Meanwhile Singto with Mild.
"Kak! Emangnya Tay kemana sih? Kok dia gk bilang gue?" tubuh Mild mondar mandir sofa-ruang makan. Singto yang tengah terduduk di sofa pusing melihat Mild yang terus bolak balik.
"Saya gk bisa ngasih tau anda" jawab Singto, Mild memberikan tatapan sinisnya pada Singto.
"Gue mau ketemu New, lo anterin gue ke rumahnya ya?" pinta Mild, Singto menggeleng
"Lebih baik anda minta izin dulu pada Tawan" ujar Singto, Mild menghempaskan nafasnya kasar
"Mau kemana lo?" tanya Mild saat melihat Singto yang hendak membuka pintu keluar
"Ada telepon mendesak, saya akan menjawabnya diluar" jawab Singto.
Singto bergegas meninggalkan hotel tersebut, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata.
Singto pun sampai dimension milik papahnya, dimana ia menaruh kekasihnya didalam mension tersebut.
Ia berlari memasuki mension nya, para pelayan menunduk seperti memberi hormat kepada Singto.
Kakinya berjalan cepat menuju kamar utama, yaitu kamar kekasihnya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Singto pada dr.Neen yang sudah 2tahun menjadi Dokter pribadu kekasihnya
"Tadi ibu Maryska melihat jari Tuan muda Krist bergerak, Tuan muda Krist sudah siuman dari beberapa menit yang lalu" ujar dr.Neen, wajah Singto sedikit tersenyum, syukurlah kekasihnya sudah siuman saat ini.
"Baby, saya ber terimakasih sekali pada Tuhan, karena nya kamu masih hidup sampai sekarang sayang" Singto mendekat kearah Krist, ia menggenggam jari jemari Krist.
"Kau bisa pergi" ucap Singto, Neen mengangguk.
Tidak. Neen tidak pergi kemanapun, karena pekerjaan nya disini, di Mension ini yaitu menjadi dokter pribadi seorang Krist Perawat.
Neen memasuki kamarnya yang bernuansa merah muda, ia membuka tirai jendela nya agar cahaya matahari dapat menerangi isi kamarnya.
o0o
Singto terduduk diranjang sebelah kekasihnya, ia masih menatap kekasihnya yang sedang tertidur, perasaan senang itupun merasuki dirinya.
Singto masih menggenggam jari jemari Krist, dan beberapa kali memberi ciuman hangat pada jidat Krist.
"I miss you, Kit" ucapnya pelan.
Singto bergerak pelan menuruni ranjang kekasihnya, ia berjalan keluar meninggalkan kamar kekasihnya, dirinya masih terbawa suasana senang, Singto berjalan kearah kamar nya, ia duduk diatas ranjang tidurnya, dan mengganti pakaian nya.
Tok tok tok...
Singto hanya butuh menekan tombol open door yang tertempel pada tembok kamarnya, dan pintu kamarnya akan terbuka dan tertutup otomatis.
"Permisi Tuan Singto... Tuan muda Krist sudah terbangun dari tidurnya" ucap ibu Maryska
Singto yang mendengarnya pun membulatkan matanya, ia berlari kecil memasuki Lift dan menghampiri kamar Krist
"Krist, i miss you baby" Singto segera memeluk Krist, 2menit pelukan itu berlangsung namun tidak ada jawaban dari Krist
Krist hanya diam mematung saat tubuhnya dipeluk oleh Singto
"What's wrong baby?" tanya Singto, Krist menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal
"Who a-are you?" tanya Krist
Degg
Jantung Singto seperti ingin copot mendengar kekasihnya berbicara seperti itu, apakah Krist melupakan dirinya?
"I'm your boyfriend Kit, kamu lupa sama saya?" Singto memegang pundak Krist, lagi lagi Krist menggaruk kepalanya
"Kita kenal?"
Singto menoleh kearah Neen yang ikut terdiam mendengar jawaban Krist, dengan cepat Neen mencoba memeriksa Krist kembali.
"Bagaimana?" tanya Singto yang tidak sabaran, wajahnya berubah menjadi sangat cemas
"Sepertinya Tuan muda Krist mengalami Amnesia karena benturan yang sangat kencang mengenai kepalanya saat kecelakaan pada saat itu" tutur Neen, Singto meremas kening nya, kepalanya sedikit pusing, wajagnya pun ikut semakin cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Attachment Disorder (End)
Não Ficção'You can be afraid of anyone, but not me' -Tay tawan vihokratana 'You are only obsessed with my body but not with my heart' -New thitipoom techaapaikhun ❌DON'T COPY MY STORY❌ •Di edit jika udah selesai, mohon maaf kalau banyak Typo bersebaran...
