meet future in-laws

2.4K 365 57
                                        

Happy reading, maaf typo

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jennie termenung dengan kepala yang tersandar di dinding, menatap kosong pada pintu IGD karena rose yang masih ada di dalam sana. Di temani jisoo, Lisa, Irene, dan seulgi yang ikut menunggu.

Jisoo menarik kedua tangan Jennie membuat adiknya itu menoleh.

Ia tersenyum dan membersihkan kedua tangan Jennie yang di penuhi cak darah dengan sapu tangan basah,

"Apa dia akan baik baik saja?"serak Jennie bertanya pada jisoo karena tangisannya baru saja mereda.

Jisoo menoleh dan mengangguk yakin, "dia bukan gadis yang lemah. Dia gadis yang kuat dan pemberani."jawab jisoo menghapus jejak air mata di pipi Jennie.

"Kalian ingin minum sesuatu?" Tanya Lisa dan hanya jisoo yang merespon.

"Belikan saja kami semua teh hangat," Lisa mengangguk senyum pada jisoo.

"Mau aku temani, Lisa?" Sebelum Lisa melangkah, seulgi langsung membuka suara mencegah gadis itu.

Lisa menoleh pada seulgi lalu berganti pada Irene yang tengah bersandar pada bahu seulgi sambil termenung.

"Tidak, kau disini saja." Tolak Lisa tersenyum tipis dan seulgi mengangguk paham.

Setelah kepergiaan Lisa yang ke kantin, mereka semua kembali terdiam.

"Hah~" Jennie menghela nafas kasar dan berdiri dari duduknya.

"Kau ingin kemana?" Tanya jisoo dan Jennie hanya diam, melangkah meninggalkan IGD.

"Jen—"

"Jisoo"

Jisoo menoleh pada Irene yang menahan lengannya tapi tidak menoleh padanya,

"Biarkan saja, dia butuh waktu." Ujar Irene dan jisoo hanya bisa diam menurut dan menyandarkan punggungnya menunggu kehadiran dokter yang masih di dalam IGD.

~~~

Jennie kembali termenung. Duduk di kursi yang di sediakan di taman kecil rumah sakit.

Kejadian tadi masih terbayang di otaknya, rose yang kesakitan, kyungsoo yang tiada dan soomin yang menjadi tidak waras.

Katakan saja, Jennie masih syok dengan kejadian yang tak pernah ia bayangkan sama sekali.

"Anak ayah sedang apa disini?"

Jennie tersentak dan mendongak melihat ayahnya dan ibunya yang menghampirinya.

"A-apa yang kalian—"

"Kedua putri kami disini, apa kami salah berada di sini?" Tanya ibu Kim duduk di samping Jennie.

Jennie membasahi bibir bawahnya dan menggeleng, "aku hanya sedikit terkejut."

"Kau baik baik saja, nak?" Tanya ayah Kim mengusap kepala Jennie dan jennie mengangguk.

"Aku baik baik saja..."

"Berkat kekasihku." Sambungnya dengan nada lirih.

Love In Melbourne✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang