Tiga Puluh Sembilan

279 22 0
                                        

Kaelyn mengembuskan napasnya pelan. Ia berusaha menenangkan dirinya yang gugup. Hari ini merupakan hari besar bagi seluruh panitia Baksos, terlebih bagi dirinya sendiri. Kegiatan bakti sosial merupakan proker paling besar dan paling berat yang Kaelyn tanggung sebagai kepala departemen pengabdian masyarakat. Dan hari ini, kegiatan tersebut akan dilaksanakan.

Sejak selesai salat subuh, Kaelyn dan panitia lainnya sudah berkumpul di kampus. Mereka akan pergi bersama-sama menuju lokasi Baksos dengan bus milik kampus. Akan ada beberapa panitia yang tinggal nantinya. Mereka yang tinggal ditugaskan menunggu para dosen dan berangkat ke lokasi Baksos bersama dosen.

"Kae, semua panitia udah hadir. Kita mulai briefing-nya?" tanya Genta. Laki-laki itu menyandang tali toa di bahu kanannya dan tangan kanannya memegang mic toa tersebut.

"Iya. Lo suruh mereka bikin barisan dulu, Gen. Kalau bisa, sesuai stase kerja mereka nantinya. Biar kita gampang nge-briefing perstase," perintah Kaelyn. Genta mengangguk lalu mulai menggunakan toanya untuk mengumpulkan semua panitia.

Selagi Genta melakukan tugasnya, Kaelyn menyalakan ponselnya. Jarinya membuka aplikasi imessage lalu mengetik pesan pada seseorang.

Kaelyn
Ro, hari ini Baksos diadain.
Doain, ya, semoga acara kami lancar.
Aku gugup banget tapi aku yakin semua akan berjalan dengan semestinya.
Marahnya jangan lama-lama.
Nggak ada yang nyemangatin aku☹️

Ya, Kaelyn mengirim pesan pada Aero. Meskipun sampai sekarang mereka masih saling menjaga jarak, Kaelyn tidak bisa untuk tidak mengirimkan pesan tersebut pada Aero. Selama ini, Aero lah yang memberinya dukungan serta meyakinkannya bahwa ia bisa. Ia berharap, meskipun Aero masih marah, Aero mau memberikan semangat padanya hari ini. Seperti yang biasa dilakukan laki-laki itu padanya. Kaelyn sangat butuh semangat dari laki-laki itu hari ini.

Sayangnya, sampai Kaelyn memasuki bus dan bus tersebut akan berangkat, tidak ada tanda-tanda balasan pesan dari Aero. Wajah Kaelyn meredup sebentar. Ia kecewa namun tidak bisa marah. Salahnya sehingga memberi semangat padanya saja Aero enggan.

"Lo kenapa, Kae?"

Kaelyn tersentak saat Elisa menyenggol tangannya pelan. Ia buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia tidak ingin ketahuan sedang memikirkan Aero. Elisa tidak tahu jika saat ini ia dan Aero sedang berjarak. Beberapa hari yang lalu Elisa bertanya bagaimana hubungannya dan Aero, Kaelyn berbohong mengatakan mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Nggak papa," geleng Kaelyn.

"Lo yakin?"

"Iya, Lis. Gue baik-baik aja. Cuma agak gugup," kata Kaelyn setengah berbohong.

"Lo tenang aja. Gue yakin Baksos kita bakal lancar, kok. Semua panitia udah bekerja keras beberapa bulan ini dengan waktu persiapan yang mepet. We can through this together."

***

Semua panitia langsung menuju stase masing-masing begitu mereka sampai di lokasi Baksos. Baksos diadakan di SD yang kebetulan berada di tengah-tengah kawasan kumuh tersebut. Sehari sebelum Baksos diadakan, panitia sudah menempel label di jendela masing-masing kelas, sehingga memudahkan panitia mengetahui kelas tersebut merupakan ruangan apa.

Panitia juga sudah melakukan door to door dua hari yang lalu. Door to door adalah suatu kegiatan di mana semua panitia dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan mereka akan berkunjung ke setiap rumah warga untuk memberi edukasi sekaligus mempromosikan kegiatan Baksos yang akan dilaksanakan. Melalui kegiatan tersebut, mereka bisa melatih soft skill mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat yang nantinya akan sangat berguna ketika mereka menjadi seorang dokter gigi.

AmareTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang