Dinginnya ruang BK benar-benar menyapa kulitnya saat ini. Suasana horor menyelimuti, Bu Jeni si guru Kimia, Pak Bambang si guru Matematika, dan Pak Eko si guru BK duduk berjejer tepat di depan Magika dan Magenta.
Apalagi yang akan ketiga guru itu lakukan selain memberi nasihat panjang lebar lalu pada akhirnya memberi hukuman. Kemungkinan di bebaskan begitu saja rasanya sangat kecil. Magika menghela napasnya berkali kali sembari menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Saya sudah dengar bahwa kalian berdua sama sama membohongi guru kalian. Kenapa kalian berbohong? Demi berkencan di kantin?"
Magenta memutar bola matanya sambil mendengus kasar. Kenapa sih orang-orang selalu menganggap adanya hubungan spesial diantara dirinya dan Magika?
Pertama abang bakso yang waktu itu, dan kini ketiga gurunya juga beranggapan seperti itu. Apa alasannya? Apa bagi orang lain mereka ada kecocokan? Dari segi mana coba?
Sumpah demi apapun ya, sampai hari ini, sampai detik ini, Magenta belum punya ketertarikan dengan gadis di sebelahnya ini. Atau bahkan mungkin ia tidak akan pernah tertarik pada Magika, karena jelas Magika tidak masuk tipe idealnya sama sekali.
"Gini ya Pak, gak ada sama sekali judulnya saya kencan sama ini manusia," ujar Magenta sambil mengarahkan telunjuknya pada Magika.
"Lalu, kenapa kalian janjian di kantin? Terus pake segala lari-larian menghindari saya?" Kali ini Bu Jeni ikut bersuara.
"Kita gak janjian di kantin Ibu Jeni yang terhormat." Magenta berujar setengah frustasi. Entah harus dengan apa lagi ia meyakinkan kepada semuanya bahwa apa yang telah terjadi hanyalah kebetulan semata dan tidak ada yang direncakan.
"Halah bohong, jangan ngeles deh kamu." Pak Bambang berucap dengan suara beratnya yang khas.
Sekali lagi Magenta menghela napasnya kasar, ia menoleh kearah Magika yang kini masih stay di posisinya. Gadis itu bersandar di sofa dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
"Gi, lo ngomong kenapa sih! Diem mulu lo dari tadi, jelasin deh!" Magenta menepuk pelan pundak Magika, gadis itu langsung menegakkan tubuhnya seketika lalu menatap wajah Magenta.
"Gue harus ngomong apa? Percuma aja lo ngomong dari a sampai z bahkan sampai mulut lo berbusa sekalipun, lo gak bakalan bisa lolos dari hukuman dan poin."
Magenta sedikit tercengang dengan kalimat yang keluar dari mulut Magika. Gadis itu ada benarnya juga, sekeras apapun ia melakukan pembelaan Pak Eko pasti tidak mungkin juga melepaskan mereka begitu saja tanpa di beri hukuman terlebih dahulu.
"Sekarang gini deh, Bapak mau hukum kami apa? Buruan bilang, jangan buang buang waktu saya yang berharga ini." Magika berujar santai.
Untuk yang kedua kalinya Magenta dibuat tercengang oleh perkataan Magika, lagi lagi ucapan Jo mengenai Magika yang tidak waras terbukti benar adanya.
Coba deh kalian pikirkan, mana ada sih orang waras yang berbicara seperti itu pada gurunya? Magenta tidak habis pikir dimana sebenarnya otak Magika itu, memangnya ia tidak memikirkan mengenai konsekuensi yang akan ia dapatkan jika berbicara seperti itu?
"Untuk hukuman saya serahkan pada Pak Eko, tapi yang jelas hari ini kalian berdua akan dianggap tidak hadir di kelas," ucap Bu Jeni. Lalu setelahnya ia pergi meninggalkan ruang BK dan disusul oleh Pak Bambang.
Pak Eko menghela napas berat, pandangannya mengarah pada Magika. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya gadis itu masuk ke ruang BK dan berurusan dengannya dengan masalah yang sama, yaitu membolos.
Sejak awal masuk hingga sekarang Magika memang tidak pernah berubah, gadis itu masih saja suka membolos. Namun ia membolos bukannya di semua pelajaran, gadis itu hanya bolos di jam pelajaran yang tidak ia sukai saja. Misalnya untuk pelajaran Matematika dan Kimia untuk semester ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Ficção Adolescente#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
