Sejak siang Wulan memasuki kamar barunya dia belum keluar untuk ngobrol bersama anak-anaknya atau berkeliling rumah sekalipun. Dia memilih berdiam diri di ranjang dan akan berpura-pura tidur jika Darsa masuk ke kamar, entah kenapa dia engan keluar dan canggung untuk memulai mendekati anak anak Darsa.
"Mah, bangun, sudah jam empat." Ujar Darsa sembari menggoyangkan lengan sang istri yang ternyata tertidur juga
"Mah, heii.. mamah, ayo bangun sudah sore." Kali ini dia mengusap pipi dan beralih mengusap sudut bibir Wulan, dia ingin sekali mencicipi bibir itu namun dia urungkan, tidak ingin sang istri marah dan semakin menghindari dirinya.
Tidak ada reaksi dari Wulan, dia berfikir bagaimana caranya membangunkan istrinya tanpa harus mengganggu jam tidurnya, namun hari sudah mulai sore, Wulan belum sholat ashar dan membersihkan diri, lagi pula menurut Darsa, istrinya ini sudah terlalu lama tidur siangnya, padahal dia tidak tahu kalau sejak tadi istrinya hanya pura-pura tidur walaupun pada akhirnya ketiduran juga.
"Eunghh.."
"Bangun Mah, sudah sore." Kata Darsa tepat di depan wajah Wulan yang masih mengerjapkan mata, dengan spontan dia mendorong tubuh suaminya yang sore ini sudah terlihat segar dan menggunakan baju Koko serta sarungnya.
"Mau ngapain?"
"Mau ngapain? Dari tadi Ayah bangunin Mama, Mama tidurnya pulas sekali, masih kecapekan ya?" Tanya Darsa dengan panggilan barunya, namun Wulan merasa geli atas panggilan baru itu, terkesan alay baginya
"Ayah- Mama?"
"Iya, kenapa? Dibiasakan dari sekarang panggilnya Ayah-Mama, terlebih didepan anak-anak."
"Nggak, aku nggak mau."
"Kenapa nggak mau?"
"Ya aku nggak mau, apaan sih pakai panggil-panggil gitu. Alay."
"Bukan Alay, tapi karena kamu belum terbiasa jadi terkesan aneh buat kamu. Pokoknya harus dibiasakan kamu panggil aku Ayah, dan aku akan panggil kamu Mama. Ingat, sekarang kamu sudah menjadi istri ku."
"Terus kenapa kalau sudah menjadi istri Anda? Jangan mentang-mentang jadi suami, Anda bersikap semau Anda." Balas Wulan dengan sengit, dan mengubah panggilan Anda pada suami nya yang dianggap seperti orang lain
"Saya punya hak atas kamu, mulai kemarin kamu sudah menjadi milik saya dan sekarang surga mu ada di saya, jangan membantah pada saya jika kamu ingin mencium bau surga." Kata Darsa lalu meninggalkan istrinya yang terdiam menunduk di atas ranjang
Lelaki itu memilih keluar, namun saat akan menutup pintu dia terdiam dan berbalik menatap istrinya, "Saya harap kamu segera menyesuaikan status baru kamu. Segera mandi, sholat ashar dan bergabung di ruang TV bersama anak-anak, boleh kamu ketus dengan Saya, namun jangan dengan anak-anak Saya." Kata Darsa lalu menutup pintu kamar dan Wulan hanya menunduk menatap seprai polos yang lebih menarik penglihatannya dibanding melihat Sang Suami yang keluar.
-°-°-°-°-
"Eh Mbak Wulan, ini aku bawakan sayur, tadi kata Mas Darsa Mbak Yani ijin nggak masuk hari ini, jadi aku sekalian masakkan untuk kalian." Sapa Dania adik Darsa yang sedang mengganti rantangannya yang dia tadi dia bawa ke rumah Masnya
"Mm-Mbak Yani?"
"Iya Mbak, Mbak Yani yang biasa masak dan beres-beres disini. Mas Darsa belum cerita toh?"
Wulan menggeleng dan tersenyum
Bagaimana mau cerita dia saja menghindari suaminya dan lebih banyak diam tanpa mau mengorek-ngorek kehidupan suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Mas Darsa
RomantikCerita ini berbau dewasa (18+) (Duda series kedua setelah cerita Unexpected Love) ***** Wulandari Pramita seorang guru sekolah dasar yang di usia ke dua puluh enam tahun ini belum juga berkeluarga. Kedua orang tuanya sudah tidak tahu lagi bagaimana...
