44

6.3K 238 1
                                        

Pagi itu Bu Ayna __guru Bimbingan Konseling__ masuk dengan tatapan sangar ke kelas XI IPS 1, kelas yang selama ini terkenal sebagai sarang keributan.

Guru berkaca mata, yang menjabat juga sebagai Kesiswaan itu melihat ke seluruh penjuru kelas yang senyap tanpa suara, matanya menatap tajam pada empat serangkai Raffi, Husein, Anggito, dan Rendy yang pura-pura duduk tenang kursi mereka.

"Raffi mana dasi kamu?! Itu rambut kamu panjang gitu, kamu kesini mau sekolah atau mau apa?!" Ucap Bu Ayna pedas, sepedas mie samyang. Astagafirulahhh puasa:)

Sementara Raffi hanya diam tak bergeming. Ia menatap masam Anggito yang terdengar menertawakannya.

"Kamu Husein?! Kenapa dasi kamu diikat-ikat di jidat gitu?! UDAH MAU JADI NARUTO KAMU?!" Hardik Bu Ayna pada Husein, yang membuat seisi kelas menahan tawa, Husein hanya menatap dongkol pada Bu Ayna dan melepas dasi dari keningnya.

"Kalian ini?! Kesini itu buat sekolah! BUKAN BUAT YANG ANEH-ANEH!" bu Ayna berujar sambil melihat ke seluruh penjuru kelas.

"Rendy sama Anggito juga! Kalian berdua tadi pagi terlambat kan?! Ibu liat kalian lari-lari dari arah gerbang, kalian sogok berapa lagi itu pak Mamat?" Tanya Bu Ayna, yang benar-benar sudah naik pitam karena keempat muridnya ini.

"Sudah, ibu gak mau liat lagi tingkah kalian yang aneh-aneh! Kalo masih aja ada yang semacam ini ibu liat, ibu hukum kalian di tiang bendara nanti!" Kata Bu Ayna, ia kemudian menerangkan mata pelajarannya.

"Aelah, kalo kita kaga aneh-aneh, nanti mah ibu kaga ada kerjaan, terus ibu mau makan apa kalo gak ada kerjaan?" Anggito berkata sepelan mungkin agar tidak terdengar, nampak kekesalan ada di wajahnya.

....

Kantin Sma Jaya Bhakti hari ini benar-benar membeludak, dikarenakan sang Casanova sekolah hari ini memutuskan makan di kantin bersama anak buahnya.

Terdengar sorak-sorai para fans-nya, terutama kaum hawa.

Raffi berjalan dengan cool sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tampil urak-urakan tidak membuatnya terlihat jelek, malah dimata kaum hawa Raffi terlihat bak dewa Adonis.

"Git, pesan sana." Suruh Husein, pada Anggito. Sementara ia asik duduk di kursi panjang sambil melihat gadis-gadis yang lewat, pemuda bertato lambang bintang di dada itu tak jarang langsung menggoda bahkan meminta langsung nomor Whatsaap para gadis yang lewat.

Raffi hanya menggelengkan kepalanya, sementara Rendy hanya acuh sambil kembali menyesep rokoknya. Tak lama setelah itu Anggito datang membawa satu nampan berisi enam mangkuk Bakso.

"Lah! Kok ada enam?" Tanya Husein heran, Anggito nyengir. "Tiga buat gue, tiga buat klean." Katanya sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Astagafirulah, maruk amat lu." Balas Rendy mengusap dadanya. Di tengah suasana makan mereka berempat tiba-tiba terjadi keributan.

Arya datang sambil berlari ke arah meja Raffi, nafasnya terdenger tak beraturan.

"Kenapa lu, Ya?" Tanya Raffi, bingung.

"Itu.. itu Raff.." ucapan Arya terbata, ia masih menormalkan nafasnya. "Bunga tadi dicegat anak 11 MIPA 4, ke gudang belakang sekolah!" Kata Arya panik. Raffi segera berdiri, kemudian berlari ke tempat yang dikatakan Arya tadi, dikuti Rendy, Husein, dan Anggito, serta Arya.

...

"Hai cantik, hhehe gue mau kenalan boleh gak?" Bisik seseorang tepat di telinga Bunga, membuatnya begidik serta ketakutan.

"L-lo siapa?! J-jangan dekat-dekat sama gue." Ucap Bunga bergetar, nampak ketakutan terlihat dimatanya, ia merasa ada di dalam bahaya, bersama orang ini, orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Gue padahal suka sama lu, tapi sayangnya lu udah punya." Ujarnya lagi dengan wajah kecewa.

