51

3.3K 153 2
                                        

***
Raffi duduk di sofa rumah Bunga atas paksaan mama Bunga. Pemuda itu berdecak kesal saat melihat Bunga turun dari lantai dua kamarnya dengan memakai baju tidur. "Raffi, kok disini?" Tanya Bunga dengan tatapan heran.

Raffi mengerucutkan bibirnya. "Kan udah dibilang kita malam ini jalan." Ujar Raffi, Bunga terkekeh. "Ya kirain itu becanda." Balasnya seraya terkekeh.

"Ish. Gak becanda itu." Cibir Raffi. "Yaudah, tunggu bentar aku ganti baju." Ucap Bunga, Raffi mengangguk. Pemuda bersurai hitam itu menatap kepergian Bunga ke kamarnya.

Beberapa saat kemudian Bunga turun dari kamarnya dengan memakai kemeja putih, serta celana jeans biru tak lupa memakai sepatu convers senada dengan warna kemejanya. Raffi tak bisa berkedip saat melihat Bunga mengepang rambutnya ke sampan kiri.

"Udah yok!" Ajak Bunga, Raffi mengangguk.

Bunga terlihat berjalan ke arah dapur untuk menemui mamanya. "Mom, Bunga jalan ya sama Raffi." Ucap Bunga sambil menyalimi tangan mommy-nya itu. Khalita tersenyum, "Jagain Bunga ya, Raff." Wantinya pada Raffi, Raffi terkekeh seraya menyalimi tangan ibunda sang kekasih itu.

"Pasti Raffi jagain nih, ini kan calon menantu mama." Ucapnya, Bunga tertawa sambil mencibit pelan pinggang lelaki itu.

Khalita ikut tertawa melihat interaksi kedua muda-mudi dihadapannya ini. Raffi sama persis tingkahnya seperti ibunya, Zaalima. Yang merupakan sahabat dekatnya dari SMP sampai SMA. Zaalima itu gadis tomboy dulunya, sebelum menikahpun ia berkerja sebagai anggota mata-mata intel, yang memang cita-citanya sejak dahulu. Wanita yang memiliki sabuk hitam karate itu tak disangka dapat menarik perhatian seorang anak konglomerat dari keluarga Nugraha, Rajata Nugraha. Papa Raffi yang terkenal dingin dan cuek. Walaupun memiliki wajah yang copy paste seperti ayahnya, Raffi ternyata mewarisi sifat ibunya yakni periang dan suka bercanda.

"Awas kamu macam-macam sama Bunga, tante lapor nanti ke mama kamu," Gurau Khalita. Raffi mengacungkan ibu jarinya. "Gak bakal kok, tan." Ucap Raffi, kemudian dua muda-mudi itu sama-sama keluar rumah Bunga.

***
Raffi dan Bunga saat ini berada disalah satu café yang akhir-akhir ini cukup banyak diminati karena temanya memang di design khusus untuk anak muda.

"Kirain bakal ngajak ke hotel love," Celetuk Bunga, Raffi tertawa, "Beneran mau? Yaudah yok kita kesana." Ujar Raffi, dihadiahi tatapan nyalang oleh Bunga.

"Hehe, becanda." Kekehnya. Salah satu waiter café itu kemudian datang dan bertanya apa yang ingin mereka pesan. Setelah pesanan mereka datang kedua muda-mudi itu kembali mengobrol.

'Drttttt' -Suara ponsel Raffi bordering, lelaki yang memakai jaket berwarna abu-abu cerah itu segera mengangkatnya.

Bunga diam menatap Raffi yang sedang berbicara di sambungan telpon. 'Ya gue kesana.' Kalimat terakhir itu dapat didengarnya.

Bunga menautkan alisnya. "Siapa?" Tanyanya, "Temen." Balas Raffi singkat, wajahnya terlihat berubah. Lesu.

"K-kamu kenapa?" Tanya Bunga, Raffi menghela nafasnya. "Aku minta maaf banget, aku harus pulang duluan. Sahabat aku sakit." Ucapnya, Bunga seketika membeku.

"I-its oke, aku bisa pulang naik taksi." Balas Bunga , ia tersenyum getir.

"Maaf banget ya, aku udah bayarin ini. Kamu habisin, habis itu langsung pulang." Ucap Raffi, Bunga mengangguk, "Aku duluan,"

"Ya hati-hati." Balas Bunga, ia menatap punggung lelaki itu meninggalkannya menjauh.

Bunga tersenyum masam. Sedikit kecewa mungkin. Setelah semua ini yang harus dilakukannya hanya tinggal berfikir positif tentang Raffi. Ini kedua kalinya setelah beberapa bulan mereka berpacaran Raffi mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Tapi yang dilakukan lelaki itu malah meninggalkannya di tengah keramaian ini. Gadis itu merasa sepi bahkan di tempat ramai ini. Menyedihkan!

Impressive Love [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang