Pagi hari setelah kejadian semalam Darsa mengeluh kepalanya pening bukan main, namun Wulan sudah terbangun petang tadi untuk pergi ke pasar, karena hari ini sawah Darsa yang digarap oleh suami Dania akan dipanen, jadi mereka akan masak-masak untuk pekerja-pekerja nanti.
"Mamah mana, Mbak?"
"Tadi sih keluar sama Bu Lik Dania, mau ke pasar kayaknya."
"Ayah udah dibikinin kopi belum?"
"Nggak tahu, Mbak belum ke dapur."
"Lihatin gih, kalau belum buatin ya, pusing Ayah."
Anjani menuruti perintah Ayahnya, ternyata Mamanya belum membuatkan kopi, jadi pagi ini dia yang akan membuatkan kopi pagi Ayah nya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsallam, nah Mama baru datang." Gumam Anjani lalu membawa secangkir kopi buat sang Ayah yang memilih tidur lagi di sofa depan televisi
"Ayah mu kenapa tidur disini?" Tanya Wulan melihat Anjani menghampirinya
"Tadi Ayah cari Mama, terus cari kopi, ternyata belum di buatin Mama kopi, terus minta Mbak Jani buatkan."
"Mama kelupaan tadi." Jawab Wulan singkat lalu membawa belanjaannya ke dapur
"Tadi Ayah ngeluh pusing juga, Ma." Kata Anjani mengikuti langkah Wulan ke dapur untuk membantu Mamanya menata belanjaan
"Pusing?"
"Tumben, apa gara-gara semalam ya?"-batin Wulan
"Iyaa Ma, makanya terus cari kopi."
"Ya sudah, biar tiduran dulu, nanti kalau udah mendingan juga bangun." Kata Wulan lalu berjalan ke kamar untuk berganti baju dan memulai masak bersama iparnya beserta Mbak Yani, ART yang sudah mengabdi bertahun-tahun di rumah suaminya
-°-°-°-°-°-
"Mahhh, Mamah." Panggil Darsa berjalan ke dapur mencari Wulan
"Ck, apa sih teriak-teriak muluk." Batin Wulan, sebenarnya dia masih malu kalau dipanggil Mama di depan orang lain selain suaminya sendiri dan anak anak
"Mah, dipanggil dari tadi juga." Ujar Darsa melihat sang istri masih sibuk mengiris bawang merah tanpa menghiraukan panggilannya, sedangkan Dania dan Yani menyiapkan telinga untuk mendengar interaksi penganten baru yang masih agak malu malu sepertinya
"Mah."
"Hmm"
"Kopi Ayah mana? Dari pagi belum dibuatkan kopi lho."
"Lha tadi udah dibuatkan Mbak Anjani gitu."
"Mana?"
"Di meja." Jawab Wulan singkat tanpa memandang suaminya, melirik pun enggan
"Tuh tinggal ampasnya aja, kok disuguhinke Ayah." Jawab Darsa lalu membuka kulkas mencari air dingin untuk membasahi tenggorokannya
"Diminum Adek mungkin, Pak." Sahut Yani, yang sudah mengetahui kebiasaan- kebiasaan kecil di keluarga Darsa, tidak jarang Rama anak lelaki Darsa itu menghabiskan kopi sang Ayah yang belum diminum sama sekali setiap paginya
"Iyaa mungkin, Rama kan tadi kesini bareng aku." Kata Dania
"Yawes, buatkan lagi Mah, bawa ke kamar. Mau mandi dulu, Ayah." Perintah Darsa lalu meninggalkan dapur tanpa menunggu jawaban dari sang istri
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Mas Darsa
RomansaCerita ini berbau dewasa (18+) (Duda series kedua setelah cerita Unexpected Love) ***** Wulandari Pramita seorang guru sekolah dasar yang di usia ke dua puluh enam tahun ini belum juga berkeluarga. Kedua orang tuanya sudah tidak tahu lagi bagaimana...
