10. Berbaikan (Part 2)

2.8K 283 7
                                        

NASHA yang duduk dihadapan Naja cuma ngaduk-ngaduk es jeruknya.

Sementara Naja sedang melahap sate kambing Pak Umar yang terkenal se-Batam, dan buka sampai subuh.

Saat mereka sampai, sebenarnya Pak Umar sedang berkemas, namun melihat Naja dan Nasha yang merupakan langganan abadi satenya, Pak Umar membakar sate kambing favorit Naja, hanya untuk Naja sebelum mereka tutup sebentar lagi.

"Wo nga ma'an?". Tanya Naja dengan mulut penuh lontong dan sate.

Nasha tertawa, "Ditelen dulu baru ngomong, Bun. Kebiasaan!".
"Lo gak makan?". Tanya Naja lagi selepas ia menelan makanan.

Nasha menggeleng, "Ga boleh. Nilai kalori sate kambing...."

Nasha membuka smartphone nya dan membuka apk khusus pemantau diet yang sudah ia setel.

Naja menyambar sebelum Nasha berbicara, "Gue gamau tau hitungan kalori, mending lo kasi gue hitungan rumus buat ngerancang mesin!".

Nasha terkekeh, "Gue taunya ukuran desain baju buat dijahit. Kita beda tau."

Naja mengangguk, "Gue bakal jadi insinyur, dan lo desainer. "
Kemudian Naja menggigit sate.

"Masih enak, Na?". Tanya Nasha tiba-tiba.

Naja yang sedang mengunyah, mengerutkan dahinya, "Maksud lo?".

"Rasa sate kambingnya masih sama kayak dulu ga?". Tanya Nasha lagi.

Naja tersenyum jail, "Kenapa tanya-tanya? Pengen yaaa?".

"Gue iri sama lo." Kata-kata Nasha membuat Naja tersedak. Nasha geleng-geleng kepala lalu cepat memberi minum.

"Apaan sih? Dari kemarin ngomongnya iri mulu. Yang ada, gue yang iri sama lo. Udah cantik, langsing. Banyak duit pula."

Nasha tertawa sumbang, membuat Naja makin heran, karena Naja menyadari tawa itu seperti tawa tanpa nyawa, "Emang. Tapi kebahagiaan ga selalu datang dari hal yang berbentuk fisik dan materi. Asal lo tau, Na. Gue dicekat makan dan waktu sama agensi. Bahkan gue ga sebebas dulu untuk bisa ngajak Mama dan lo jalan."

Naja mengangguk maklum, "Tapi sekarang  biaya kuliah gue, biaya sekolah Narya bahkan biaya hidup lo sendiri bisa lo penuhi. Lo udah bisa ngeringanin beban Mama. Untuk tujuan dan hal apapun yang kita inginkan dalam hidup, harus ada pengorbanan."

Tiba-tiba Nasha menjitak Naja, "Sok bijak nih. Bilang aja lo seneng kan karena sekarang lo gampang minta traktirin. Ya kan?".

Naja cemberut, "Gue serius, kampret. Namanya mau duit ya harus capek lah. Mana ada orang cuma goyang-goyang kaki terus masuk duit. Pe'a lo!".

"Yeee, ada lah. Tukang jahit? Doi kan goyang kaki juga. Masuk duit tuh." Nasha tertawa kemenangan. Naja makin cemberut.

"Cakep-cakep otak lo setengah!". Sembur Naja. Nasha masih tertawa.

Seolah permusuhan mereka sudah mencair begitu saja.

Apapun yang terjadi, jika dua orang saling menyayangi, mereka mudah untuk saling menyakiti, namun mudah pula untuk saling memaafkan.

***

Penyiksaan. Mungkin ini yang bisa Naja katakan. Naja kira selepas makan sate dan singgah di tempat ibadah mereka bakal langsung pulang karena sekarang hampir pukul 6.

Tapi tidak, Nasha si cewek langsing-nyebelin-model terkenal-yang sialnya adalah kakak kandung tercintanya, membawanya ke alun-alun kota.

Dan disinilah Naja, menghirup napas sebanyak-banyaknya.

Me & Fat BurnerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang