24th
Sabtu yang kelabu. Jakarta diguyur hujan sejak pagi tadi, membuat Yoona semakin ingin meringkuk di dalam selimut seharian. Sayangnya, ia tetap harus bangun karena ada janji dengan partner MC-nya untuk acara kampus minggu depan.
Hari sudah siang tapi hujan tak kunjung berhenti. Yoona mendesah panjang sembari menatap halaman rumahnya dari jendela kamar.
Ini harus ke kampus banget ya?
Setelah mengulur-ulur waktu, akhirnya Yoona keluar dari kamarnya dengan terpaksa. Terlebih setelah ia mendapat chat dari panitia bahwa rapat hari ini tetap dilaksanakan.
Lagu-lagu sendu dari playlist-nya menemani Yoona di tengah hujan dan kemacetan siang itu. Sesekali jarinya mengetuk-ngetuk roda kemudi mengikuti irama, sesekali pula ia ikut bernyanyi. Hujan dan kemacetan memang waktu yang tepat untuk mendengarkan lagu sendu.
Waktu yang tepat pula untuk merenung dan menenggelamkan diri dalam kesedihan.
Yoona menghela napas panjang. Ia kembali diingatkan akan hubungannya dengan Chanyeol yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Masih segar di ingatannya kejadian kemarin sore ketika ia hendak mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil Chanyeol.
Chanyeol sedang berdiri menyandar mobilnya ketika Yoona membuka gerbang rumahnya, seolah-olah ia sudah menunggu kedatangannya. Tangan cowok itu menimbang-nimbang ponsel yang Yoona ketahui sebagai ponselnya yang tertinggal tadi dini hari. Chanyeol mengangkat kepala ketika mendengar gerbang rumahnya dibuka.
Yoona memasang wajah sedatar mungkin ketika berjalan mendekat. Ia berkali-kali mengatakan pada dirinya untuk tetap tenang. Tinggal ambil hape terus cabut, Na, segampang itu, begitu mantranya dalam hati.
"I'm still on your lockscreen," kata Chanyeol tanpa menatap Yoona. Kedua matanya tertuju pada ponsel Yoona di tangan.
Yoona pun langsung menghentikan langkahnya, hanya beberapa jengkal di hadapan Chanyeol. "Aku mau ambil hape aku, Chan," ujar Yoona tanpa perlu menanggapi apa yang Chanyeol katakan barusan.
"Dan passcode-nya masih tanggal lahir aku," lanjut Chanyeol lagi.
"Chanyeol," panggil Yoona. Entah mengapa. Ia hanya ingin melakukannya.
Kini Chanyeol mengangkat kepala dan menatapnya dalam-dalam. Setelah beberapa detik, ia pun tertawa pahit yang membuat tenggorokan Yoona tercekat.
"Kamu nggak bisa tiba-tiba bangun pagi terus lupa sama semua rasa kamu ke aku."
Napas Yoona tertahan. Tatapan tajam itu. Nada menuduh itu.
Berkali-kali Yoona membuka mulut tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari sana. Bibirnya kelu, di saat dadanya terlalu penuh menampung semua gejolak emosi yang ia rasakan.
"So what now? Tiga tahun hubungan kita udah gak ada artinya buat kamu?"
Chanyeol sendiri tidak tahu apa yang membuatnya meledak seperti ini. Semula ia hanya ingin memberikan ponsel Yoona tanpa menambah masalah. Tetapi melihat gadis itu di halaman rumahnya, melihat wajahnya yang datar tanpa senyuman hangat seperti biasa, mampu mendobrak semua pertahanannya.
Yoona, Yoona. You and all the things you do to me.
Mungkin dia akan menyesal besok karena terlalu mengikuti perasannya, tetapi Chanyeol tidak ingin memikirkan itu sekarang. Ia hanya ingin memastikan sesuatu. Memastikan bahwa Yoona masih di sampingnya, bahwa mereka masih berjalan berdampingan menuju tujuan yang sama.
"It's not like that," kata Yoona akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
"Then enlighten me. Kenapa kamu kayak menjauh dari aku, Na?" He sounds desperate but he doesn't give a damn anymore. "Aku minta maaf kalau aku terkesan egois dengan minta space ke kamu selama dua minggu ini. Kalo itu memang menyakiti kamu, aku minta maaf."
KAMU SEDANG MEMBACA
Day by Day
FanficKumpulan cerita kocak, aneh, dan menggemaskan tentang keseharian Yoona dan Chanyeol. [Diadaptasi dari akun RP Chanyeol dan Yoona di instagram yang aku bikin beberapa waktu lalu. Yang belum follow, boleh difollow dulu yaa namanya @/yoonatheala dan @...
