30

28.1K 921 130
                                        

Takut.

Sekarang itu benar-benar menggambarkan Raffi, yang sekarang lagi berdiri di depan pintu kelas dengan kedua kaki yang gemetaran. Heh, tadi sok lu mau langsung nembak, bilang kagak perduli lah mau ini kek, mau itu kek. Pala bapak kau tu, taunya sekarang gemeteran cuma gara-gara ngeliat doi.

Raffi terpaku di depan pintu kelas saat melihat Bunga sedang ngobrol dan tertawa bersama Novita. Entah apa yang dibahas mereka, tapi senyuman Bunga itu..

Bikin ati abang melumer kek keju-keju horang sugih.

Raffi tersadar dari lamunannya tentang Bunga, saat merasakan ada sebuah senggolan di bahunya.

"Eh Raffi, ternyata kita emang jodoh. Buktinya sampe ke senggol segala." Finara sang pelaku penyenggolan itu tersenyum sambil meraih tangan Raffi.

Astajim, mo muntah guwe..

Raffi segera menyentak tangan Finara dan berjalan menjauhi-nya, tapi lagi-lagi Finara menahannya.

"Dengerin gue dulu, Raff. Gue itu masih cinta ama lu." Katanya, Raffi sama sekali tidak mau denger dan malah masuk ke kelasnya. Membuat Finara benar-benar merasa kesal.

"KENAPA SIH LU ITU GAK PERNAH DENGERIN GUE!!" Teriak Finara yang membuat semua orang terkejut, termasuk Bunga, Novita, Nissa, dan semua orang lah pokoknya.

"Eh, anjeng lu kalau mau ribut sana di lapangan aja. Atau gak ku-" Kata-kata Nissa terpotong.

"APA? KENAPA KALAU GUE RIBUT?" Finara semakin kesal. "Bangsat lu, Raff! Lu pasti berubah karena cewe ini, apa bagusnya dia. Masih bagus gue." Lanjutnya sambil menunjuk Bunga yang cuma nga-nga gak paham.

"Oh, gue tau pasti lu cuma mau mainin dia aja kan? Lu masih cinta kan sama gue?" Finara memberikan tatapan memelas pada Raffi.

"Lu ama gue itu udah end," kata Raffi singkat.

Gue berasa nulis drama-drama yang sering ditonton ama mak gue, deh. Yang nguras air mata itu.

Finara berjalan ke arah Bunga di kursinya.

Srekk!

Ia lalu menarik rambut Bunga, "Pokoknya apapun milik gue akan tetep jadi milik gue!! Raffi kagak pantas ama lon*e kayak lu."

Nissa lalu mendorong Finara sampai ia melepas jambakan-nya. "Lu bilang apa hah? Kagak punya kaca lu dirumah?" Tanya Novita kesal.

Finara ingin maju lagi, tapi tangan Raffi menahannya dan segera menyeretnya keluar ruangannya yang udah berisik kek pasar ikan itu.

(-_-)

Bunga memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sejak setengah jam lalu. Saat ini ia sedang mengerjakan soal seni budaya yang merupakan mata pelajaran terakhir dalam ujian.

"Sekarang silahkan kumpulkan dan boleh pulang." Ujar Pak Arief, sembari membenarkan posisi kacamatanya. Bunga serta semua siswa X IPS 1 segera maju ke depan dan mengumpulkan kertas ujian mereka.

"Bung, lu kagak pa-pa kan?" Tanya Novita, yang melihat Bunga nampak lesu.

Bunga hanya mengangguk setelah itu keluar kelas, setelah memakai tas-nya.

Bunga merasakan langkahnya terhenti, karena tangannya tertahan sesuatu. "Bung.." panggil Raffi.

Bunga nengok ke belakang. "Maafin gue." Ucap Raffi pelan.

"Bukan salah lo kok." Balas Bunga sambil tersenyum tipis. Ia lalu melepaskan tangan Raffi sari tangannya dan lanjut berjalan menuju ke gerbang sekolah.

Meninggalkan Raffi yang berdiri sambil mengumpat kesal disana. Kakinya bahkan terasa kaku saat ingin mengejar Bunga.

Gue emang gak berguna, maafin gue Bung.....

(>_<)

Rangga yang sedang berjalan menuju parkiran merasa heran saat melihat Bunga berjalan agak sempoyongan sambil memegang kepalanya menuju ke gerbang sekolah. Ia dengan segera menyusul Bunga, sambil berlari.

"Bunga!" Bunga berhenti dari langkahnya tanpa menoleh kebelakang.

"Bung?" panggil Rangga, namun tubuh mungil Bunga segera limbung dan terjatuh ke belakang.

"Bunga!!!"

Bunga akan terjatuh ke tanah jika saja Rangga tidak menahan tubuhnya. Rangga terlihat cemas saat melihat darah segar sudah mengalir dari hidungnya.

"Gue suka ama lo, Raff."

Ucap Bunga yang membuat Rangga membeku.

____

Gantung lagi?? Emamg hobby gue mah.

VoteComent

Impressive Love [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang