Tubuhku gemetar oleh perasaan tak asing. Sesuatu seperti plastik seolah mengambang di atas kulitku, membuat bulu kudukku berdiri.
Kurasakan tatapan mata Jeonghan dan Jisoo dari cermin tengah, mengadiliku dengan terang-terangan. Karena mereka cukup piawai dalam menebak isi kepalaku, aku yakin mereka sudah mengerti siapa yang baru saja aku hadapi dan apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku saat ini.
Tanganku berkeringat di dalam genggaman mungil Mark. Deretan pohon dan gedung yang bergerak dari balik jendela membuatku mual.
"Kita langsung pulang saja."
"Kau yakin?" Tanya Jisoo dari balik kemudi. Sorot matanya nampak khawatir.
Mark menatapku tak setuju. "Bagaimana dengan es krim nya?"
"Es krimnya kapan-kapan saja, sekarang kita pulang dulu, ya?"
"Papa!!"
Tidak, jangan tatapan itu, kumohon.
"Bocah pintar," kata Jeonghan. "Papa mu sedang tidak enak badan, biarkan dia istirahat. Kau dengar dokter tadi juga kan? kau juga perlu istirahat. Es krim mu tidak akan kemana-mana, oke?"
Kuucapkan terimakasih pada Jeonghan tanpa bersuara.
Mark mengerutkan hidungnya yang mancung. Matanya yang dipicingkan masih menghardikku. Aku tahu dia terlalu pintar untuk luluh pada Jeonghan kali ini.
Kupandangi dia dengan wajah memelas, lantas dia mengalihkan pandangan ke jendela masih sambil memberengut kesal.
.
.
.
Semasa belum memiliki Mark dulu, aku tidak tahu banyak mengenai anak kecil dan cara merawat mereka.
Pengetahuanku satu-satunya hanya mengenai pembuatan susu formula untuk bayi. Kalaupun pernah memikirkan sesuatu tentang bayi, paling banter aku hanya akan punya gambaran mengenai popok dan iler.
Tapi putra ku 6 tahun sekarang. Masa-masa di mana aku sering bangun di tengah malam karena tangisan bermakna "aku lapar", "aku ingin berak", "ups, aku kencing di popok", "aku hanya ingin cari perhatian" telah berlalu. Mark sudah berhenti belajar merangkak, dia sudah berhenti mengeja kata-kata, dia tidak lagi minum susu dari botol. Dia praktis tahu segalanya sekarang.
Dia jago main sepak bola, dia jago berbicara, dia jago menirukan aksi Ultraman ketika menghadapi musuh. Tapi dari semua hal tersebut Mark paling jago mengabaikanku saat sedang marah.
Bocah itu belum juga mengucapkan satu patah katapun padaku sejak pembatalan acara makan es krim.
Biasanya Mark tidak mudah marah hanya karena janjinya tidak ditepati. Namun saat ini, hanya satu janji itulah yang dia inginkan setelah kakinya patah dan turnamen pertamanya hancur. Hanya semangkuk es krim dan aku mengingkarinya.
Mark buru-buru turun dari mobil walaupun jalannya terpincang-pincang dengan tongkat. Kemudian dia masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Dia marah," kataku kepada Jeonghan dan Jisoo.
"Akan kucoba bicara dengannya." Jisoo mengajukan diri lantas pergi.
Jeonghan melirikku dengan canggung. Aku mendapati firasat buruk karena hal tersebut. "Mungkin jika kau memberitahunya--"
"Apa? Tentang apa?! Apa yang harus kukatakan padanya?!"
Bahwa orang asing yang kami temui di rumah sakit tadi adalah ayahnya?
Kucoba untuk menjaga suaraku agar tetap tenang dan menghindari kalimat apapun yang akan menjurus pada seseorang walaupun kami berada di dapur yang jauh dari kamar Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
What If? (JICHEOL)
FanfictionBagaimana jika aku berhasil mencegah Seungcheol malam itu? Bagaimana jika aku menolak untuk menjemputnya? Bagaimana jika aku memberitahunya tentang malam itu? Apakah Seungcheol akan menerimaku dan membatalkan kepergiannya, rencana masa depannya yang...
