🎐MAGENTA | 21 🎐

48.7K 2.9K 17
                                        

Persoalan Magenta yang masuk ke penjara benar-benar membebani Magika. Persoalan ini bukanlah persoalan kecil, apalagi ini mengenai Magenta. Semua yang terjadi pada Magenta itu adalah karena dirinya.

Andai kala itu ia menurut untuk tidak nekat menyelidiki semuanya, ia pasti tidak akan pernah berurusan dengan Rendy, dan Magenta tidak mungkin juga terkena masalah. Semua ini tidak mungkin terjadi jika Magika menuruti perkataan Magenta kala itu.

Magika menyesal. Ia menyesali semuanya. Ia menyesali beragam kebodohan yang menyebabkan malapetaka bagi Magenta. Dan seperti janji yang pernah ia kumandangkan dalam hati, Magika akan membebaskan Magenta. Apapun caranya.

Di depan sebuah perusahaan ritel ternama Magika kini berada. Hari ini Magika memilih untuk bolos sekolah hanya untuk dapat datang kesini, ia tak peduli dengan konsekuensi poinnya yang semakin bertambah. Yang penting masalah ini bisa cepat selesai, bagi Magika itu sudah lebih dari cukup.

"Permisi, mbak ini siapa ya? Mau melamar pekerjaan?" tanya seorang satpam dengan perawakan tinggi, atletis, dan juga wajah yang terbilang cukup tampan.

Untuk sejenak Magika terpaku memandang wajah satpam di depannya, namun dengan segera gadis itu berusaha menguasai dirinya kembali. Tidak akan lucu kalau semua rencananya hancur berantakan hanya karena terpesona dengan satpam muda nan tampan.

"Sa... Saya... Magika," balas Magika dengan senyum malu malu kucing. Pipinya terasa memanas, ia paling tidak kuat jika harus berhadapan dengan spesies spesies tampan menggoda iman seperti ini.

"Ada perlu apa ya? Kok kelihatanhya bingung gitu dari tadi?"

"Anu.... Mau cari Bu Aneth."

"Sudah buat janji?"

Magika menggeleng, jangankan membuat janji. Kenal, berbicara, atau bahkan bertatap muka pun belum pernah ia lakukan. Ia datang kesini karena informasi yang ia terima dari beberapa sumber bahwa Aneth, bekerja di sini atau lebih tepatnya ialah yang memiliki perusahaan ini.

"Kalau mau ketemu dengan Bu Aneth harus buat janji dulu, soalnya beliau jadwalnya cukup padat."

Magika mengangguk maklum, wanita itu adalah pemilik dari salah satu perusahan ritel terbesar di Indonesia. Jadi wajar saja jika hanya ingin bertemu pun ribetnya ngalah ngalahin bertemu presiden.

Di lobi Magika melihat seorang wanita paruh baya dengan rok hitam sedengkul dan juga blous bunga sedang berjalan ditemani oleh beberapa orang di belakangnya. Semua yang wanita itu lintasi tampak begitu segan dan hormat terhadap wanita itu.

Melihatnya Magika dapat menarik kesimpulan bahwa wanita itu kemungkinan Aneth, wanita yang ia cari. Tanpa pikir panjang gadis itu bergerak dengan setengah berlari menghampiri wanita tersebut.

"Bu Aneth!" panggil Magika.

Wanita itu menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Magika. Magika tersenyum, itu artinya dugaannya kemungkinan besar adalah benar.

"Siapa ya?" tanya wanita itu dengan tatapan bingung.

"Saya Magika Bu, temennya Rendy di sekolah," jawab Magika sopan.

"Ah, ada apa ya?"

"Ada yang mau saya bicarakan Bu, penting."

Aneth terlihat berbincang dengan beberapa orang di belakangnya sejenak, kemudian orang-orang itu pergi dan Aneth mengajak Magika untuk memasuki lift.

Aneth menekan tombol 10, yang artinya ia akan dibawa ke lantai yang sesuai dengan angka itu. Suasana di dalam lift begitu canggung, Aneth tidak mengajaknya berbicara. Dan Magika pun terlalu sungkan untuk mengajak wanita itu berbicara.

MAGENTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang