60. Hal Yang Lebih Penting (Part 2)

663 68 8
                                        

MAMA terkikik melihat penampilan Naja pagi ini.

Naja yang berbeda dari biasanya.
Rambutnya dicepol rapi. Sepatu kets dan jeans belel yang biasa dikenakan Naja seolah sudah dimuseumkan. Hari ini Naja mengenakan rok hitam panjang dan sepatu flatshoes dengan warna senada.

"Coba aja kalo kayak gini tiap hari, pasti banyak yang suka."

Naja mencebik, "Belum ada yang suka, Naja duluan yang pegel-pegel."

Mama tertawa, dan menawarkan nasi goreng pada Naja.
Naja dengan senang hati duduk dimeja makan dan mulai menyantap nasi goreng yang by the way, enak pake banget.

"Data udah dibawa semua?" Mama mengingatkan.

Naja yang sedang mengunyah mengangguk.

"Jadi, 2 bulan lagi kamu berangkat?" Tanya Mama.

Naja mengangguk lagi.

Mama cemberut, "Santai amat jawabnya. Emang beneran mau pergi ya?"

Naja nyaris tersedak, "Lah, kalo gak beneran ngapain Naja susah-susah ikut sampe sekarang? Mama ada-ada aja deh."

"Maksud Mama, apa kamu gak ngerasa something gitu, berhubung ntar lagi mau pergi keluar negeri, gak boleh pulang dalam waktu yang lama."

Naja berhenti mengunyah, "Excited dong, Ma. Bakal jadi penduduk Jepang. Hohohoho."

Mama yang kesal karena ketidakpekaan Naja jadi gemas. "Terserah kamu deh."

Mama manyun sambil mengunyah nasi goreng.

Naja berkerut-kerut hidungnya melihat ekspresi Mama yang kelihatan bete.

Tapi gausah diperpanjang dulu deh. Ada yang lebih penting untuk sementara. Dan ini demi Mama juga.

Naja menyantap nasi goreng hingga tandas, beriringan dengan klakson yang berbunyi didepan, tanda si penjemput sudah nyampe.

"Naja pamit deh." Mama masih manyun.

Naja mencium pipi Mama dan menarik tangannya, dicium juga. "Assalamualaikum. Restuin Naja ya, Ma."

Saat Naja hendak melangkah, Mama bangun dari duduknya dan memeluk Naja.

"Mama sebenarnya berat melepas kamu pelatihan tiap harinya. Karena tiap hari kamu akan semakin jauh dari Mama. Tapi kalau ini keinginan kamu, Mama restui, Nak."

Mama mengusap punggung Naja perlahan, membuat Naja bahagia, hangat, dan terharu dalam saat bersamaan.

Naja belum pernah merasakan pelukan lain, tapi ia tahu, hanya Alm. Papa dan Mama yang punya dan bisa memberikan pelukan seperti ini.

"Bismillah, ini Naja lakukan buat Mama." Bisiknya.

Dengan sedikit berat hati ia melepas pelukan Mama.

"Naja pergi dulu."

***

Si penjemput yang ternyata Niko itu cengengesan melihat pakaian Naja.

"Pegawai kantoran ya, Mbak?"

Naja menggeleng, "SPG."

Niko tertawa renyah dan segera menjalankan mobil.

Demi segala keefisienan waktu dan materi, Naja memutuskan untuk berangkat bersama Niko.

Karena hari ini jadwal kelas Naja dimulai siang, Reja sedang ngebo di kosnya.

Sebenernya si cungkring itu mau saja jika Naja meminta, namun Naja mengerti, Reja sangat butuh istirahat, dan tidur sampai siang adalah kenikmatan yang jarang ia dapatkan.

Me & Fat BurnerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang