S E B E L A S

127 12 0
                                        

"Tidurnya jangan lama lama dong. Emang nggak capek tiduran terus, hemm?"

~Zaynsa Seananda Alvaro

****

Sean mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tidak peduli ia dibanjiri oleh suara klakson dari pengendara lain. Yang ada dipikirinnya saat ini adalah keselamatan Salma.

Gadis itu masih tak sadarkan diri, wajahnya tampak sangat pucat.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 15 menit, Sean langsung memanggil petugas rumah sakit agar Salma segera ditangani.

"Mas nya tunggu sini ya, biar pasien kami tangani" ucap seorang suster.

Sean mengusap wajahnya dengan kasar, ia merutuki kebodohannya yang tak bisa menjaga Salma seperti pesan dari Mama Salma.

"Gue harus hubungin tante Rahma, tapi gue gak ada kontaknya" gumam Sean.

Akhirnya Sean membuka tas yang tadi dibawa Salma untuk mencari ponsel gadis itu, iya yakin gadis itu sudah disekap sebelum sampai ke kelasnya.

Setelah mengotak atik ponsel Salma, Sean pun menghubungi nomor yang diberi nama 'Ibu Negara 😘' ia yakin bahwa itu adalah nomor Mama Salma.

Tuttt... Tuttt...

Hallo Sal

Terdengar suara dari seberang sana.

Hallo Tante, ini Sean

Sean? Salma kenapa, Nak? "

Tanpa ba bi bu lagi, Sean menceritakan semua yang terjadi.

Sekitar 20 menit, Rahma datang sendirian, Sean yakin kalau ayah Salma sedang ada urusan pekerjaan jadi beliau tidak bisa datang. Kedatangan Rahma bertepatan dengan dokter yang keluar dari ruang UGD.

" Keluarga Pasien?" tanya dokter itu.

"Iya saya Mamanya, Dok. Gimana keadaan Salma?" Rahma begitu cemas akan keadaan putrinya.

"Keadaan pasien sedikit buruk. Setelah saya memeriksa pasien, saya menemukan fakta bahwa dia mempunyai riwayat asma dan lemah jantung, dimana asmanya ini sudah sampai di fase yang cukup serius. Apa benar begitu, Bu?" tanya dokter memastikan.

"Iya dokter. Tapi apa dia bisa segera pulih?"

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu pasien"

"Apa boleh kami masuk, Dok?" tanya Rahma

"Silakan, Bu. Kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu lalu beranjak meninggalkan Rahma dan Sean.

Sean yang sedari tadi berdiri menyimak percakapan antara Rahma dan dokter itu pun hanya diam.

Sean pov

Apa gue nggak salah denger? Dokter bilang kalau Salma punya penyakit seserius itu. Apa itu sebabnya daya tahan tubuh Salma berbeda dengan remaja lain?

Gue nggak tau kenapa, hati ini sakit denger itu semua. Rasanya nggak rela ngeliat orang yang kita sayang merasakan beban seberat itu.

Tante Rahma masuk ke ruangan tempat Salma dirawat sekarang, gue juga ikut tante Rahma.

Disana Tante Rahma nangis meluk Salma yang masih belum sadar.
Sakit rasanya liat Salma tertidur lengkap dengan alat bantu rumah sakit.

Gue cuma bisa diem ngeliat itu semua, rasanya pengen gantiin posisi Salma saat ini. Kalau menurut kalian ini terkesan bucin atau lebay itu terserah kalian, tapi menurut gue enggak, perasaan itu muncul secara tiba tiba di hati gue.

Sean pov end

Rahma sudah mulai tenang, ia melihat Sean yang sedari tadi hanya diam, dia mendekat ke arah Sean dan berkata, "Kamu udah tau kan tentang penyakit Salma?"
Sean mengangguk membenarkan.

"Tante mohon, jangan jauhin Salma. Tante bisa liat kalau Salma bahagia dengan kehadiran kamu dihidupnya. Salma jadi lebih ceria setelah kenal kamu. Tante mohon, jaga Salma ya?" air mata Rahma yang tadi sudah berhenti, kini lolos lagi dari matanya.

"Sean janji Tante. Sean nggak akan pergi dari Salma, apapun keadaannya. Karena Sean sayang sama Salma. Sean minta izin untuk selalu jaga Salma, Sean bener bener tulus sama Salma, Tan. Ini janji Sean, bukan hanya rasa kasian atau semacamnya. Perasaan ini murni rasa sayang Sean buat Salma" ucap Sean mantap.

Rahma menahan isaknya, ia pun mengangguk paham sekaligus memberi izin kepada Sean untuk menjaga Salma dan selalu berada dideket Salma.

"Tolong kamu disini dulu jagain Salma ya? Tante mau ambil keperluan Salma dirumah sekalian ngasih tau Papa nya Salma. Papa nya nggak bisa dateng karena dia sedang ada bisnis di luar negeri. Dan ART dirumah juga lagi cuti"

"Iya Tan" Sean mengangguk patuh.

***

Sudah 2 hari semenjak kejadian Salma disekap. Selama itu juga setiap pulang sekolah Sean datang ke Rumah sakit, berharap ketika Salma membuka matanya Sean ada disana menemani Salma.

Selama 2 hari ini Sean juga terus mencari tau siapa dalang dari semua ini, tentu dengan bantuan teman temannya dan juga teman teman Salma.

Sean bersumpah, saat dia tau siapa pelakunya. Ia tidak akan tinggal diam.

Hari ini Sean duduk di kursi dekat Salma yang sedang terbaring lemah dan masih menutup matanya.

Sean meraih tangan Salma dengan kedua tangannya "Salma.."

"..."

tidak ada jawaban, Salma masih setia menutup matanya.

"Tidurnya jangan lama lama dong. Emang nggak capek tiduran terus, hemm?"

"..."

lagi lagi tidak ada jawaban. Sean menarik nafas panjang.

"Sal, lo tau nggak. Adel, Nia, sama Manda kangen sama lo"

"Oh iya, dapet salam dari Agatha. Dia minta maaf karena belum bisa kesini. Bunda aku juga nitip salam buat kamu, Sal. Katanya kalau kamu udah sembuh Bunda pengen ketemu. Pengen liat cantiknya kamu" lanjutnya.

Sean turah berhenti mengajak Salma berdialog, karena dia yakin lama kelamaan tubuh Salma akan merespon.

Tanpa disadari, ada seseorang yang memberhatikan mereka sedari tadi. Seseorang itu hanya tersenyum licik melihat pemandangan dua insan yang menurutnya sangat tidak cocok.

***

Salma... Ayo bangun dong 😔

Kita kangen niii😭

Maaf kalau typo typo

My Sweet Boy (S2 END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang