🎐MAGENTA | 2🎐

99.3K 4.2K 154
                                        

Suasana kantin SMA Andalas pada saat jam istirahat masih seramai biasanya. Magenta berjalan dengan gaya cool nya menuju lapak mang Ujang yang berada di ujung timur, lapak langganannya selama ini.

"Mang, gado-gado satu sama es jeruk nya satu ya." ucap Magenta kepada seorang lelaki dengan kemeja putih itu.

"Siap Gen," Mang Ujang tersenyum menatap Magenta.

Meski hanya sebagai pemilik warung di kantin SMA Andalas, Mang ujang berpenampilan rapi tidak seperti yang lainnya. Lelaki yang rambutnya sudah mulai di tumbuhi uban itu selalu memakai setelan kemeja setiap berjualan. Kata mang Ujang, ia seperti itu supaya jadi tukang warung berkelas.

Magenta berjalan ke arah sudut kantin menghampiri ke dua temannya yang terlebih dulu sampai disana dengan piring di tangan kanan dan gelas di tangan kiri.

"Lama banget," ucap teman Magenta yang bisa dibilang cukup dekat demgannya.

Namanya Vino Aditama, cowok yang satu ini Magenta kenal sedari waktu Mos dulu. Penampilannya cukup oke jika dikategorikan siswa SMA yang cukup beken di sekolahnya. Vino ini adalah salah satu anggota band di sekolah ini, cowok itu mengambil posisi sebagai gitaris.

Vino cukup di gandrungi oleh gadis gadis di sekolah ini. Tak jarang ada yang secara terang terangan menyerahkan surat terbuka yang berisi pernyataan cinta padanya. Namun walau begitu belum satupun gadis berhasil mengikat perasaannya. Vino berkata bahwa ia memiliki sebuah masalalu yang menyebabkannya menjadi tidak terlalu tertarik untuk menjalani hubungan kembali.

"Habis dari toilet, ngantri tadi." Magenta meletakkan piring dan gelasnya di atas meja.

"Eh, lo suka sama cewek yang tadi?" Pertanyaan itu membuat Magenta berhenti mengunyah.

Pertanyaan ini teelontar dari teman magenta yang satu lagi. Namanya Jo, anak seorang pedagang emas yang tokonya sudah di mana mana. Jo adalah yang paling tajir diantara mereka bertiga.

Setiap orang pasti ketawa jika tahu nama lengkap Jo ini. Dengan muka tampan khas negeri tirai bambu ini pasti tak akan ada yang menyangka bahwa nama lengkapnya adalah Sutejo Daryono.

Menurut penuturan Jo, nama itu diberikan bukan karena ia ada darah jawa atau apa. Nama itu adalah nama seorang supir angkot yang pernah mengantar ibunya pada saat akan melahirkan dirinya. Jadi untuk menghargai jasa Pak Tejo yang merangkap sebagai pahlawan kelahiran Jo, nama itu akhirnya di berikan.

"Cewek yang mana?" tanya Magenta setelah mengosongkan isi mulutnya dengan cara di telan.

"Magika, yang tadi lo iket tali sepatunya."

Otak Magenta seketika membayangkan gadis yang jatuh di hadapannya tadi. Cowok itu tersenyum ketika mengingat betapa lucunya kejadian tadi. Sebenarnya ia ingin ikutan tertawa seperti teman temannya yang lain, tapi takut dosa karena menertawakan orang yang terkena musibah.

"Namanya Magika?"

"Iya. Lo suka dia?"

Magenta menggeleng, mana mungkin ia bisa menyukai seseorang yang bahkan belum ia kenal sama sekali. Lagi pula Magenta rasa posisi gadis yang menjadi cinta pertamanya belum tergantikan sema sekali meski ia telah mencoba menjalani hubungan dengan Rani dahulu.

Jo berdecak sebelum akhirnya ia buka suara kembali. "Gue kira suka,"

"Kenapa emangnya?" Magenta mengangkat sebelah alisnya.

"Karena lo perhatian sama dia, jadi gue berpikiran begitu."

"Gue cuma kasihan sama dia. Itung itung nambah pahala juga." ucap Magenta, lalu cowok itu menyeruput es jeruk yang telah ia pesan tadi.

MAGENTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang