya sahabat, dan sampai kapanpun tetap sebatas itu.

To : Najaleak :p

Iya ndut. Lo semangat terus yaaa :*
Eh gue kesiangan masa :")

"Iya saya juga semangat kok." Reja terkejut bukan main mendapati si pak dosen sudah berdiri disampingnya dan membaca SMS yang ia ketik.

"Hehehe. Si Bapak bisa aja." Reja cengengesan tak berdosa.

Apes, ponsel Reja malah disita.

"Ambil nanti saat jeda kelas ya, keruangan saya."

Reja menghela napas pasrah, tapi tetap dengan senyum yang masih tersisa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 15, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Me & Fat BurnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang