19. Menyusun Rencana

2.3K 264 29
                                        

NAJA tidak mau berlama-lama dalam kesedihan. Urusan Reja yang ngambek, akan ia kesampingkan dulu. Sekarang, ia harus fokus pada tujuannya : diet.

Masa bodo juga sama Niko yang maksa-maksa ngajak belajar bareng buat pemagangan itu. Toh, masih setahun lagi. Terlebih menatap Niko lama-lama membuat hatinya sakit.

Eh tapi, kalo sakit hati itu bisa membuat ia kurus, maka ia rela menatap Niko bahkan selama 24 jam nonstop.

Tak dapat Naja pungkiri, tingkah ngambek Reja membuatnya tetap merasa sedih juga.

Reja pindah tempat duduk ke sebelah Irkan, dan Naja duduk sendiri.

Reja ke kantin sendirian, makan batagor sendirian juga, bahkan ngerjain tugas sendirian.

Diajakin ngomong ga jawab, disapa ga nengok, ditelpon ga diangkat, disms ga dibalas, apa sih mau nya? #liriklagu

Naja ingin membiarkan Reja menenangkan diri juga.

Naja mengerti, mereka berjanji bahwa persahabatan dintara mereka tidak pernah ada rahasia, dan Naja mengingkari janji itu.

Mengotori persahabatan indahnya bersama Reja.

Tapi biarlah, intinya Reja butuh menetralkan perasaan marahnya, dan Naja butuh fokus pada rencananya.

***

Naja menatap mangkuk batagor didepannya dengan tatapan sendu, biasanya ia menikmati batagor ini berdua dengan Reja, penuh tawa, penuh suara cempreng Reja yang meledeknya, dan suara jitakan Naja pada Reja.
Rasa batagor Mang Asep yang biasanya membuat lidah Naja bergoyang, sekarang terasa hambar, semuanya karena Reja.

Bahkan Mang Asep sampai bertanya, "Tumben Neng Naja bayar sendiri, ga dibayarin Reja?".

Naja cuma  menjawab dengan senyuman pahit.

Bahkan biasanya Naja yang makan 4 porsi, hari ini cuma makan 2 porsi.

"HALO NAJAAA!".

Fiona tiba-tiba duduk disamping Naja.

Naja cuma tersenyum kecut.

"Kenapa lo? Sakit?". Fiona melongok dan melihat wajah Naja benar-benar.

"Gapapa kok!". Jawab Naja dengan ekspresi seceria mungkin.

Fiona mengangguk maklum, meski hatinya masih merasa janggal.

"Gimana rencana diet lo?".

Naja menutup mulut Fiona, "Jangan berisik! Nanti ada yang denger!".

Fiona nyengir kuda, "Oke, bos! Maaf. Hehehe."

"Barangnya kan udah ada, gue tinggal nyusun tips dietnya." Jawab Naja dengan suara pelan.

"Lo mau diet, tapi masih makan batagor 2 porsi?". Fiona melirik piring batagor yang kosong.

Naja terkekeh, "Kan programnya belum jalan! Perpisahan dulu gapapa, kalik!"

Fiona manyun, "Yeee, maka itu biasain dulu dari sekarang, Na!".

Naja tertawa garing. Adanya Fiona sebenernya agak membantu, dirinya tidak terlalu nampak kesepian.

Fiona tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Naja, "Yuk!".

"Kemana?". Naja masih tidak ingin beranjak dari bangkunya.

"Ke ruang Pak Helmi." jawab Fiona.

"Ntaaar! Batagornya belum abis!". Naja menyiapkan batagor dengan tangannya yang bebas dari cengkraman Fiona.

Me & Fat BurnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang