Bau berbagai obat-obatan terasa sangat menusuk indera penciuman. Sebenarnya, Magika paling tidak suka jika harus berada di tempat seperti ini. Namun berhubung ini demi sang pujaan hati, Magika harus menepis beragam ketidaksukaannya itu.
Gadis itu dengan telaten mengkompres mata sebelah kanan Magenta dengan air hangat. Magika tak menyangka bahwa efek yang ditimbulkan dari lemparan sepatunya akan se dahsyat ini. Magenta benar-benar terlihat mengenaskan dengan mata yang bengkak sebelah seperti itu.
Jujur kalau Magika harus berkata, Magenta kehilangan sebagian pesonanya dalam keadaan seperti ini. Namun ini justru membuat Magika semakin bertekad untuk merawat Magenta dengan sepenuh hati untuk mengembalikan wajah tampan cowok itu.
"Gue bisa sendiri, lo balik aja ke kelas." Entah itu sudah yang keberapa kalinya Magenta mengucapkan kalimat yang sama, dan dengan jumlah yang sama pula kalimatnya itu tidak di gubris oleh gadis di hadapannya.
"Gak masalah kok Gen, gue bakalan disini sampai lo sembuh," balas Magika.
"Dalam waktu seminggu aja gak yakin gue kalau bakalan sembuh," ucap Magenta, setelah melihat keadaannya di kaca tadi ia pesimis bengkaknya ini akan kempes dalam waktu satu minggu.
"Gue siap menanti lo sembuh, bahkan sampai akhir hayat sekalipun gue sanggup kok Gen." Magika tersenyum.
Magenta sendiri menautkan alisnya, apakahkah kalimat yang barusan keluar dari mulut gadis di hadapannya ini adalah salah satu jenis gombalan? Seriusan, Magenta di gombalin cewek yang bahkan baru kemarin ia temui?
Astaga, sebenarnya dimana urat malu gadis ini?
"Nama lo?"
"Magika Anandini, biasa di panggil Magika. Kalau lo mau panggil sayang atau cinta juga boleh kok. Gue ikhlas."
Bener kata Jo. Ini cewek gak waras. Batin Magenta.
"Magika."
"Iya sayang.... Eh..... iya Genta, ada apa ya panggil Magika?"
"Tolong beliin gue es teh di kantin."
"Oke, tunggu sebentar ya." Magika langsung berdiri dan berjalan ke kantin.
Sampai di depan kantin, Magika berhenti sejenak. Ia lupa bertanya pada Magenta, es teh dari kedai yang mana yang paling cowok itu sukai. Magika berniat berbalik untuk kembali ke UKS dan menanyakannya, namun ia urungkan niatnya itu.
Kalau ia kembali pasti akan memakan waktu yang banyak, secara UKS dan juga kantin jika di ibaratkan berada di dua sudut sekolah yang berlainan. Jika Magika kembali untuk bertanya, nanti takutnya Magenta sudah keburu tidak kuat menahan haus. Magika kan tidak mau cowok itu sampai dehidrasi dan pada akhirnya pingsan.
Tidak ada pilihan lain, Magika harus membeli es teh dari ke enam kedai yang ada.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Magika segera bergegas kembali ke UKS. Ia membuka kenop pintu dengan wajah ceria, namun dalam sekejap raut cerianya itu berubah menjadi raut kebingungan. Magika bingung ketika mendapati ruang UKS kosong, dan Magenta tidak ada disana.
"Eh, liat cowok yang matanya bengkak gak tadi disini?" tanya Magika kepada seorang siswa anggota PMR yang baru saja masuk kedalam ruang UKS.
"Kayanya udah keluar deh."
"Kemana?"
"Pas gue tanya, gue dikacangin gitu aja."
Magika menghela napasnya. Kenapa Magenta ini suka sekali sih membuatnya untuk berpikir keras. Sekarang di mana kira kira Magenta kini berada. Apa dia pulang? Atau mungkin dia ada di kelasnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Teen Fiction#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
