"Sekali lagi gue ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk semua panitia yang udah kerja keras sehingga S3 kita sukses besar. Tanpa kerja keras serta team work kita, S3 nggak bakal mungkin bisa sesukses ini. Gue juga mau nyampein maaf dan terima kasih dari Revan untuk kita semua. Sayang banget sampai evaluasi S3, Revan masih belum bisa gabung sama kita karena dia masih dirawat. Semoga proker kita ini terus berjalan di periode-periode selanjutnya dan kerjasama dengan FEB tetap terjalin. Sekian evaluasi kita pada hari ini. Setelah ini bisa langsung bubar. You did a great job, guys!"
Kaelyn menutup rapat evaluasi S3 yang disambut dengan tepuk tangan riuh semua panitia. Evaluasi kegiatan sudah mereka lakukan selama dua jam dengan beberapa catatan dan perbaikan yang bisa dijadikan pedoman untuk kegiatan S3 selanjutnya agar lebih baik lagi. Akhirnya, salah satu dari dua proker besar milik Pengmas sudah dilaksanakan dengan sangat baik. Kaelyn tinggal fokus pada Baksos dan satu kali lagi donor darah bersama PMI di lingkungan FKG.
"Tinggal Baksos ya, Kae." Haikal menghampiri Kaelyn yang sedang memasukkan buku catatannya ke dalam tas. Catatannya tidak boleh hilang karena akan ia beri ke sekretaris S3 untuk di-input ke LPJ S3 nantinya.
"Iya. Gue bisa fokus kesana. Mulai minggu depan panitia Baksos udah mulai kerja. Gue mau survey beberapa kawasan kumuh yang berkemungkinan bisa kita jadiin lokasi Baksos. Lo mau ikut?"
"Kasih tau aja gue kapan jadwalnya. Gue pasti ikut. Sesuai janji gue pas minta lo untuk jadi kadept Pengmas, gue pasti bantu lo ngerjain proker."
"Kalau sibuk nggak usah terlalu maksain, Kal. Sejauh ini lo udah banyak bantuin gue, nggak biarin gue sendirian jalanin proker. Thank you bapak Gubernur." Kaelyn menepuk pelan pundak Haikal yang dibalas kekehan oleh laki-laki.
"Kalau gitu gue duluan ya. Lo kayaknya masih ada keperluan," pamit Haikal dengan senyum misterius. Kaelyn mengernyit heran.
"Keperluan apa? Gue juga mau pulang."
"You will know. Bye, Kaelyn." Haikal melambaikan tangannya sebelum beranjak meninggalkan Kaelyn. Kaelyn memikirkan sebentar ucapan Haikal, takutnya ia melupakan sesuatu. Tapi selama beberapa menit ia berpikir, Kaelyn tidak mengingat apapun. Kegiatannya sudah kosong seingatnya. Apa iya dia melupakan sesuatu?
"Kae."
Aero tiba-tiba muncul dihadapan Kaelyn. Laki-laki itu berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Hai, Ro. Belum pulang?"
"Bisa kita ngomong bentar?" Aero menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laki-laki itu terlihat gugup.
"Ngomong apa, Ro? Sini duduk dulu." Kaelyn menepuk kursi disebelahnya, isyarat agar Aero duduk disana.
"Di tempat lain boleh? Yang lebih privasi. Ini penting banget," harap Aero. Kaelyn mulai bingung melihat gelagat aneh laki-laki dihadapannya itu. Aero tidak terlihat seperti biasanya. Apakah laki-laki itu sedang dalam masalah?
"Are you okay? Lagi ada masalah?"
"Ikut gue dan lo bakal tahu. Mau?" Sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Kaelyn selain menuruti keinginan Aero. Kaelyn mengangguk singkat yang membuat senyum kecil Aero terlukis di wajah tampannya.
Aero menggandeng tangan Kaelyn menuju taman belakang FKG. Suasana kampus sudah mulai sepi karena jam operasional kampus sudah selesai sejak satu setengah jam yang lalu. Kaelyn jadi bertanya-tanya apa yang ingin Aero bicarakan hingga harus membawanya ke taman belakang FKG yang jarang dikunjungi itu.
Sesampainya mereka disana, Kaelyn terperangah melihat taman yang biasanya tidak terlalu diurus itu terlihat rapi dan indah. Ada satu kursi panjang dibawah pohon rindang yang sudah dihias sedemikian rupa. Aero menarik Kaelyn kearah kursi tersebut lalu mengajak Kaelyn duduk disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare
RomansaAmare (n.) A feeling of deep romantic or sexual attachment to someone. Cinta itu aneh. Kamu tidak tahu apa alasannya muncul atau menghilang. Kamu juga tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Semua yang dilakukan cinta padamu adalah kejutan y...
