Malam ini tak ingin aku sendiri
Kucari damai bersama bayanganmu
Hangat pelukan yang masih kurasa
Kau kasih kau sayang
(Dian Piesesha - Tak Ingin Sendiri)
***
Kaelyn baru saja keluar dari kelas manajemen kesehatan. Ia terburu-buru menuju ruang dosen karena ada janji bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Kaelyn sudah berada di penghujung semester tujuh. Ia harus rajin bimbingan dan giat mengerjakan skripsi jika ingin lulus di semester delapan.
Kaelyn membuka pintu ruangan dosen dengan sopan dan mengucapkan salam. Ia menyapa beberapa dosen sebelum menuju kubikel dosen pembimbingnya.
"Permisi, Dok," kata Kaelyn sopan. Dosen pembimbing Kaelyn yang sedang membaca mengalihkan pandangannya pada Kaelyn.
"Silahkan duduk, Kaelyn." Kaelyn duduk di hadapan dosennya dengan jantung berdebar. Ia berharap tidak banyak revisi sehingga ia bisa maju mengerjakan bab selanjutnya. "Saya udah baca bab dua kamu. Secara keseluruhan udah bagus. Tapi ada beberapa bagian yang menurut saya kurang dalam penjelasannya. Saya udah tandai bagian yang harus kamu perbaiki dan ada penjelasannya di sana. Oh ya, coba kamu periksa lagi beberapa bagian yang saya tandai dengan pena warna hitam, apakah itu sudah referensi terbaru atau masih yang lama. Saya agak ragu soalnya."
Kaelyn memerhatikan dengan cermat apa yang dikatakan dosennya. Ia mencatat semua yang dikatakan oleh dosennya, bagian mana yang ia harus perbaiki. Jika tidak mengerti, ia akan bertanya. Sekitar tiga puluh menit Kaelyn menghabiskan waktu untuk bimbingan.
"Kamu bisa lanjut bab tiga. Minggu depan liatin ke saya revisi bab dua sama bab tiga kamu. Kalau kamu bagus terus kayak gini, awal semester depan kamu udah bisa seminar proposal," kata Dosen tersebut mengakhiri bimbingan skripsi. Kaelyn mengangguk lalu berterima kasih sebelum beranjak pergi dengan memeluk kertas revisian skripsinya. Senyum Kaelyn terkembang lebar meskipun harus kembali revisian. Setidaknya ia bisa lanjut ke bab selanjutnya, tidak stuck di bab dua terus.
"Lebar amat senyumnya. Udah mau maju sempro, ya, lo?" Kaelyn bertemu Haikal di depan ruang dosen. Sepertinya laki-laki itu juga baru siap bimbingan. Terlihat dari tumpukan kertas dengan berbagai coretan di tangannya.
"Aamiin, tapi ini aja masih bab dua. Abis bimbingan juga lo?"
"Iya. Sumpah, sakit banget kepala gue bikin bab satu. Ada aja yang kurang di latar belakang gue. Gue perbaiki yang A, terus yang B salah. Udah gue perbaiki yang B, eh yang C juga. Kalau satu-satu gini perbaikannya, kapan gue bisa kelar?" erang Haikal frustasi. Haikal mendapat dosen pembimbing yang perfeksionis sehingga laki-laki itu sering bolak-balik revisi.
"Yang paling penting di latar belakang itu kenapa lo tertarik ngangkat judul itu jadi penelitian dan apa perbedaan penelitian lo sama penelitian lainnya. Yang lain nambah-nambah dikit doang."
"Udah gue bikin sesuai yang lo bilang minggu kemarin. Tapi masih aja kurang menurut beliau."
"Ya udah. Besok kita kerjain skripsi bareng, yuk? Biar bisa saling diskusi. Gue mumet kalau bikin sendirian di rumah," ajak Kaelyn. Haikal mengangguk semangat dengan mata berbinar.
"Tuhan emang baik banget sama gue. Di balik kesulitan gue dapat dospem yang perfeksionis, ada teman pintar, baik hati, dan nggak pelit ilmu yang mau bantu gue," puji Haikal berlebihan. Kaelyn tergelak lalu mendorong bahu laki-laki itu.
"Ada maunya manis banget lo."
"Kalau gitu gue cabut duluan, ya, Kae. Besok chat aja gue mau bikin di mana. Gue ke parkiran dulu, udah ditunggu Aero ... sorry, Kae." Haikal buru-buru menutup mulutnya yang lancang menyebut nama Aero. Ia tahu, Aero merupakan topik yang sangat sensitif bagi Kaelyn.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare
RomanceAmare (n.) A feeling of deep romantic or sexual attachment to someone. Cinta itu aneh. Kamu tidak tahu apa alasannya muncul atau menghilang. Kamu juga tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Semua yang dilakukan cinta padamu adalah kejutan y...
