Mari kita buktikan mengenai asumsi kalian di bab lalu.
Happy reading semuanya❤
🎐🎐🎐
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Usai makan-makan mereka semua pergi menuju sebuah taman yang tidak jauh dari rumah Magenta. Vino tidak ikut, karena cowok itu berkata sudah punya janji dengan keluarganya. Begitu pula dengan Meta, wanita itu juga memilih untuk berdiam di rumah.
Di sebuah rerumputan hijau mereka terduduk, Magenta diantara Laras dan Magika sedangkan Jo duduk tepat di sebelah Magika. Dengan perut kenyang mereka duduk sambil menanti kembang api menghiasi langit kota Jakarta.
"Gak kerasa ya udah mau 2019 aja," ucap Laras tiba-tiba sekaligus memecah keheningan yang sebelumnya menyelimuti mereka. "Di tahun 2019, semoga mimpi gue jadi model internasional bisa terealisasi. Udah itu aja sih,"
Senyum mengembang tampak jelas di wajah Laras, Magenta ikut tersenyum. Ia akan selalu mendoakan yang terbaik untuk orang-orang yang ia sayang. Selagi mereka bahagia, ia akan ikut bahagia juga.
"Amin, semoga tercapai ya." Magenta mengelus puncak kepala Laras.
Magika yang menyaksikan itu hanya bisa diam dengan hati yang terasa pedih. Ingin menangis rasanya melihat Magenta dengan lembut membelai puncak kepala Laras. Magika mendongakkan kepalanya, ia menatap langit cerah bertabur bintang. Setidaknya itu lebih baik ia rasa, daripada sakit hati melihat mereka berdua.
Mengerti dengan apa yang Magika rasakan, Jo menyentuh pundak gadis itu. Senyuman dari Jo menyiratkan bahwa Magika harus kuat menghadapi setiap kenyataan yang ada. Tidak peduli seberapa menyakitkannya itu.
Suara ponsel tiba-tiba terdengar, suara itu berasal dari saku celana Laras. Tanpa menjauh sedikitpun Gadis itu mengangkat telepon yang masuk.
"Halo Ma,"
"..."
"Laras masih dirumah Magenta, kenapa?"
"..."
Entah apa yang didengar Laras melalui sambungan teleponnya. Namun seketika gadis itu menjatuhkan ponselnya di tanah dan langsung menelusupkan kepalanya di dada bidang Magenta dengan tangisan yang pecah.
"Ras, lo kenapa?" tanya Magenta panik.
Ini pertama kalinya melihat Laras menangis, sejauh yang ia tahu Laras itu adalah gadis yang kuat. Seberapa besar pun masalah yang ia hadapi Laras tidak sekalipun meneteskan air matanya di hadapan orang lain. Lalu sekarang, melihat Laras menangis tersedu-sedu seperti itu tentu membuat kepala Magenta dipenuhi banyak tanda tanya.
"Kakek gue Gen," jawab Laras masih dengan sesenggukan.
Magenta memegang kedua bahu Laras, perlahan menjauhkannya dari dirinya. Cowok itu menangkup wajah Laras yang kini sudah sembab, dipenuhi air mata yang terus mengalir seakan tanpa henti.
"Ras, tell me. Yang jelas, jangan setengah-setengah."
"Kakek gue meninggal."
[BEBERAPA BAB TELAH DIHAPUS UNTUK KEPENTINGAN PROSES PENERBITAN, BUAT YANG MAU BACA LEBIH LENGKAP BISA IIKUTAN PRE ORDERNYA TANGGAL 24 SEPTEMBER, ATAU BELI NOVELNYA. TERIMAKASIH SUDAH MAU MEMBACA CERITA INI❤]
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Teen Fiction#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
