Sepanjang perjalanan mengikuti arah gadis di depannya melangkah, Magenta lebih banyak diam. Begitu pula dengan gadis di depannya. Entahlah, ia merasa suasana nya sedang tidak mendukung jika digunakan untuk sekedar basa basi ataupun bertanya kabar.
Langkah gadis itu pada akhirnya berhenti di taman yang berada tepat di tengah sekolah mereka. Tak ada seorangpun disana kecuali mereka berdua. Gadis itu memilih duduk di bangku yang terdapat di sudut taman, beberapa detik berselang Magenta pun mengikuti.
"Lo mau bicarain apa?" tanya Magenta.
Gadis itu menatap Magenta lalu ia berdecih, "Lo yang seharusnya bicara."
Magenta diam. Ia tak mengerti dengan situasi ini. Apa yang harus ia bicarakan? Magenta tidak merasa ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan gadis di sebelahnya ini.
"Pertama lo tiba-tiba aja pacaran sama Rani tanpa pernah cerita sedikitpun sama gue, dan sekarang gue pergi seminggu aja ternyata lo tiba-tiba putus. Kenapa lo gak pernah mau terbuka sih Gen? Lo anggap apa persahabatan kita yang udah terjalin selama bertahun tahun?" Gadis itu berujar meluapkan segala emosi dalam dirinya. Ia cukup kecewa atas sikap Magenta yang selama ini ia rasa kurang terbuka terhadap dirinya. Mereka sudah bersama sejak SMP, namun sikap Magenta selama ini seakan akan mereka baru saling mengenal beberapa hari dan tak pantas untuk tahu akan kehidupan masing-masing.
Magenta diam membisu, ia tahu ia salah. Namun walau begitu, ia tak bisa mengungkapkan semuanya semudah itu. Terlalu sulit untuk mengucap segalanya.
"Genta! Lo lunya mulut untuk bicara kan?" Sentak gadis itu.
"Ras, gue minta maaf," ucap Magenta setelah menghela napas berat.
"Ah, bagus. Pada akhirnya lo sadar akan kesalahan lo. Jadi kenapa semuanya tiba-tiba?" Gadis yang bernama asli Larasati Adriana itu bertanya kembali. Ia merasa butuh penjelasan untuk semua yang terkesan tiba-tiba ini.
"Gue emang udah gak bisa sama Rani lagi,"
"Kenapa? Dia ada salah sama lo?"
Magenta menggeleng, di sini Rani tidak salah sama sekali. Ialah yang salah telah membiarkan gadis itu masuk terlalu jauh.
"Lalu kenapa?"
"Gue sebenernya ga ada perasaan apa-apa sama dia."
"What?!" Laras membuka mulutnya kaget. Fakta baru ini membuat dirinya tercengang. Laras tak habis pikir, jadi untuk apa selama ini Magenta menjalani hubungan jika ia tidak memiliki perasaan sama sekali?
"Lo mikir gak sih Gen, kalau Rani sampai tahu semua ini perasaan dia bakal kaya apa?" tanya Laras kembali, sudah dapat di bayangkan bahwa jika Rani sampai tahu maka gadis itu pasti akan sangat hancur. Siapa juga yang akan tetap berdiri tegak jika dihadapkan persoalan semacam ini? Sekuat apapun bentengnya Laras yakin bahwa siapapun itu di dunia ini pasti akan hancur juga. Itu terlalu menyakitkan untuk di jalani.
"Dia udah tahu, bahkan sejak awal."
Laras dibuat tercengang untuk satu kali lagi. Astaga, jika Rani sudah tahu kenapa pula gadis itu masih terus bertahan? Apakah dia sebodoh itu untuk tetap bertahan meskipun ia tahu di hati orang yang ia cintai tidak terukir namanya?
"Gue gak ingin menyakiti dia lebih jauh lagi, itu kenapa gue memilih untuk menyudahi semuanya."
Sekuat apapun Magenta berusaha untuk mencintai gadis sebaik, secantik, dan se sempurna Rani. Tetap saja Magenta tidak bisa. Entah sampai kapan Magenta akan berada di dalam posisi seperti ini. Tetap bertahan mencintai satu gadis yang bahkan tidak pernah tahu bahwa ia begitu mencintai gadis itu.
🎐🎐🎐
Pintu kamar terbuka dengan keras, suaranya sampai mengagetkan dua orang yang berada di dalamnya. Kedua orang itu menatap wajah kusut Magika yang baru saja datang dengan masih berbalutkan seragam putih abu-abu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Teen Fiction#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
