Aero membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Jam menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Rumah besar bergaya mediterania itu terlihat sepi dan gelap saat Aero masuk karena sebagian besar lampu sudah dimatikan.
Setelah mengantar Kaelyn pulang tadi sore, Aero tidak langsung kembali ke rumahnya. Laki-laki tampan itu memilih untuk keliling ibukota sampai ia merasa bosan hingga akhirnya berkunjung ke apartemen Abi. Pikirannya sedang kacau. Ia tidak bisa kembali ke rumah dengan kondisi seperti itu. Ia butuh refreshing setidaknya sedikit ampuh menghibur dirinya.
"Darimana kamu?" Aero tersentak kaget ketika suara sang ayah tiba-tiba menusuk gendang telinganya. Aero menoleh cepat ke arah ruang tamu. Ternyata Liam sedang duduk di salah satu sofa single dengan buku di tangannya.
"Aku capek, Pop. Mau istirahat."
"Aero! Pop nanya sama kamu, darimana? Kenapa baru pulang jam segini?" Suara Liam terdengar keras dan penuh penekanan, pertanda ia tidak suka diabaikan oleh anak sulungnya. Laki-laki itu meletakkan bukunya di atas meja, lalu mendekati Aero yang berdiri cuek.
"Cuma putar-putar Jakarta terus ke apartemen Abi. Aku suntuk," jawab Aero malas-malasan. Ia tidak memandang ayahnya sama sekali saat berbicara. Ia malah melempar pandangannya ke arah guci yang ada di dekat tangga.
"Kapan Pop ngajarin kamu nggak sopan kayak gini? Lihat lawan bicara kamu kalau kamu lagi ngomong!" Aero mengepalkan tangannya kuat. Berusaha meredam emosi kepada ayahnya sendiri.
"Pop, please, biarin aku istirahat. Aku capek. Aku lagi nggak mau debat."
"Pop nggak suka sama perilaku kamu ke Mom kamu. Sejak awal kalian ketemu sampai tadi, kamu mengabaikannya seolah dia hanya angin lewat. Pop udah nahan buat nggak ngomong gini karena Pop ngerti apa yang kamu rasain. Tapi makin kesini, Pop nggak bisa liat ketidak sopanan kamu sama ibu kamu sendiri!"
"Pop stop! Aku capek dan aku nggak mau bahas apapun apalagi tentang Mom. I'm done with this." Aero meninggalkan ayahnya begitu saja. Langkah kakinya makin cepat menyusuri tangga seiring dengan teriakan Liam yang memanggilnya. Aero tidak peduli sama sekali. Telinganya seolah tuli dari teriakan Liam.
Saat Aero hendak memutar gagang pintu kamarnya, Aero tiba-tiba teringat sesuatu. Ia segera balik badan lalu menuju kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.
Perlahan Aero memutar gagang dari pintu berwarna putih yang dibagian atasnya terpaku tulisan Aerilyn's room. Ya, Aero memasuki kamar adik kecilnya. Aero ingin melihat kondisi adiknya karena sebelum ia pergi tadi Aerilyn terlihat kaget dengan kepergiannya yang tiba-tiba tanpa pamit.
Aero tersenyum samar ketika mendapati adiknya yang sudah tertidur lelap bersama kedua bonekanya. Selimut bermotif kotak-kotak menyelimuti setengah tubuh kecil itu. Aero memperbaiki posisi selimut Aerilyn hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala.
"Maaf kalau Kakak bikin kamu bingung, Princess. Kakak nggak tahu harus bagaimana menghadapinya. Kakak nggak bisa nerima wanita itu lagi di kehidupan kita." Aero mengelus pelan puncak kepala Aerilyn lalu mengecup keningnya lama. Aerilyn sempat menggeliat kecil namun kembali tertidur.
"Have a nice dream my Little Princess. I love you so much."
Aero menghela napasnya berat, lalu beranjak dari sana. Ia kembali menoleh sebentar ke arah Aerilyn sebelum menutup pintu kamar gadis kecil itu dengan pelan.
"You really love her." Aero terperanjat kaget, lagi, karena suara Liam yang tiba-tiba muncul. Ini sudah kedua kalinya Liam muncul tanpa aba-aba dan membuat laki-laki itu hampir saja terkena serangan jantung mendadak.
"Berhenti muncul tiba-tiba seperti itu, Pop. That was so scared."
"I'm sorry. I didn't mean it. Pop dari tadi perhatiin perilaku kamu ke adik kamu. Senang melihat kamu begitu menyayanginya," kata Liam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare
RomanceAmare (n.) A feeling of deep romantic or sexual attachment to someone. Cinta itu aneh. Kamu tidak tahu apa alasannya muncul atau menghilang. Kamu juga tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Semua yang dilakukan cinta padamu adalah kejutan y...
