"Kadang lisan ku setajam belati, memasuki telinga hingga ke relung hati.
Kata khilaf ku sesering detik jam dinding yang bergerak, hingga dosaku semakin hari semakin terasa berat,
Kadang sikapku mananamkan perih hingga senantiasa membuatmu merintih.
Kadang kesalahanku tak disadari tetapi mampu menggoreskan titik kesebaranmu.
Dari makhluk yang penuh dosa ini ingin sekali mengucapkan
Minal aidzhin wal faidzhin
Mohon maaf lahir dan batin ya, semoga amalan kita di tahun ini diterima oleh Allah SWT."
❤❤❤
Munggaran panggil saja Mung jangan Garan karena menurutnya seperti sebutan garam, gara, galon ntah apalah itu yang jelas dia senangnya di panggil Mung.
Cowok yang suka sekali membuat syair-syair puitis yang bikin semua cewek pengen jadi pacarnya. Tukang PHP sejagat raya, jangan lupa penggemar coklat yang sudah mendapatkan wasiat dari ayah tersayangnya siapa lagi kalo bukan Bapak Iqal.
Jika ada Munggaran jangan lupakan Meyra kembarannya yang beberapa menit lahir setelahnya, Meyra itu lucu suka bikin puisi romantis buat doinya yang gak peka-peka, Meyra itu sayang kakak kembarnya, kalo Mung lagi sedih pasti Meyra bakal ikut sedih juga.
Tapi kali ini kita bakal cerita kelakuan jahil Munggaran yang sedang dalam masa ABG, sejak SMP banyak sekali kejadian Absurd yang dilakukan oleh Munggaran. Hal kocak yang dibuatnya adalah, ketika masa orientasi siswa dia memintak adik kelasnya membuatkan puisi cinta untuknya, mentang-mentang dia ketos jadi jahil tingkat dewa.
"Lo, yang pake kuncir kuda terus bando sapi, rok merah, baju kuning, tolong buatin gue puisi cinta teromantis, nanti pas acara puncak lo bacain di depan semua orang!" perintah Mung membuat orang-orang ketakutan.
Padahal semua orang disana memakai baju seragam yang sama seperti yang dikenakan perempuan itu, tapi tak ada satupun yang memakai bando sapi kecuali satu perempuan--Aren nama gadis itu yang berhasil dijahili oleh sikap Mung.
"Saya kak? " tunjuk Aren pada dirinya sendiri untuk menyakinkan diri sekaligus berharap itu salah.
"Iya kamu! " tegas Mung mulai meninggalkan lapangan basket.
😍😍😍
Sore ini di lapangan basket, tibalah acara puncak yang ditunggu-tunggu setiap orang, semua rasa malu yang ada di dalam benak Aren harus di tepis, rasanya dia ingin berlari saja dan pura-pura pingsan agar tak perlu membacakan barisan puisi alay yang dia karang asal agar menjadi untaian penuh makna.
Satu-persatu rangkaian acara telah dibacakan, hingga tibalah pembacaan puisi cinta dari beberapa junior untuk senior.
Mereka semua telah maju dan yang terakhir adalah Aren. Dari contoh puisi diatasnya banyak sekali sorakan ledekan dari kakak kelas yang membuat nyalinya semakin ciut.
"Kepada saudara yang berbando Sapi, silahkan maju!" teriak Mung menggunakan toa.
Aren berjalan perlahan ke lapangan, dia merutuki kakak seniornya itu yang memanggilnya dengan sebutan bando sapi secara terus-menerus, hal itu membuat Aren disoraki semua peserta Mos dan kakak senior.
"Bando sapi maju!"
"Woi! Yang bando sapi maju! "
"Bodoamat yang bando sapi maju! "
Begitulah teriakan-teriakan tak berdosa orang-orang yang membuat Arin mati kutu.
Aren tahu lelaki yang sedang berada di depannya ini dan tanpa bersalah memanggilnya bando sapi adalah Mung--ketosnya yang sangat amat membuat dia malu.
Memang Mung ganteng, tapi kalo ngeselin tingkat kegantengannya berkurang itulah yang sekarang ditanamkan oleh Arin.
"Cepetan baca puisi cinta teromantis buat gue! " ucap Mung tak sabar.
Aren mulai membuka lipatan kertas yang akan membawanya ke lembah terdalam malu yang tak berujung.
"melihat cahaya senja sore ini, tak bisa mengalahkan betapa manis senyum Kak Mung,
Menatap sore ini dibawah cakrawala jingga bersama Kak Mung seperti waktu ingin ku hentikan sejenak agar senyummu tak terkalahkan oleh sinar senja,
Kerasnya getaran debaran jantungku seirama dengan semberut merah yang kuukir jika berdiri dihadapanmu.
Biarlah sinar jingga hari ini sedikit mendinginkan hatimu yang beku agar mencair lalu lekas memberikan aliran penuh kepadaku.
Senyum mu sore ini telah berhasil meluluhkan hatiku, menenggelamkan imjinasiku tentang cinta yang begitu indah,
Pada semesta aku ucapkan terimakasih. "
Setelah membacakan puisi itu Aren langsung saja berlari, sementara Mung tersenyum senang. Ada sedikit perasaan hangat menjalar dihatinya.
❤❤❤
"Mung, kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi? " tanya Kinar penasaran kepada anak pertamanya itu.
"Lagi mengkhayal jodoh Ma, " jawab Mung girang.
"Ehh, masih kecil udah ngomongin jodoh aja sih Nak?" tegur Kinar yang memang tahu kalo Mung itu suka bercanda sama persis seperti ayahnya.
"Hahahha becanda Ma, lagian serius banget sih mamaku ini, " jawab Mung gemes sendiri.
Tak lama terdengar suara ricuh di dapur.
"Mung, tolong ambiliin handuk Papa di jemuran! " teriak Iqal dari dalam kamar mandi.
Memang tak ada yang berubah dengan kehidupan laki-laki itu setelah memiliki anak, malahan dia mengajari kepada anak-anaknya untuk bersikap jahil. Sampai Kinar bisa pusing sendiri karena bukan hanya satu Iqal sekarang tapi sudah tiga bayangkan betapa repotnya Kinar menghadapi itu semua, tapi Kinar senang dia bisa tertawa setiap hari.
Tak lama ada sebuah suara yang mengagetkan Kinar.
"Ma, tadi Mei beli coklat tapi coklatnya mei buang uangnya mei kasih," terang Mei yang bingung.
"Lah, kok dibuang Nak? " tanya Kinar bingung.
"Mei kira itu oreo Ma, " jelas Mei.
Kinar bingung apa hubungannya Oreo, coklat dan dibuang, tolong bantu Kinar untuk memecahakan misteri di keluarga ini.
😂😂😂
A. n : ini part spesial, ada yang mau enggak baca squel dari Mung atau Meyra?
Gimana ceritanya bagus enggak sih? 😂😂
KAMU SEDANG MEMBACA
Iqal (completed)
General Fiction#Sequel "Pak Imam" :) "Iqal,Umi kan sering bilang kalo udah mandi, itu handuk taro di gantungan jangan di atas kasur,tuh kan ! basah semua." Omel Clara kepada anak sulungnya itu. "Umi cokelat Iqal hilang setengah,siapa yang maling ?"Teriak iqal yang...