Ada di kukungan pemuda ini Bunga sama sekali tidak berani bergerak, ia ingin menangis, ia sangat takut.

Siapapun tolong..

'BRAKKKK!!' Terdengar pintu gudang di buka paksa dengan amat keras, di depan pintu nampak Raffi dengan wajah marahnya.

"BANGSAT!! LU MAU APAIN CEWE GUE ANJING!!" Raffi mengumpat kasar, setelah itu menarik kerah baju Zeland dengan paksa keluar gudang.

Zeland Ramanggu Pradipta, siswa kelas XI MIPA 4 yang cukup terkenal karena tajir, serta cukup tampan, walaupun ia tidak seterkenal Raffi, nampaknya namanya pun bisa ikut disandingkan bersama Raffi, Zeland juga terkenal suka masuk BK, dalam seminggu mungkin bisa dua sampai tiga kali.

Satu pukulan keras Raffi tepat mendarat di pipi kanan Zeland, membuat sudut bibir pemuda itu mengeluarkan darah. Raffi kemudian kembali menarik kerah baju Zeland, membuat para siswa siswi yang melihat kejadian itu menyoraki keduanya, memberi dukungan atas perkelahian itu.

'Bhuakk'

Satu pukulan balasan Zeland tepat mengenai pipi Raffi, membuat bekas membiru disana. Keduanya menatap sengit, sampai akhirnya Nissa dan anggota OSIS lainnya melerai perkelahian mereka.

"Udah, kalau kalian mau berantem, dirumah aja, nanti luka disini obat UKS abis lagi." Kata Selvina jutek, ia merupakan salah satu wakil ekstrakulikuler PMR, dan salah satu penjaga ruang UKS sekolah.

"Lu berdua ikut gue ke BK!" Wildan berujar dengan datar, serta tegas, membuat Raffi terpaksa melepaskan cekalan tangannya dari kerah baju Zeland.

Zeland mengusap sudut bibirnya yang berdarah, ia tersenyum remeh saat menatap Raffi, yang berjalan dibelakang Wildan yang membawanya ke BK.

Tapi sebelum itu, "Jangan berani menyentuh hal yang udah jadi milik gue." Bisiknya pada Zeland, membuat cowok itu seketika meremang.

***

"UDAH BERANI YA KALIAN BIKIN ONAR DENGAN BERANTEM-BERANTEM GINI!" Lagi-lagi suara Bu Ayna menggelegar ke seluruh ruang BK, dimana terdapat Zeland dan Raffi disana.

"Kamu Zeland," Tunjuk Bu Ayna pada Zeland. "Ini keempat kalinya dalam minggu ini kamu masuk BK! Kenapa kamu sama sekali tidak ada perubahaan, ibu bosan liat kamu bikin onar, entah bolos, merokok, terlambat, kurang rapi dan sekarang berantem!"

"Aelah ibu saya-"

"APA?! PELANGGAN TETAP BK?!" Potong Bu Ayna cepat, membuat Zeland tertunduk. "Sudah, kalian saling minta maaf." Suruh Bu Ayna.

Mata Raffi mendelik tak suka, tapi dengan terpaksa mereka bersalaman di hadapan Bu Ayna. "Inget kita belum selesai," bisik Zeland, Raffi dengan acuh meninggalkan Ruang BK, bahkan tanpa pamit pada Bu Ayna.

"Oalahh, anak kurang ajar emang." Umpat bu Ayna, Zeland cengengesan di kursinya kemudian bersalaman dengan Bu Ayna sampai akhirnya melenggang pergi.

***

"RAFF! RAFFI!"

Raffi menoleh saat mendengar suara cempreng Bunga memanggil namanya.

"Lo gak pa-pa, Raff? Yuk ke UKS gue obatin lukanya." Bahkan tanpa persetujuan Raffi, Bunga tetap menariknya menuju UKS.

B E R S A M B U N G. . .

Follow ig: @anissaftr17_
Folow akun wp-nya juga kalo belum:)

ZelandBunga
Or
RaffiBunga
?

Oh iyaa mon maap bngt ada Toxic-nya tadi, gak boleh diikutin ya nak lagi puasa ini:)

Nge-gantung juga nih, maaf banget😂

Dadahhhhh semua, see you in next part❤

Impressive Love [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang