Hari senin, tepat setelah ujian selesai. Hari di sekolah masih seperti biasa.
Para siswa siswi akan melaksanakan upacara bendera yang selalu diadakan setiap senin.
Alana yang merasa hari ini kurang enak badan, tetap mengikuti upacara.
Ia tak mau Lisya dan Ara mengetahui dirinya sedang sakit.
"Sya, gue ambil barisan belakang aja ya," pinta Alana.
"Kan biasanya lo yang di depan," balas Lisya heran.
"Biar yang lain aja, lo sama Ara di depan aja," ucap Alana.
"Ya udah deh, gue di depan ya," Alana mengangguk.
Alana segera mengambil barisan paling belakang, sedangkan ia sempat melihat Arsen dkk mengambil barisan depan.
Lo harus kuat di depan mereka, batin Alana.
Teriknya matahari membuat siswa siswi mulai merasa kepanasan.
Upacara dilaksanakan dengan khidmat, hingga saat selesai masih ada pengumuman.
Alana terkejut jika pemilik yayasan juga datang, tapi Alana lebih baik menghindar dan menunduk di barisan belakang.
Pusing banget lagi, batin Alana memegang kepalanya.
"Assalamualaikum wr.wb," salam Seraz pada siswa siswi SMA Garuda.
"Waalaikumsalam wr.wb."
"Saya di sini ingin mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas kerja sama kalian, karena telah mengikuti lomba basket maupun olimpiade, saya bangga kepada kalian semua menunjukkan bakat serta minat untuk mengikuti kegiatan tersebut," ucap Seraz.
"Saya telah mendapat laporan bahwa perwakilan dari 11 MIPA 1 yaitu Alana Saraswati dan Arsen Dwi Ardiansyah menjadi kapten basket serta murid olimpiade tahun ini, saya bangga kepada kalian berdua karena telah membanggakan sekolah kita, selamat kalian berdua telah menjadi juara basket serta olimpiade tahun ini," lanjut Seraz.
Prok ... prok ... prok ...
Riuh tepuk tangan menggema di area lapangan, Arsen menanggapi dengan senyuman sedangkan Alana menunduk.
Pintar ya mereka.
Emang selalu membanggakan.
Begitulah bisikan-bisikan dari teman-teman mereka.
"Untuk Arsen dan Alana silahkan kalian berdua maju ke depan."
Arsen maju ke depan sedangkan Alana melewati barisan dari belakang.
Keduanya maju ke depan, Alana yang masih tetap menunduk membuat Arsen heran.
"Selamat untuk kalian berdua," salah satu guru memberikan sebuah piala dan uang dari hasil lomba.
Prok ... prok ... prok ...
Bu Dila memberikan dahulu kepada Arsen, setelah itu kepada Alana.
Bruk.
Saat Bu Dila ingin memberikan piala kepada Alana, Alana mendadak pingsan.
"Alana," samar-samar Alana dengar suara dari Arsen meneriaki namanya.
*
Alana mengerjapkan matanya, pertanda ia sudah sadar.
"Alhamdulillah," Lisya yang melihatnya lega.
"Minum," pinta Alana, hingga Lisya yang tahu segera membantu Alana untuk minum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad-Boy (Complete)
Teen FictionBad-boy? bagi banyak orang dia seseorang yang tampan, playboy, dan tak terlalu pintar tentunya. Namun, bagi Arsen cowok pindahan dari Amerika ini sudah banyak dikenal orang. Tak hanya tampan dia juga dikenal akan kepintarannya. Cupu? orang beranggap...
