Ramaikan bab ini dengan Vote dan komentar kalian, karena kalo rame aku bakalan update lagi besok. Tapi kalo sepi sepi aja, kalian bisa nunggu dua sampai tiga hari lagi baru bisa baca lanjutnya.
Oke, langsung aja. Check it out👇👇
🎐🎐🎐
Hari pembagian nilai ulangan selalu saja sukses membuat jantung setiap insan berdegup kencang. Mulai dari yang pintar, yang biasa saja, sampai yang tingkat kepintarannya dibawah rata-rata pun merasakan atmosfer yang serupa.
Setiap nama yang dipanggil ke depan Magika perhatikan dengan saksama raut wajahnya. Jika cerah, maka ia yakin nilainya bagus. Begitu pula dengan yang kembali ke bangku dengan wajah suram, sudah dapat di pastikan nilainya sesuram wajahnya.
Dari ke empat puluh siswa IPA 5 hanya dua orang yang belum dipanggil, dan salah satunya adalah Magika. Jantung Magika terasa dipompa ribuan kali lebih cepat, tangannya berubah jadi dingin karena gugup.
"Magika Anandini," panggil Bu Jeni, guru Kimia berbadan gempal yang kacamatanya turun sampai ke pangkal hidung.
Tangan Magika bergetar menerima kertas ulangan yang ia kerjakan satu minggu lalu. Ia sudah dapat menebak nilainya pasti tidak memenuhi standar, karena Magika nol besar dalam pelajaran itu. Atau teknisnya ia nol besar di hampir semua mata pelajaran.
"Belajar yang bener, jangan pacaran mulu kamu," ucap Bu Jeni dengan volume yang rasanya dapat didengar oleh seisi kelas.
"Dih, pacaran sama siapa Bu. Orang jomblo gini," sahut Magika.
"Halah, gak usah sok ngartis. Pake backstreet-an segala kamu sama si Magenta."
Mendengar ucapan ngawur dari Bu Jeni sontak seisi kelas langsung heboh menerka hubungan diantara Magika dan Magenta. Magika mengendikan bahunya. Ia sih tidak ambil pusing jikalau harus digosipkan pacaran sama Magenta, ya hitung hitung ucapan mereka adalah doa dan siapa tau dikabulkan oleh Tuhan.
Gadis itu lantas kembali ke tempatnya dan berniat untuk melihat nilai ulangannya dengan raut wajah tegang, tangannya pun masih ikut bergetar memegang kertas itu. Ketika ia baru saja menggerakkan tangannya untuk membuka kertas yang terlipat itu suara Olla menghentikannya.
"Lo udah jadian sama Magenta Gi? Kok gak cerita? Terus PJ buat gue mana nih?" cerocos gadis itu.
Magika menoleh menatap sahabatnya itu dengan wajah kesal, gadis itu lantas berdecak. "Lo nih, ngerusak suasana dramatis tau gak!"
Olla nyengir kuda memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Sorry, sok atuh dilanjut."
Magika kembali mengarahkan pandangannya ke kertas ulangannya, dan ketika ia melihat hasil nilai ulangannya badannya melemas seketika. Gadis itu bersender di bangkunya sambil memeluk kertas ulangan dengan nilai merah tersebut.
"Dapet berapa Gi?" tanya Olla penasaran.
"Lima belas," jawab Magika diiringi rengekan alay khasnya.
Bukannya ikut berduka cita atas musibah yang menimpa sahabatnya, Olla justru tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui nilai ulangan Magika.
"Lo kenapa ketawa? Menurut lo ini lelucon?" Magika mendelik kesal.
"Lima belas Gi? Aduh, itu nilai apa nomor absen sih?" Olla tertawa kembali, lebih keras kini. Perutnya bahkan sampai sakit karena menertawakan Magika.
🎐🎐🎐
Magika memasuki halaman rumahnya dengan muka yang tertekuk, penyebabnya masih sama. Nilai ulangan kimia nya. Sebenarnya begini, ia tidak begitu mempermasalahkan angka itu karena itu memang sudah biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGENTA
Novela Juvenil#1 FiksiRemaja 16 Agustus 2019 Magenta Ardhiyasa. Pentolan Band The Rythm dengan suara dan tampang yang sama-sama mempesona. Siapa yang tidak mengenalnya? Seisi SMA Andalas mengenalnya, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai ikon Pacar idaman. Dib...
