Sebelumnya aku mau minta maaf karena keterlambatan update. Aku harus merevisi naskah sebelah, jadi dengan sangat berat hati harus menomor duakan MAGENTA. Yaudah langsung baca aja yaa, semoga terhibur❤
🎐🎐🎐
Seharian ini hanya dihabiskan Magenta untuk berdiam di rumah, cowok yang saat ini hanya menggunakan celana hitam pendek dan juga kaos oblong seadanya itu sebenarnya sudah sempat berangkat ke sekolah tadi pagi.
Namun secara tidak diduga ia bertemu dengan kepala sekolahnya di lapangan. Kepala sekolahnya itu memintanya untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Magenta tidak banyak berkomentar, ia menurut saja. Begitu pula ketika kepala sekolahnya itu memintanya untuk tidak bersekolah selama beberapa hari, Magenta juga tidak berkomentar apapun.
Baginya lumayan juga bisa dapat libur, meski hanya beberapa hari. Seperti saat ini cowok itu mengisi day off-nya dengan bermain PS. Jemarinya dengan lincah menekan berbagi tombol untuk dapat memenangkan game gulat yang terpampang di layar LCD ruang keluarganya.
"Gen, mama berangkat dulu ya."
Magenta menekan tombol pause, lantas cowok itu menoleh sambil mengangguk. "Iya ma, hati-hati."
Meta hanya mengangguk, wanita itu mengelus kepala Magenta sejenak lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Magenta tersenyum menatap kepergian mamanya. Sejak hari itu, hubungan mereka sudah berangsur membaik.
Pada akhirnya, Meski tidak membenarkan namun sedikit demi sedikit Meta mulai menerima sekaligus memahami alasan Magenta memukuli Rendy. Dan Magenta sangat bersyukur mengenai hal itu.
Magenta menekan tombol pause untuk memulai kembali game nya. Belum lagi ia memenangkan game nya itu suara Jo tiba-tiba saja menggema dan jujur itu sangat memekakan telinga. Suara itu membuat konsentrasinya buyar seketika.
"Good Afternoon, Magenta sahabat gue tersayang," ucap Jo ketika Magenta sudah dapat melihat wujudnya dari jarak dekat.
Magenta meletakkan stik Psnya di meja, ia lantas mendelik kearah cowok bermata sipit tersebut. "Bagus banget lo ya, mentang mentang gak ada nyokap gue teriak-teriak gitu. Lo kira rumah gue hutan?"
Jo hanya terkekeh geli menanggapi Magenta. Cowok itu lantas berjalan menuju dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang keluarga. Ketika ia sudah sampai di depan kulkas, cowok bermata minimalis itu mengetuk ngetuk jarinya di dagu menimbang minuman apa yang hendak ia ambil dari dalam sana.
Kalau boleh diibaratkan, kulkas di rumah Magenta itu ibarat surga dunia. Makanan dan minuman berjejer rapi, hanya tinggal pilih saja. Pilihan Jo pada akhirnya jatuh ke sekotak yoghurt blueberry merk kenamaan, cowok itu lantas menusuk bungkusnya dengan sedotan lalu menyeruputnya.
"Yang nyuruh lo ambil itu siapa, hah?!" Magenta berdiri sambil berkacak pinggang menatap Jo yang dengan santainya menyeruput yoghurt tersebut.
"Tejo! Mau dong!"
Magenta mendadak menoleh, ia menatap Magika dengan suara menyebalkannya itu tengah berdiri di ruang keluarga rumahnya. Gadis itu kelihatannya tidak menyadari keberadaan dirinya, itu terbukti dengan bagaimana ia justru memilih untuk menghampiri Jo daripada dirinya yang notabene adalah yang punya rumah.
"Tejo, minta," pinta Magika ketika jarak mereka hanya tinggal menyisakan beberapa langkah.
"Di kulkas ada banyak. Ambil sendiri," ucap Jo sambil melirik ke arah kulkas.
Magika mengangguk, gadis berseragam putih abu itu pundengan langkah yang semangat berjalan menuju kulkas lantas langsung membukanya. Tanpa berpikir panjang lebar, gadis bermbut panjang itu menjatuhkan pilihannya pada sekaleng minuman bersoda. Alasannya memilih itu sangat sederhana, warnanya yang merupakan perpaduan dari merah dan juga pink sangat menarik.
Ketika Magika baru saja hendank membuka tutup minuman tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari arah belakangnya.
