🎐MAGENTA | 16🎐

60.1K 2.9K 73
                                        

Di sebuah kamar yang tidak terlalu luas dengan warna cat dinding berwarna abu-abu yang mendominasi Magenta duduk di atas ranjangnya yang terdapat di tengah kamar sembari mengelap rambutnya yang basah menggunakan handuk.

Hujan mengguyur kota dengan sangat deras ketika ia pulang sekolah tadi, bahkan sampai sekarang hujan itu masih juga belum berhenti. Magenta menatap pantulan dirinya di cermin, ia dapat melihat dirinya yang shirt less ia hanya berbalut celana pendek berwarna hitam kini.

Mukanya terlihat sangat lelah hari ini, mungkin ini adalah efek dari diadakannya ulangan Matematika dan juga Fisika secara bersamaan. Ketika Magenta merebahkan badannya di kasur, tiba-tiba saja wajah Magika muncul di bayangannya.

Dan seketika juga pertanyaan Magika soal kenapa alasan dirinya peduli dengan gadis itu seolah terputar kembali.Magenta menghela napasnya kasar, ia sendiri tidak mengerti apa alasan yang mendasari dirinya untuk se peduli itu pada Magika.

Asal kalian tahu, selepas pelajaran usai tadi Magenta tidak sengaja melihat Magika melintas menuju kearah belakang sekolah. Gadis itu sendirian, tanpa seorang pun disisinya. Entah apa yang Magenta pikirkan kala itu sehingga ia lebih memilih untuk mengikuti langkah kaki Magika secara diam-diam dari pada berlatih di studio sekolah bersama teman-temannya.

Awalnya Magenta memang sempat memiliki firasat tidak enak, ia mengkhawatirkan gadis itu. Dan ternyata terbukti, gadis itu bertindak cerobah. Namun untungnya ia segera membantu Magika untuk dapat menghindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi jika ia tidak segera menyeret Magika ke gudang.

Tunggu. Ia mengkhawatirkan Magika? Untuk apa? Memang siapa gadis itu sampai-sampai ia harus repot untuk memperhatikan? Magika bukan siapa siapa di hidupnya, dan mungkin selamanya akan begitu.

Gadis berambut panjang itu tidak mungkin akan Magenta jadikan sebagai teman dekatnya, karena jelas Magika itu terlalu annoying. Dan lebih daripada itu Magenta tidak akan pernah pula menjadikan Magika sebagai pacarnya. Karena jelas, Magika sama sekali tidak masuk ke dalam kriteria perempuan idamannya.

Magenta mengubah posisinya menjadi duduk, cowok itu menghela napasnya kasar. Ia akan mengenyahkan Magika dari pikirannya. Karena memikirkan gadis itu benar-benar tidak penting sama sekali.

Suara handle pintu terdengar di putar, Magenta refleks membalikan badannya dan mendapati Laras tengah berdiri dengan raut wajah canggung di ambang pintu sana.

"Lo gak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Magenta. Sejujurnya ia sangat tidak suka jika ada orang lain yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu, tak terkecuali keluarga nya sendiri.

"Maaf," ucap Laras dengan nada canggung yang mendominasi. "Tante Meta suruh lo turun ke bawah," tambah Laras lagi lalu gadis itu kembali menutup pintu kamar Magenta.

Magenta kemudian berdiri, ia membuka lemari pakaiannya dan menjatuhkan pilihan pada kaos putih berlogo FILA pada bagian depannya. Setelah itu dengan segera Magenta turun ke lantai satu untuk menemui mamanya di sana.

Di lantai satu, atau lebih tepatnya di ruang makan ia dapat melihat Laras dan Meta----mamanya saling bahu membahu menyusun makanan di meja makan.

Magenta menarik seulas senyumnya menatap Laras, gadis itu sangat cantik apalagi jika rambutnya terurai seperti itu. Definisi wanita yang hampir sempurna bagi Magenta adalah Laras, setelah mamanya tentu saja.

 Definisi wanita yang hampir sempurna bagi Magenta adalah Laras, setelah mamanya tentu saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MAGENTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang