Maap nih telat lama banget hahahaha but it's here now. Ini aku edit di hp jadi semoga spacing-nya nggak bermasalah ya, nggak keliatan berantakan. Enjoy!
***
Yoona bangun pagi dengan perasaan campur aduk. Setelah sukses dibuat menangis bombay semalam berkat Chanyeol, pagi ini Yoona bisa merasakan suasana yang begitu berbeda di rumahnya. Rumahnya jauh lebih tenang daripada biasanya. Bahkan dengan kehadiran Yuri, si kakak paling cerewet sedunia, rumah tetap terasa sepi pagi ini.
Mama lebih banyak diam. Beliau bahkan tidak berkomentar ketika Yoona mengabaikan sayur brokoli yang dimasaknya. Bi Ulan juga sama saja. Tidak ada ocehan berbahasa Sunda yang biasanya mewarnai sarapan di meja makan. Yoona bahkan yakin ia melihat tangan Bi Ulan bergetar saat meletakkan segelas susu di hadapannya.
Yuri melirik semua orang di meja yang diam membisu, lalu mendesah panjang.
"Lebay banget sih. Yoona cuma pergi dua bulan, itu juga deket," katanya putus asa.
Mama sekalipun tidak meliriknya. "Namanya pergi ya tetep pergi, mau lama atau nggak, jauh atau dekat."
Yuri menghela napas. Setengah cemberut, dia berkata, "Kalian kayaknya nggak gini waktu Yuri tugas terbang pertama kali."
"Kakak nggak tau sih Mama sampe nggak mau makan hari itu," Seohyun menimpali dengan santai.
"Mama juga nggak mau masakin kita karena katanya kasian Kak Yuri nggak ikut makan," Yoona menambahkan. Ia masih sedikit kesal kalau teringat hal itu.
Papa yang mulai mencium tanda-tanda keributan pun hanya tertawa kecil. "Cewek-cewek Papa ini sama aja semuanya. Yang kecil-kecil suka ribut, yang tua sendiri cengeng minta ampun."
"Pa!" Mama memprotes sebal. Ia lalu menoleh ke arah Yoona, anak tengahnya yang hari ini akan bertolak ke negeri orang.
"Yakin nggak perlu dianterin Papa sama Mama dulu? Kita bisa stay di sana paling nggak sampe besok, sampe kamu udah settle."
Mau tidak mau, Yoona terkikik. "Nggak usah kali, Ma. Sampe sana kita bakal ditemenin Jenny, sepupunya Suho yang udah tinggal di sana dari lahir, kalo Mama lupa."
Mama mendesah panjang. "Tetep aja, Kak."
Papa meraih tangan Mama di atas meja dan menepuk-nepuk punggung tangan itu dengan gerakan menenangkan. "Yoona akan baik-baik aja, Ma. Dia udah gede."
"Apa Chanyeol aja suruh ikut kamu beberapa hari ya, Kak? Kan dia cowok, pasti bisa jagain kamu sama Irene sekaligus."
Yoona memutar bola matanya. Bener-bener drama mamanya ini. "Ya nggak bisa lah, Ma. Dia kan juga harus magang."
"Ma, kalo Chanyeol ikut Yoona ke Singapura, yang ada malah lebih bahaya." Papa menyipitkan mata tidak setuju.
Suasana meja makan langsung ramai seperti biasa, dengan perdebatan lucu antara Mama dan Papa. Ketiga anak gadis mereka pun saling menimpali. Sepertinya kegalauan yang sempat melingkupi ruang makan itu sudah terlupakan.
Selesai sarapan, Yoona masih punya banyak waktu hingga keberangkatannya nanti selepas makan siang. Waktu luang ini ia gunakan untuk sekadar tidur-tiduran di kamar sambil scrolling timeline instagram. Tapi ada satu postingan yang sedari tadi menyita perhatiannya, apa lagi kalau bukan video yang Chanyeol upload barusan. Mengingat surprise semalam, Yoona jadi senyum-senyum sendiri.
"Buset gue ampe bosen dengernya," Yuri, yang juga sedang telentang di karpet bawah tempat tidur Yoona, berkomentar tajam. Yoona berkali-kali memutar video itu dengan volume cukup keras. Yuri sampai hafal kapan saja Chanyeol menarik napas di lagu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Day by Day
FanfictionKumpulan cerita kocak, aneh, dan menggemaskan tentang keseharian Yoona dan Chanyeol. [Diadaptasi dari akun RP Chanyeol dan Yoona di instagram yang aku bikin beberapa waktu lalu. Yang belum follow, boleh difollow dulu yaa namanya @/yoonatheala dan @...