"Ngapain lo ngambil itu?" tanya Magenta datar, tangannya terlipat di dada juga alisnya terangkat sebelah.
Magika refleks memutar balikan badannya, gadis itu nyengir kuda mempertontonkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi. Lantas sebelah tangannya ia gunakan untuk membuka kulkas dengan posisi membelakangi.
"Gue balikin lagi ya," ucap gadis itu sambil tersenyum kikuk.
Tiba-tiba saja Magenta mencondongkan badannya, tangan kanannya cowok itu gunakan untuk menutup kulkas yang setengah terbuka. Jarak antara Magenta dan Magika cukup dekat kini, bahkan Magika dapat merasakan dengan jelas setiap hembusan napas dari Magenta.
Harus dikatakan, bahwa Magika begitu deg deg an di dalam posisi seperti ini. Wajah tampan Magenta denga hidung mancung, alis tebal, serta rahangnya yang tegas yang terpampang nyata di hadapannya saat ini membuat Magika meneguk salivanya berulang kali.
Ia grogi, benar-benar grogi. Jantungnya terasa dipompa ribuan kali lebih cepat kini.
Magenta menarik mundur badannya, ia menegakkan kembali tubuhnya. Cowok itu lantas bersandar pada sebuah tiang ypenyangga yang memisahkan antara ruang keluarga dan juga dapur.
"Udah minum, buruan."
Magika menatap kearah Magenta ragu, di keningnya terlihat kerutan yang sangat jelas. "Beneran?"
Magenta mengangguk pasti. "Iya, kalo kurang ambil aja lagi."
"Gue juga boleh ambil lagi Gen?" tanya Jo antusias.
"Gak boleh."
"Dih, apa-apaan lo. Masa Magika boleh gue nggak? Di mana keadilan untuk manusia tertampan di bumi ini ya Tuhan?" Jo berseru tidak terima.
"Orang cantik sama orang yang Cuma ngaku ganteng mah emang beda kelas sih ya," ucap Magika seraya terkekeh. Gadis itu lantas membuka tutup minuman itu dan menyeruputnya.
"Lo ngapain ke sini, dan kenapa harus sama Jo?" tanya Magenta heran.
Setahunya selama ini hubungan Jo dan Magika tidaklah dapat dikatakan baik, mereka selalu adu mulut untuk hal-hal yang tidak penting sekalipun. Dan jika kini mereka berdua datang secara bersamaan tentu itu memunculkan beragam tanda tanya di kepalanya.
"Kenapa? lo cemburu?" tanya Magika dengan senyuman, alisnya naik turun berusaha menggoda cowok di hadapannya itu.
Magenta berdecih. "Gue? Cemburu sama lo? Buat apa deh Gi, gak guna banget."
Magika mendelik sebal kearah Magenta, lalu gadis itu memilih berjalan menuju ke sofa empuk yang ada di ruang keluarga. Gadis itu duduk di sana sambil meminum softdrink yang ia genggam dan juga memakan beberapa snack yang tersedia di meja.
Magenta menatap takjub kepada Magika yang bertingkah seolah ini rumahnya sendiri. Padahal ini adalah kunjungan pertama gadis itu, bukannya jaga image atau apa gadis itu justru bertingkah semaunya sendiri.
"Lo gak bisa jaim dikit yan emangnya?" tanya Magenta sambil berjalan mendekat, cowok itu lantas duduk di sebelah Magika.
Gadi itu menutup salah satu toples yang berisi kacang polong, lalu ia menyenderkan bahunya dan menggeleng polos. "Ngapain juga jaim di depan calon sendiri?"
"Siapa calon lo? Jo?" Magenta menaikkan sebelah alisnya.
Jo yang merasa namanya dibawa-bawa pun ikut mendekat dan duduk di sofa yang sama, cowok itu duduk di sebelah kanan Magika. Dan jadilah gadis iu kini duduk diantara dua cowok tampan---maaf ralat. Satu cowok tampan, dan satu lagi cowok yang sok tampan.
"Calon gue ya lo lah, kan gue udah pernah bilang gue bakal pakai nama belakang lo di masa depan. Magika Anandini Ardhiyasa, sounds good kan?" ucap Magika dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Magenta dan Jo kompak memasang ekspresi jijik seakan mau muntah di saat juga. "NAJISIN GI, SUMPAH!"
🎐🎐🎐
Vote comment dan share jangan lupa.
Dan doakan juga aku bisa update dalam waktu dekat.
Oke, see ya!!
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Teen Fiction#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
