Seminggu pernikahan Aldi dan Salsha berjalan dengan baik. Mereka berdua hidup saling melengkapi, hingga tanpa menyangka kehadiran buat hati mereka begitu cepat. Salsha melompat ke pelukan Aldi seperti monyet. Pria itu tersenyum bahagia dan mengecup pipi Salsha beberapa kali.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Makasih sayang" ucap Aldi. Salsha meneteskan air mata bahagianya. Setelah itu, Salsha kembali mendaratkan kakinya ke tanah. Tangannya masih memegang benda pipi dengan dua garis merah itu kini tersenyum sembari menghapus air matanya sendiri.
"Aku gak nyangka secepat ini." gumam Salsha penuh haru.
"Tapi aku gak bisa kasih tau (Namakamu) dulu kak," ujar Salsha melemah. Ia tau, usia pernikahaan (Namakamu) dan Iqbaal lebih lama darinya juga Dinda. Tapi mereka belum mendapatkan keturunan. Tidak enak jika Salsha mengatakan bahwa ia hamil, pasti (Namakamu) akan terpuruk, bukannya senang.
Aldi tersenyum tipis, ia mengangguk. "Doain aja biar (Namakamu) sama Iqbaal juga cepet dapet keturunan."
Salsha mengangguk.
"Ya udah, kamu gapapa kan sendirian? Hati hati ya. Kalau mau aman, ke rumah Dinda aja. Aku ke rumah sakit sekarang" ucap Aldi sembari mengusap rambut Salsha.
"Aku sendiri aja gapapa kok" Salsha tersenyum. Aldi lalu pamit, mencium kening Salsha, perempuan itu juga menyalim tangan Aldi.
***
(Namakamu) sedang menunggu Iqbaal berpakaian. (Namakamu) kini memunggunginya. Wajah (Namakamu) menahan sesuatu. Ia merasa perutnya mual. Seperti hendak mengeluarkan sesuatu dari perutnya.